5 Fakta Makam Istri Prabu Siliwangi, Situs Keramat Tersembunyi di Kebun Raya Bogor

Makam yang menjadi bukti adanya kekuasaan Padjajaran di Bogor ini sebenarnya dikeramatkan, bahkan kadang ada beberapa pengunjung yang berziarah untuk tujuan tertentu. Untuk megetahui fakta keramatnya makam ini lebih lanjut, yuk simak ulasan lengkapanya berikut.

Makam keramat yang berusia 600 tahun

Makam Ratu Galuh Mangkualam ini sudah ada jauh sebelum dibuatnya Kebun Raya Bogor. Saat ditelisik lebih jauh 3 makam tersebut sudah berusia sekitar 600 tahun. Jika diperhatikan lebih dekat, di atas pusara makam Ratu Galuh terdapat sebuah replika emas dan mahkota yang terbuat dari semen, hal tersebut menunjukkan jika sang ratu memiliki jabatan pada masanya.

Komplek Pemakaman [Image source]

Ada alasan mengapa masyarakat mengkeramatkan makam ini, yaitu karena letaknya yang sangat dekat dengan jembatan merah yang memiliki daya magis. Jembatan ini dulunya terkenal karena noni Belanda yang pernah bunuh  diri perihal cintanya dengan penduduk pribumi yang tidak mendapat restu. Selain itu, jika ada dua sejoli yang melintas, maka bisa dipastikan hubungan mereka akan berakhir.

Dijaga seekor harimau putih

Suasana kebun raya bogor yang asri sangat tepat untuk dijadikan spot bersantai dan menghirup udara segar. Namun, menjelang malam suasana di sekitar akan berubah menjadi sedikit horror, terlebih di area pemakaman. Karena banyak cerita mistis yang beredar, banyak petugas patroli yang enggan berkeliaran dan jaga di kawasan makam Ratu Galuh.

Dijaga Harimau Prabu siliwangi [Image source]

Menurut cerita mereka, ketika malam menjelang, ketiga makam tersebut akan dijaga oleh sesosok harimau putih bertubuh besar yang diyakini milik Prabu Siliwangi. Satpam Kebun Raya mengaku bahkan pernah dikejar oleh kelelawar raksasa saat sedang berada di area pemakaman.

Dijadikan tempat memohon permintaan

Sebagai istri dari raja Padjajaran, tentu makam ini mejadi situs sejarah yang ramai dikunjungi, bahkan beberapa pengunjung sempat mengatakan pernah melihat sosok Ratu dalam balutan kebaya. Karena hal tersebut, tak hanya dari Bogor, beberapa pengunjung juga datang dari luar kota. Niat mereka juga bermacam-macam, di antaranya ada yang memohon beberapa permintaan dengan jalan tawassul, seperti yang dilakukan oleh Uti, peziarah yang selama lima tahun terakhir rajin berziarah ke makam Ratu Galuh.

Makam Ratu Galuh [Image source]

Uti mengatakan bahwa setiap bulan ia datang dan mengirimkan doa di makam sang ratu, keberkahan memang ia rasakan, terbukti dengan usahanya yang semakin berjalan lancar. Selain itu, ada bahkan yang memintah agar dilancarkan dalam urusan jodoh dan pasagan hidup. Tapi, tetep saja ya, situs makam tersebut bukanlah tempat memohon pertolongan.

Berdampingan dengan makam panglima kerjaaan Padjajaran yang ramai dikunjungi para pejabat

Selain makam Ratu Galuh, dua makam lain adalah milik Mbah Jepra, panglima perang Padajajaran dan pendiri kampung Peledang serta Mbah Baul, patih dari Prabu Siliwangi. Berbeda dengan makam Ratu Galuh yang sering dikunjungi dan dijadikan tempat bertawassul, kedua makam ini sering dikujungi oleh para pejabat dan paranormal.

Area Makam Mbah Japra [Image source]

Para pengunjun yang datang meyajkini bahwa Mbah Japra adalah penjaga kota Bogor, sehingga kota ini tidak terlalu rawan bencana. Maka dari itu, sebagai bentuk rasa penghormatan, makam kedua pembantu Prabu Siliwangi ini sama ramainya seperti makam Ratu Galuh.

Peraturan tak tertulis ketika mau berziarah

Menurut pejaga makam, Abdul Rohman, selama hampir 20 tahun ia menjadi juru kunci 3 makam keramat tersebut, tidak ada peraturan khusus yang harus dilakukan oleh para peziarah. Hanya saja, jika ingin bertawassul di makam sang Ratu, hendaklah dalam keadaan yang suci, berpakaian sopan, serta akan lebih baik kalau punya wudhu.

Makam tampak dari luar [Image source]

Namun, ada keanehan yang dituturkan oleh sang penjaga makam, jika kita mau berkunjung dan sebelumnya membuat janji dengan teman atau kerabat untuk datang bersama, maka dapat dipastikan hal tersebut tidak akan terlaksana alias gagal. Mengenai penyebabnya juga tidak diketahui dengan pasti.

Makam orang terdahulu yang kini menjadi situs sejarah memang harus dijaga dan dilestarikan. Hal tersebut tentu sebagai bukti jika mereka pernah memiliki masa kejayaan di Nusantara. Tapi, kehadiran makam tersebut jangan sampai dijadikan sebagai tempat untuk memohon pertolongan dan meminta dikabulkan keinginannya. Yah, boleh sih kalau melalui jalan tawassul, perantara agar doa kita diijabah oleh sang maha kuasa.