5 Kata Unik dalam Bahasa Jepang yang Bakalan Berguna kalau Dipakai di Kehidupan Kita

Saya waktu itu manggut-manggut doang tanda setuju, padahal pikiran saya lagi melayang membayangkan nasi uduk di depan kampus (waktu itu saya masih kuliah). Tapi kalau dipikir-pikir lagi sekarang, perkataan teman saya itu mungkin ada benarnya juga. Iya, nggak?

Yup, harus diakui, ada lumayan banyak kata, frasa, dan idiom dalam bahasa asing yang masih belum ada padanan katanya di bahasa Indonesia. Ambil saja contoh dari 5 kata bahasa Jepang yang punya makna cukup unik ini.

1. Tsundere

via crunchyroll.com

Apa kamu punya teman yang saat awal kalian berkenalan kelihatannya dingin dan jutek, tapi seiring waktu dia perlahan berubah jadi hangat dan baik sama kamu? Nah, orang yang kayak gitu tuh disebut tsundere.

Well, kata ini sebenarnya lebih sering dipakai di dalam anime atau manga. Biasanya karakter tsundere itu jutek ke karakter utamanya, sebelum akhirnya dia malah jatuh cinta ke si karakter utama.

Tapi… ayolah… kamu juga mungkin punya kenalan yang masuk kategori tsundere. Saya sendiri punya. Dan alangkah enaknya bukan jika kita bisa memanggil mereka dengan sebutan tsundere?

Contoh penggunaan kata: “Pak Kodir ternyata seorang tsundere! Tapi dari awal aku tahu Pak Kodir itu orangnya baik. Buktinya bulu hidungnya suka nongol keluar. Bulu hidungnya tsundere biasanya nongol keluar.”

2. Chuunibyou

via youtube.com

Menurut Urban Dictionary, Chuunibyou bisa diartikan dengan kasar sebagai Middle School 2nd Year Syndrome atau Sindrom Anak Kelas Dua SMP (kok nggak enak ya dengarnya kalau pakai Bahasa Indonesia?)

Sama seperti namanya, sindrom ini biasanya ‘diidap’ oleh remaja SMP. Anak remaja dengan karakteristik Chuunibyou suka berlagak seakan dia tahu segalanya, merasa diri punya kekuatan super, atau merasa kalau dia berbeda dari manusia-manusia yang lain. Meskipun begitu, Chuunibyou memang perilaku yang normal dilakukan anak remaja umur 14 tahun.

Tapi masalahnya nggak cuma remaja SMP doang, orang dewasa pun ada lho yang punya pola pikir macam begini.

Biar lebih jelas, jika kamu adalah orang dewasa, coba perhatikan tanda-tanda berikut ini:

  • Apa kamu merasa diri berbeda dari orang lain?
  • Apa kamu pura-pura menyukai hal yang anti-mainstream, hanya karena kamu pengin dengar orang lain bilang “Gile, lu cool banget Bro…”?
  • Apa kamu suka membalut tangan kamu pakai perban, seolah kamu habis berkelahi, padahal yang kamu lakukan sepanjang hari cuma ngupil?
  • Apa kamu merasa ada kekuatan gaib yang bersemayam di tangan kamu? Dan kamu khawatir kekuatan gaib itu bisa terlepas dan memorak-porandakan dunia jika kamu tak berhati-hati?
  • Apa kamu merasa diri sebagai reinkarnasi dari ksatria kegelapan abad pertengahan?

Jika kamu punya karakteristik di atas, itu artinya kamu mengidap Chunibyou. Segera periksakan diri kamu ke dokter anak!

Contoh penggunaan kata:

“Jangan sentuh tanganku! Kau tidak tahu tanganku ini mewarisi dark power yang kuwarisi dari dark demon berumur ribuan tahun! Sekali salah langkah, nyawamu bisa melayang!”

“Euuh… dasar kau… Chuunibyou…!”

3. Gyakugire

via pixabay.com

Katakanlah kamu lagi asyik berleha-leha di kamar kamu yang berantakan. Lagi asyik-asyiknya nyantai, ibu kamu tiba-tiba masuk ke kamar. Dia memandang sekeliling kamar. Sorot matanya menunjukkan bahwa ia tak rela anak kesayangannya berlaku liar dengan membiarkan kamarnya acak-acakan. Tak ayal, dia pun memarahi kamu. Tapi alih-alih menurut dan langsung membereskan kamar, kamu malah memarahi balik ibu kamu.

Nah, itulah gyakugire; situasi di mana orang yang berbuat salah malah memarahi kamu, padahal harusnya kamu yang berhak memarahi dia. Dan orang seperti ini (sepertinya) memang banyak bertebaran di muka bumi. Iya, ‘kan? Kamu setuju, ‘kan?

Contoh penggunaan kata:

“Kenapa kamu terlambat sampai 7 jam begini? Filmnya udah selesai dari tadi!”

“Euuuh, kenapa mesti marah-marah?! Tadi saya nonton dulu di bioskop lain sebelum datang ke bioskop ini! Kamu harusnya ngerti dong!”

“Ooooh… GyakugireKimochi!”

Editor’s Pick

  • Saking Misteriusnya, 12 Benda Bersejarah Ini Sampai Sukses Bikin Para Ilmuwan Kebingungan
  • 7 Ilmuwan yang Pernah Melakukan Eksperimen Menjijikkan demi Perkembangan Dunia Medis
  • Apa Sih Bedanya Mencintai Seseorang Apa Adanya Dan Cinta Buta? Ini 4 Perbedaan Yang Harus Kamu Tahu

4. Bakkushan

via pixabay.com

Bakkushan = perempuan yang sepertinya terlihat menarik atau cantik jika dipandang dari belakang, tapi jika dilihat dari depan terlihat… euhm, kurang menarik.

Mendengar definisi di atas mungkin kamu teringat sama adegan di film Warkop zaman dulu. Hanya bedanya alih-alih perempuan, ternyata sosok yang dikiranya cantik itu ternyata mas-mas berambut panjang. Klasik banget ini adegan!

Well, kalau dilepaskan dari konteks, makna kata ini sebenarnya terdengar kurang menghargai perempuan sih. Tapi kalau kamu laki-laki, pasti kamu pernah punya pengalaman soal bakkushan deh.

Contoh penggunaan kata: “Aaaargh… bakkushan! Saya baru lihat bakkushan!”

5. Chu

via pixabay.com

Kata ini sebenarnya nggak perlu penjelasan panjang lebar. Chu itu merupakan onomatope yang berarti suara yang ditimbulkan ketika bibir bersentuhan dengan bibir. Singkatnya, bunyi ketika dua orang berciuman.

Chu mungkin hampir bisa disamakan dengan ‘muaach’, meskipun maknanya agak berbeda. Coba kita lihat contoh penggunaan katanya:

“Astaga, Kakak… kau dengar bunyi apa barusan? Terdengar seperti bunyi chu! Ayo kita cek ke atas, mama dan papa lagi ngapain ya!? Mencurigakan!”

Kalau kita ganti kata ‘chu’ dengan kata ‘muaach’, kedengarannya kurang enak ‘kan?

Jika kamu mau menggunakan kata-kata di atas dalam pergaulan sehari-hari, itu terserah kamu sih. Toh, mungkin nggak akan ada yang ngerti juga perkataan kamu. Saya sendiri hanya berusaha menunjukkan kalau Bahasa Indonesia masih bisa berkembang lagi. Iya nggak?

Satu pesan dari saya, nggak usah terlalu anggap serius contoh penggunaan kalimat di atas.