4 Karakter dalam Film Adaptasi Populer Ini Punya Perbedaan 180 Derajat dari Versi Novelnya, Lebih Keren atau…?

“Apa-apaan ini!?” kamu berteriak protes saat dulu pertama kali nonton Harry Potter di bioskop. “Harry Potter itu harusnya pakai kacamata hitam, bukan kacamata yang harganya sepuluh rebuan kayak gitu! Terus mana itu bulu dadanya? Harry Potter itu harusnya punya bulu dada lebat nan seksi, kayak Inspektur Vijay di film India!”

Perbedaan antara film dan buku yang dijadikan sumber adaptasi itu sebenarnya sudah lumrah terjadi. Tapi ada kalanya perbedaan tersebut mencapai titik ekstrem; saking berbedanya, mungkin kamu bakal merasa sutradara film merombak total si karakter fiksi tersebut. Seperti 5 karakter dalam film populer ini contohnya.

1. Di novelnya, Gandalf itu nggak punya kelamin…

Wait, whaaat? Hey, Gandalf, duuuude! Bener tuh gosipnya?” — “Mau lihat bukti langsungnya?”/via iliketowastemytime.com

Kaget mendengarnya? Ya, ya… saya tahu perasaan kamu. Bagi mereka yang pernah membaca novel karya Tolkien pasti nggak merasa aneh ketika mendengarnya. Tapi bagi mereka yang sukanya membaca novel erotis karya Enny Arrow (termasuk saya), mereka pasti bertanya-tanya: “Jadi siapa Gandalf itu sebenarnya?”

Begini, jika diperhatikan secara sekilas, Sembilan Orang Pembawa Cincin adalah kumpulan manusia tulen. Tapi sebetulnya dugaan seperti itu salah. Mereka nyatanya berasal dari ras yang berbeda-beda. Contohnya ada yang berasal dari ras manusia, dwarf, elf, hobbit dan istari (penyihir). Sedangkan Gandalf dalam cerita ini adalah penyihir.

“Jadi semua penyihir di dunia ini nggak punya kelamin? Itu maksud Anda?” 

Tenang dulu. Kamu bisa saja memaksa Gandalf untuk memilih salah satu jenis kelamin. Tapi nyatanya Gandalf adalah Maiar; “arwah purbakala yang diturunkan ke Arda untuk membantu Valar menciptakan dunia pertama kali.” Jadi ia nggak sama dengan manusia. Ia bahkan bisa saja tak memiliki wujud sama sekali.

2. Di novelnya, Forrest Gump suka menghisap ganja

Forrest sedang berlari karena kebelet setelah sebelumnya ia sembelit selama 7 hari… mungkin/via parade.com

Dalam versi filmnya, Forrest Gump mungkin ‘hanya’ diceritakan sebagai pria yang memiliki keterbelakangan mental sekaligus tokoh inspiratif yang selalu muncul di peristiwa penting. Tapi apa yang kamu lihat di Forrest Gump versi film amat sangat berbeda dari versi novelnya.

Di novelnya, kamu bisa baca tentang pengalaman Gump saat jadi pegulat profesional, atau saat ia berhasil kabur dari serangan kanibal, atau saat ia bermain di film panas bareng Raquel Welch. Saya tekankan sekali lagi: film panas. Nggak kebayang ya kalau melihat wajah polos Gump ketika melakukan itu semua.

Dan nggak hanya itu, sikap dan penampilan Gump dalam versi novel juga berbeda. Ia digambarkan sebagai pria bertubuh tinggi dan gempal yang suka marah-marah, berjudi, dan menghisap ganja. Mulutnya pun penuh dengan sumpah serapah.

Editor’s Pick

  • 10 Komik Horor Terseram yang Cocok untuk Menemani Malam Kamu!
  • Lagi Rame, Nih! Ngerasa Nggak Kalau Ada yang Aneh Dengan Poster Film Skyscraper ini?
  • Aneh Campur Seram, Ternyata Karakter Di 5 Film Keluarga Populer Ini Punya Desain Awal Yang Lebih Cocok Ada Di Film Horor

3. Di novelnya, Sherlock Holmes adalah petarung yang handal

Kumisnya Dr. Watson kalau diperhatikan kok mirip ulat bulu ya?/via everythingsherlock.com

Agak menyebalkan memang jika mengingat Sherlock yang ditampilkan dalam adaptasi film hanya menunjukkan kepintarannya semata. Padahal di dalam bukunya, Sir Arthur Conan Doyle memperkenalkan Sherlock sebagai orang yang kuat secara fisik, meskipun tanpa harus melakukan latihan.

Ia juga seorang boxer yang cukup ahli bertarung dengan tangan kosong, dan juga memiliki kemampuan seni bela diri. Itu ditunjukkannya saat ia harus bertarung satu lawan satu melawan Moriarty di air terjun Reichenbach. Di situ Holmes bilang “Aku memiliki pengetahuan … mengenai bar(t)itsu, atau teknik gulat dari Jepang yang pasti sangat bermanfaat sekali untukku.”

Bartitsu sendiri merupakan seni bela diri asli yang memang benar ada. Seni bela diri tersebut sebetulnya bukan berasal dari Jepang, melainkan modifikasi yang dilakukan Edward William Barton-Wright dengan mengombinasikan boxing, jujitsu, anggar, dan kickboxing khas Perancis.

4. Di novel Howl’s Moving Castle, Howl adalah seorang pria yang mencari-cari gadis remaja

Di balik wajah prince charming-nya itu, kita tahu dia punya motif tersembunyi/via pinterest.com

Howl dalam novel bukanlah penyihir asli. Tapi ia digambarkan sebagai pria berkebangsaan Wales yang menemukan jalan menuju cerita fantasinya, membuat perjanjian dengan Calcifer, dan menghabiskan waktu untuk mencari gadis remaja.

Ya, itu perbedaan paling mencolok dari Howl yang dikenal dalam film dengan Howl versi novelnya. Sebagai pria berusia 27 tahun, Howl memiliki ketertarikan yang berbeda. Dalam versi filmnya ia sangat tertarik pada perang. Asalkan itu perang, mau itu perang rumah tangga antara suami istri sekalipun, Howl bakalan ikut nimbrung.

Bercanda kok…

Tapi dalam versi bukunya, kerjaan dari si Howl ini cuma menggoda para gadis remaja di seluruh penjuru negeri dengan menggunakan gitarnya. Ya, tipikal pria flamboyan dan karismatik. Dan lebih mengerikannya lagi, entah kebetulan atau nggak, perempuan yang dia kejar selalu berusia belasan tahun. Termasuk pada saat ia menjadi kekasih Sophie yang pada waktu itu masih berusia 18 tahun. Sungguh nestapa melihat tingkah laku Howl di dalam novelnya.

Ya iyalah… jika sekarang saya bisa melewati hari-hari dengan menggoda gadis remaja sambil bermain gitar, saya nggak usah nulis artikel ini. Saya nggak perlu gaji! Yang harus saya lakukan cuma mengejar gadis-gadis abege sambil menenteng gitar. Tapi apa kata tetangga saya nanti?!

Dari tadi kita sudah membahas perbedaan karakter fiksi yang ada di film dan novel. Tapi balik lagi sih, toh ini cuma karakter fiksi. Mau bagaimana pun kita mendebatnya, ini cuma karakter fiksi. Tapi justru terkadang dunia fiksi bisa menyedot perhatian kita, bukan? Sampai-sampai kita mempermasalahkan karakter yang sebenarnya nggak ada di dunia nyata.

Source: Cracked