13 Kutipan yang Membuktikan Kenapa The Art of War Masih Sangat Berguna untuk Kehidupan Kita Sekarang

“Lho, zaman sekarang kan sudah jarang terjadi peperangan. Kenapa risalah kuno kayak gitu masih dianggap relevan? Lagian zaman sekarang peperangan kan nggak pakai tombak dan pedang!?”

Sun Tzu/via jamesclear.com

Pada intinya The Art of War memang menjelaskan dasar-dasar strategi peperangan. Tapi buku ini kaya akan kata-kata bijak dan petunjuk bagi mereka yang ‘berperang’ di berbagai aspek kehidupan. Misalnya seperti menyusun strategi bisnis, persaingan dagang, atau sekadar meningkatkan kualitas diri bagi setiap individu.

Saya pernah mendengar seseorang berkata, “Salah satu cara untuk mengukur kehebatan suatu karya adalah dengan memerhatikan, apakah karya tersebut mampu bertahan hingga puluhan atau ratusan tahun ke depan?”

Sekarang kamu bayangkan, The Art of War tak hanya bisa bertahan hingga ratusan tahun. Bahkan setelah karya tersebut berumur lebih dari 2000 tahun, The Art of War bukan hanya masih dilahap oleh banyak orang sebagai bahan bacaan, tapi juga dijadikan panduan untuk menjalani hidup. Kamu yang pernah baca beberapa kutipan Sun Tzu pasti setuju kalau tulisan-tulisannya sangat erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Kata-katanya yang puitis juga jadi faktor mengapa risalah kuno The Art of War banyak disukai.

Untuk bukti lebih lanjutnya, coba kita telaah beberapa kutipan singkat dari The Art of War.

1. “Seorang pemenang haruslah menang terlebih dahulu, sebelum pergi ke medan perang; sementara pecundang pergi ke medang perang terlebih dahulu, lalu mencari cara untuk menang.”

Maksudnya mungkin seorang jenderal perang harus mempunyai rencana yang solid sebelum dia terjun memimpin pasukannya dalam peperangan. Atau barangkali Sun Tzu menyarankan agar kita tak usah terjun ke medan perang yang kita sendiri tak yakin bisa memenanginya.

Relevansinya di zaman sekarang:

Jika kita ingin melaksanakan sesuatu (mendirikan bisnis atau usaha), sebaiknya kita sudah menyusun strategi bisnis terlebih dahulu. Jangan sampai kita baru menyusun rencana dasar secara mendadak, dan akhirnya malah kelimpungan di tengah jalan.

2. “Biarkan rencanamu tersembunyi dalam gelap dan tak tertembus layaknya malam. Dan saat kau memutuskan untuk bergerak, terjunlah bagai petir yang menyambar.”

via flickr.com

Relevansinya di zaman sekarang:

Jangan biarkan orang lain mengetahui rencana yang telah kau susun, karena tak semua orang itu bisa dipercaya. Hanya beri tahu mereka yang benar-benar bisa dipercaya. Dan jika waktunya telah tiba untuk mempraktikkan rencanamu, lakukan secara cepat sehingga pesaing (bisnis) tak akan menyadari apa yang kau lakukan.

3. “Bahkan pedang terbaik yang ada di muka bumi ini lama-lama akan berkarat jika terus berada dalam air garam.”

Relevansinya di zaman sekarang:

Talenta yang kau miliki akan terbuang sia-sia, jika selama ini kau terus berdiam diri di tempat (kerja) yang salah.

4. “Mengatur orang banyak sama saja dengan mengatur sedikit orang. Itu semua hanya masalah pengorganisasian.”

Relevansinya di zaman sekarang:

Jumlah bukanlah hal yang penting dalam mengatur sesuatu; yang penting itu adalah bagaimana caramu dalam mengorganisir. Seperti mengatur pegawai atau mengatur pengeluaran dana misalnya.

