5 Kisah tentang Pelaku Proyek Do-It-Yourself Terhebat Sepanjang Sejarah

Bercanda kok, nggak mungkin ada DIY tentang yang kayak gituan.

Kalau diartikan, DIY (atau swakriya, jika kita pakai istilah yang kurang populernya) sendiri adalah teknik membuat dan memodifikasi suatu benda bernilai guna dengan kemampuan sendiri, tanpa bantuan tangan profesional. Biasanya orang bikin barang DIY buat mengasah kreativitas, kayak bikin gelang atau pernak-pernik. Ada juga yang sengaja bikin barang buat membantu kegiatan sehari-hari, misalnya tempat pensil atau tempat minum dari bambu.

Ah, tapi barang kayak gitu udah biasa. Mau tahu proyek DIY yang luar biasa itu seperti apa? Kamu simak saja 5 kisah pelaku do-it-yourself terhebat sepanjang sejarah di bawah ini.

1. Kursi halaman Larry Walters

Ilustrasi/via knowledgenuts.com

Kursi halaman biasanya dipakai buat duduk santai sambil baca koran atau menikmati segelas kopi panas di pagi hari. Tapi bagi supir truk asal Amerika, Larry Walters, rutinitas itu kayaknya udah terlalu sering dilakukan sampai dia bosan dibuatnya. Makanya Walters nyari cara supaya waktu bersantai di kursinya nggak monoton dan membosankan.

Hmm… menurut kamu kira-kira cara apa yang bakal Walters lakukan?

Yup, dia bikin kursi halamannya bisa terbang ke langit!

Di tahun 1982, Walters memodifikasi kursi miliknya dan melengkapinya dengan 45 balon cuaca. Balon udara rumahan tersebut berhasil terbang setinggi 4.572 meter sebelum akhirnya mendarat di Bandara Internasional Los Angeles, Amerika Serikat.

Penerbangan yang dilakukan Walters tergolong cukup ekstrem dan menakutkan. Dia nggak menyangka kalau balonnya bakal terbang lebih cepat dari perkiraannya. Tapi dia tetap menunggu sampai di ketinggian yang pas sebelum mulai menembak balon satu demi satu dengan senapan angin. Bahkan sebelum mencapai tanah, balon Walters sempat nabrak kabel listrik. Jadi selain bikin orang-orang heboh, penerbangan Walters juga memicu padamnya listrik di sebagian kawasan Los Angeles selama 20 menit.

Sewaktu ditangkap polisi Walters sempat mengomel, “Seorang pria itu nggak boleh cuma duduk-duduk santai aja, Pak!”

Ya, memang benar apa kata Walters. Daripada cuma duduk santai, lebih afdol kalau duduk santainya sambil terbang.

2. Meriam Yang Youde

Yang Youde tersenyum ceria sambil mendorong meriam buatannya sendiri/via metro.co.uk

Kehidupan Yang Youde (56) sebagai petani terusik ketika mafia tanah Tiongkok mencoba merebut lahan pertaniannya secara paksa untuk proyek pembangunan apartemen. Youde diminta menjual tanahnya sekitar Rp282 juta. Padahal itu hanyalah seperlima dari harga tanah yang semestinya.

Saat Youde mencoba bernegosiasi, pihak perusahaan malah mengancam akan membawa puluhan preman penagih hutang untuk menghajarnya. Tapi Youde bukanlah tipe orang yang rela begitu saja saat ditindas para penguasa lalim. Dia langsung berpikir bagaimana cara menghadapi puluhan preman sekaligus seorang diri.

Februari 2010, tiga puluh orang yang terdiri dari pihak penggusur, supir buldoser, dan preman bayaran tiba di lahan pertanian Youde sembari membawa senjata tumpul. Dan coba tebak apa yang Youde lakukan?

Dia langsung mengarahkan meriam (terbuat dari pipa dan gerobak) yang berisi petasan roket ke arah barisan preman dan mafia tanah tersebut. Saat mereka berada dalam jangkauan, Youde langsung menembakkan meriamnya. Sontak kelompok preman tersebut langsung buyar berlarian menghindari ledakan petasan. Tapi sayang, senjata rumahan itu kurang cocok buat menghadapi puluhan preman sekaligus. Buat mengisi ulang pelurunya butuh waktu yang nggak sebentar.

via nydailynews.com

Youde pun akhirnya berhasil ditangkap dan dipukuli massa. Saat Youde tergeletak tak berdaya, pihak penggusur yang geram bilang kalau mereka bakal kembali membawa buldoser buat meratakan rumah Youde dengan tanah.

Kalau saya jadi Youde, pasti saya bakal kabur sebelum gerombolan itu datang kedua kalinya. Tapi Youde tetaplah Youde, dia langsung menyiapkan strategi perlawanan selanjutnya meski sudah ditindas habis-habisan.

Sadar sedang diburu waktu, Youde, dibantu oleh petani lain, membangun menara meriam di samping rumahnya. Menara itu dilengkapi kursi, megaphone, amunisi petasan, serta pelontar roket dengan jangkauan proyektil 90 meter. Setelah semuanya siap, Youde tinggal menunggu kedatangan para penggusur dengan buldosernya.

Siang hari tanggal 26 Mei 2010, regu penggusur kembali datang, kali ini lengkap dengan buldoser dan peralatan konstruksi. Tapi sekali lagi, tanpa diduga Youde sudah bersiap menyambut kedatangan mereka. Dari atas menara Youde berteriak lewat megaphone supaya penggusur nggak memasuki area pertaniannya.

