5 Alasan Kenapa Saat Ini Kita Butuh Acara Televisi seperti Si Doel dan Keluarga Cemara

Heran juga sih kenapa acara TV sekarang lebih didominasi sinetron, acara klenik, atau reality show yang malah ngumbar aib orang. Itu yang bikin saya terkadang merindukan acara TV zaman dulu yang lebih menarik dan berkualitas (termasuk sinetronnya). Alasannya?

1. Acara TV jadul menyajikan konsep yang lebih realistis

“Juuuuuuriiiii…!”/via brilio.net

Kamu mungkin ingat kisah pengendara bajaj bertubuh tambun yang diperankan Mat Solar dalam Bajaj Bajuri. Dalam acara sitkom ini banyak karakter yang bisa tampil ikonik dan diingat hingga sekarang. Siapa yang bakal lupa dengan karakter Oneng, istri Bajuri yang lugu nan polos; karakter Emak, mertua Bajuri yang selalu mengintimidasi; Mpok Minah, yang rajin minta maaf padahal bukan momen Lebaran; atau Ucup, pemuda yang selalu pakai kaus bola dan sering banget kena sial.

Oke, dalam kehidupan sehari-hari kita mungkin nggak akan nemu orang yang sepolos Oneng atau orang yang selalu minta maaf kayak Mpok Minah. Tapi kita harus ingat, Bajaj Bajuri itu sitkom. Karakter seperti Oneng, Ucup, atau Mpok Minah memang diperlukan dalam sitkom. Dan justru karena sifat unik merekalah, karakter-karakter itu bisa begitu memorable.

Tapi di sisi lain, lewat Bajaj Bajuri pula kita diajak menyelami kehidupan rumah tangga satu keluarga, lengkap dengan dinamika yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Karakter-karakternya juga tampil apa adanya, seperti yang sering kita lihat di kehidupan nyata, khususnya di masyarakat menengah ke bawah.

2. Tampil sederhana tanpa pamer

Well, ini bukan berarti saya berpendapat kalau acara TV atau sinetron yang menampilkan karakter orang kaya itu nggak bagus. Tapi salah satu hal penting yang bisa dipetik dari suatu narasi itu adalah pesan. Dan kalau kamu perhatikan mayoritas sinetron zaman sekarang, coba deh kamu cari apa kiranya pesan yang ingin disampaikan sinetron-sinetron itu? Bahwa setiap masalah di kehidupan ini harus diselesaikan dengan intrik yang licik?

Keluarga Cemara/via tribunnews.com

Berbeda dengan konsep cerita dalam Keluarga Cemara misalnya, yang menggambarkan kisah hidup satu keluarga yang hidup sederhana (kalau nggak bisa disebut melarat).

Abah, Emak, Euis, Ara, dan Agil adalah satu keluarga yang awalnya hidup mapan di Jakarta. Setelah Abah difitnah dan usaha yang dirintisnya hancur, mereka akhirnya kembali ke kampung dan memulai hidup baru di sana. Keluarga kecil ini kemudian harus hidup sederhana untuk bertahan hidup lewat becak yang Abah kayuh dan opak yang dijual anak-anaknya.

Salah satu pesan positif yang bisa diberikan lewat Keluarga Cemara adalah mengajarkan penontonnya untuk bisa hidup sederhana tanpa bergantung pada kemewahan. Kondisi yang dialami keluarga Abah tersebut bukan nggak mungkin bakal terjadi di kehidupan kita. Coba deh mikir sebentar kalau tiba-tiba kamu harus berada di posisi seperti Euis, Ara, dan Agil.

Editor’s Pick

  • 10 Set Film yang Dibuat dengan Sangat Detail, Pasti Bisa Bikin Kamu Terkesima Melihatnya
  • Sebelum Iko Uwais Main di Serial TV Netflix, 5 Aktor Berdarah Indonesia Ini Eksis Duluan di Amerika
  • Nggak Cukup Baca Naskah Saja, 12 Aktor Ini Sampai Melakukan Hal Gila buat Mendalami Karakter di Film

3. Kisah percintaan yang lebih dewasa

Si Doel/via kincir.com

Bukan, maksudnya bukan menampilkan banyak adegan biru yang nggak pantas ditonton anak-anak. Percintaan yang lebih dewasa di sini lebih ke arah intrik romansa yang sedikit lebih nyata, tanpa harus hadir dengan konflik receh. Kisah cinta di sinetron belakangan biasanya berkutat tentang percintaan antar remaja yang nggak lebih dari sekedar cinta monyet. Karena dianggap lumrah, akhirnya banyak remaja (atau anak SD malah) yang menganggap hal tersebut wajar. Mereka malah jadi sibuk memikat lawan jenis dengan banyak cara aneh, yang mungkin dipelajari di sinetron.