5. “Dia yang bijaksana dan sabar menunggu musuh yang tak sabaran akan muncul sebagai pemenang.”

via scmp.com

Relevansinya di zaman sekarang:

Janganlah mengambil keputusan yang dipikirkan dalam kondisi terburu-buru.

6. “Salah satu tanda dari prajurit yang hebat itu adalah dia berperang dengan tujuannya sendiri, atau dia lebih memilih untuk tidak berperang sama sekali.”

Relevansinya di zaman sekarang:

Dalam menjalani hidup, kita harus mempunyai ambisi. Hidup tanpa ambisi bukanlah hidup yang layak dijalani.

7. “Seorang pemimpin sejati memerintah dengan memberi contoh, bukan dengan paksaan.”

Relevansinya di zaman sekarang:

Jadilah pemimpin sejati yang bisa memberi teladan dan contoh nyata bagi anak buah. Bukan hanya sebagai orang yang pintar menyuruh.

8. “Meraih seratus kemenangan dalam seratus peperangan bukanlah puncak kemampuan berperang. Puncaknya yakni saat kau bisa menundukkan musuh tanpa harus berperang.”

Contoh dalam kehidupan nyata:

Daripada bersaing dengan Instagram, Facebook memutuskan untuk membeli kepemilikan Instagram. Dalam kasus ini Facebook bisa memenangkan peperangan tanpa harus ‘berperang’ langsung dengan Instagram.

9. “Kenali musuh dan kenali diri sendiri, maka engkau tak perlu mengkhawatirkan hasil dari ratusan peperangan.”

Relevansinya di zaman sekarang:

Untuk dapat memenangkan persaingan, seseorang harus mengenali betul kelebihan dan kekurangan pesaingnya. Pun dia harus bisa mengenali kelebihan dan kekurangan yang ada pada dirinya sendiri. Terjun ke dunia bisnis tanpa persiapan, sama saja dengan langkah awal untuk menghancurkan usaha kamu sendiri.

10. “Untuk mengenali musuh, kau harus menjadi musuhmu sendiri.”

Mungkin maksudnya, untuk dapat memahami apa yang dipikirkan pesaingmu, cobalah melihat dunia dari sudut pandang mereka.

11. “Jika kau mengenali musuh dan mengenali diri sendiri, kemenangan hanya tinggal menunggu waktu; jika kau mengenali langit dan bumi, kau akan meraih kemenangan total.”

via imperialglobalexeter.com

Di zaman dulu, jenderal perang yang hebat harus bisa mempelajari kondisi geografi dan astronomi untuk menyusun strategi perang.

Relevansinya di zaman sekarang:

Mengenali kelebihan dan kekurangan pesaing dan diri sendiri tidaklah cukup. Seseorang harus bisa mengenali kondisi sekitarnya (iklim usaha, situasi pasar) untuk meramu strategi bisnis yang tepat.

12. “Dia yang berniat untuk berperang harus berani menghitung korban jiwa dari peperangan terlebih dahulu.”

Relevansinya di zaman sekarang:

Dia yang memutuskan untuk terjun dalam dunia bisnis harus mengantisipasi untung dan rugi sebelum benar-benar terjun ke dalamnya.

13. “Dia yang tahu kapan harus berperang dan kapan harus mundur akan keluar sebagai pemenang.”

Jenderal perang yang hebat tak hanya tahu cara menyerang. Dia juga harus menyadari kelemahan pasukannya dan situasi yang tak menguntungkan. Mengomandoi pasukan untuk mundur teratur, sebelum melancarkan serangan balasan di kemudian hari pun membutuhkan kemampuan mumpuni dari seorang pemimpin yang hebat.

Relevansinya di zaman sekarang:

Orang yang bijak tak akan bertindak gegabah dengan terus-menerus menerapkan kebijakan ofensif. Dia harus menyadari jika situasi sekitarnya sedang berada dalam kondisi yang kurang menguntungkan.

Penjelasan atas kutipan-kutipan di atas sebenarnya cuma interpretasi pribadi. Jadi jika kamu punya interpretasi berbeda, jangan sungkan buat menyanggah interpretasi saya ya.