“Jangan dekati sawah saya!”

Kemudian Youde menembakkan petasan roket tanpa henti dari atas menaranya ke arah para mafia tanah. Ledakan petasan sangat nyaring bunyinya, mengubah suasana pertanian yang tadinya hening jadi layaknya festival tahun baru.

Usaha Youde ternyata tak sia-sia. Berkat perlawanannya, penggusuran berhasil tertunda selama satu jam sebelum akhirnya polisi datang ke tempat kejadian. Polisi kemudian membubarkan massa dan menggiring Youde ke kantor polisi setempat. Di sana Youde menceritakan kronologis kerusuhan dari awal sampai akhir serta penyebabnya. Tindakan Youde tergolong ‘pelanggaran keamanan publik’ di undang-undang Tiongkok, meski untungnya tak ada korban luka/jiwa. Malah polisi sangat menghargai usaha Youde mempertahankan tanahnya. Akhirnya dia diizinkan pulang dengan syarat tak boleh mengulangi keributan (petasan).

Sengketa tanah Yang Youde pun selesai setelah dia mendapat bantuan dari pemerintah. Dia mendapat kompensasi yang lebih tinggi dari harga tanahnya. Hmm… benar-benar perjuangan yang sempurna!

3. Tangan bionik Sun Jifa

via telegraph.co.uk

Sun Jifa kehilangan kedua tangannya saat mencoba menangkap ikan dengan bahan peledak. Waktu itu, nggak disangka bom yang dirakit petani tersebut meledak secara prematur, mengakibatkan luka yang sangat parah di kedua tangannya. Setelah menjalani proses amputasi, dokter menyarankan Jifa untuk memakai tangan palsu. Tapi sayang, Jifa kecewa setelah mendengar harga tangan palsu yang sangat mahal.

Tak mampu membeli tangan palsu, pria asal Tiongkok ini memutuskan untuk merakit tangan palsunya sendiri. Delapan tahun dia habiskan buat merakit berbagai prototipe, sebelum akhirnya sukses menciptakan sepasang tangan bionik yang bisa menggenggam dan menahan beban layaknya tangan normal. Tangan bionik Sun Jifa itu dilengkapi rangkaian kabel dan katrol yang dikendalikan lewat gerakan siku.

Berkat proyek DIY tersebut, Sun Jifa bisa bekerja di pertanian keluarganya seperti sedia kala. Dia juga mulai merancang model yang sama buat membantu orang-orang yang senasib dengan dirinya.

Keren! Standing applause deh buat Bapak asal Tiongkok ini.

4. Marvin John Heemeyer ‘Killdozer’

via thearmoredpatrol.com

Di film atau komik superhero kita pasti nggak asing lagi sama adegan ini: Ilmuwan gila yang menghancurkan kota dengan alat ciptaannya sambil ketawa kayak orang sinting.

Kebayang ‘kan? Kisah ini kurang lebih hampir sama kayak adegan yang kamu bayangkan. Tapi alih-alih ilmuwan gila, ‘tokoh antagonis’ di dalam cerita ini adalah mekanik dan pengusaha knalpot asal Amerika, Marvin John Heemeyer.

Cerita bermula saat Heemeyer merasa bisnis knalpotnya dirugikan oleh proyek perencanaan kota dan keputusan pemerintah Colorado di tahun 2001. Kala itu, akses ke lahan pertokoan milik Heemeyer tertutup akibat pembangunan pabrik semen di dekatnya. Terlebih lagi pihak berwenang mendenda Heemeyer $2.500 (sekitar Rp37 juta) akibat banyaknya mobil rongsokan di lahan miliknya. Saking geramnya pada pemerintah, Heemeyer pun merencanakan aksi balas dendam.

Proyek do-it-yourself yang terkesan seperti adegan film aksi pun dimulai. Di lahan miliknya, Heemeyer ‘menyulap’ Komatsu D355A jadi senjata penghancur kota. Dia melengkapi buldoser tersebut dengan lempengan baja, sebelum lempengan itu dilapisi juga dengan beton setebal 30 cm. Heemeyer juga menambahkan beberapa jenis senapan (kaliber 22, 50, dan 308) serta beberapa kamera yang terhubung dengan layar di kabin kemudi.

Setelah ‘Killdozer’ (julukan buldoser Heemeyer) selesai dibangun, Heemeyer meluapkan amukannya dengan merusak 13 bangunan. Beberapa di antaranya pabrik semen, balai kota, dan toko knalpotnya sendiri. Usaha para petugas untuk menghentikan Killdozer pun terbilang sia-sia. Peluru tak bisa menembus beton, bahkan alat peledak pun tak berpengaruh sama sekali. Kabarnya, salah satu petugas bersenjata sempat memanjat Killdozer tapi tak menemukan celah untuk menembak ke dalam kabin. Dia pun terpaksa mundur.

Amukan Killdozer berlangsung selama dua jam dan terhenti akibat radiator buldoser yang rusak. Heemeyer yang sudah kepalang bakal terciduk akhirnya membunuh dirinya sendiri di dalam kabin kemudi dengan pistol.

Gimana? Apa 4 kisah proyek DIY tadi sanggup bikin kamu terpukau? Ternyata orang amatir pun bisa jadi pencipta kayak para ilmuwan dan insinyur. Yah, asalkan ada motivasi dan tekad yang kuat kali ya. Hmm… kira-kira kisah mana nih yang jadi favorit kamu?