Di tahun 90an pernah hadir sinetron Si Doel yang mengisahkan tentang hidup satu karakter berlatar budaya Betawi. Doel yang digambarkan sebagai mahasiswa teknik dari keluarga sederhana yang dijodohkan dengan perempuan setempat bernama Zaenab. Tapi Doel sendiri lebih naksir Sarah yang secara kebetulan merupakan perempuan dari keluarga berada.

Uniknya, nggak ada intrik yang mengindikasikan jika keluarga Sarah mengganggap sebelah mata keluarga Doel. Sarah bahkan berakhir menikah dengan Doel dan mau hidup sederhana dengan suaminya itu. Beda banget sama cerita sinetron zaman sekarang yang selalu dihuni karakter yang berambisi punya pasangan kaya raya.

Untunglah Si Doel Anak Sekolahan masih terus ditayangkan oleh… yah, kamu tahu lah stasiun televisinya. Semoga ini acara masih terus diulang beberapa tahun ke depan. Tapi bakal lebih baik lagi kalau kita punya acara TV baru yang sama bagusnya dengan Si Doel.

4. Mengajarkan norma kebaikan tanpa menggurui

Lorong Waktu/via brilio.net

Sinetron religi jaman sekarang sebenarnya bagus karena bisa mengangkat permasalahan hidup dari sisi agama. Tapi entah kenapa penonton malah jadi kayak seolah digurui. Jauh sebelum sinetron religi yang nyentuh beribu episode, pernah hadir satu acara TV berjudul Lorong Waktu yang juga mengangkat unsur religi.

Dengan ditambah unsur science fiction ala film Hollywood, acara ini mengedepankan benang merah tentang mesin waktu yang diciptakan oleh seorang ustad. Lewat perjalanan melintasi waktu dalam tiap episodenya, Zidan bersama Pak Haji sering bertemu banyak karakter yang memiliki masalah untuk dipecahkan, yang lagi-lagi permasalahannya juga nggak begitu jauh dari kehidupan sehari-hari. Mungkin berkat kombinasi antara drama dan komedi dalam unsur ceritanya, penonton bisa ikut belajar menghadapi permasalahan hidup tanpa harus merasa lagi diceramahin sama Pak Haji.

Oh ya, ingat nggak satu judul sinetron religi yang mungkin sama bagusnya sama Lorong Waktu? Yup, judul sinetron yang saya maksud adalah Para Pencari Tuhan.

5. Episode yang terlalu panjang, bahkan mencapai ribuan = lama-lama membosankan

Saya nggak bakal banyak berkomentar tentang poin ini. Saya cuma mau mengingatkan kamu kalau ternyata Keluarga Cemara itu tamat setelah menempuh 412 episode. Sedangkan Si Doel Anak Sekolahan cuma butuh 162 episode buat tamat.

Untuk membuat ribuan episode itu tim kreatif pasti dituntut untuk selalu menghasilkan ide segar. Entahlah jika saya salah, tapi menurut saya bakalan lebih baik jika suatu sinetron itu tamat ketika berada dalam periode terbaiknya. Itu jauh lebih baik ketimbang membuat ribuan episode yang makin lama malah makin membosankan.

Judul-judul di atas mungkin bakal asing di telinga kids zaman now. Kalau kamu tahu, berarti artinya kamu sudah cukup berumur kalau nggak mau dibilang tua. Hey, saya nggak bermaksud nyindir ya.

Dibanding acara televisi yang ditampilin zaman sekarang, kayaknya acara TV zaman dulu punya kelebihan ya. Perlu dibikin ulang dengan tajuk Reborn atau dibikinin versi The Movie-nya nggak nih menurut kamu?