5 Stereotip Karakter Perempuan yang Sering Banget Muncul dalam Film, Kamu Sadar Gak?

Memang sih, banyak karakter film yang biasanya punya pola khas (yang kadang suka luput dari perhatian penonton). Tapi pola khas yang melekat pada karakter perempuan cenderung lebih sering muncul daripada karakter laki-laki.

Penasaran apa saja daftarnya? Berikut ini beberapa contohnya.

1. Karakter perempuan yang muncul hanya untuk menunjukkan kemolekan tubuh, terus mati

via bloody-disgusting.com

Mohon maaf, gambar di atas memang sengaja dikecilkan.

Sebenarnya saya pengin mencantumkan ini jadi poin terakhir. Tapi entah kenapa saya dapat hasrat untuk menulisnya di poin pertama. Habisnya saya sering banget nemu karakter perempuan macam ini di film, khususnya film-film horor. Contoh, Friday the 13th.

Karakter perempuan macam ini biasanya punya peran yang nggak begitu penting. Dialognya nggak banyak dan omongan yang keluar dari mulutnya juga sama nggak pentingnya. Biasanya mereka berperan sebagai pacar dari cowok populer. Tugas utama mereka: tampil bugil dan bercinta dengan pacarnya. Setelah selesai, mereka seringkali mati mengenaskan dibunuh hantu atau karakter antagonis.

Intinya peran mereka di film itu seperti ini: muncul – memperkenalkan diri – tampil bugil – ngomong nggak penting – bugil – ketakutan – mati.

Padahal saya yakin, walaupun suatu film horor nggak ada adegan ranjangnya, film itu masih bisa ditonton dengan lancar sampai tamat. Betul, nggak?

2.  Remaja menyebalkan

via visakanv.com

Film romansa komedi dengan latar sekolah sering banget memunculkan karakter ini. Di antara kisah cinta dua karakter utamanya, selalu ada sosok wanita menyebalkan yang sepanjang film kerjanya nggak lebih dari sekedar nyinyir, berpenampilan centil, menyabotase karakter utama, dan hal-hal menyebalkan lainnya.

Oh iya, seringnya juga mereka hadir secara berkelompok dengan jumlah minimal tiga orang. Contoh seperti ini bisa kamu temukan dalam film Mean Girls (2004) yang menampilkan geng The Plastics.

3. Si cewek transformasi

via moviemezzanine.com

Si karakter utama (yang tentunya wanita) awalnya diceritakan sering jadi bahan ejekan. Penampilannya cantik meski sudah berusaha ditutupin dengan penampilan yang cupu. Dengan dibantu orang-orang sekitar yang peduli dengan penampilannya, si karakter ini akhirnya bertransformasi dari ‘itik buruk rupa’ menjadi ‘angsa putih’ yang memukau lawan jenis sekaligus sesama teman wanita.

Motif dari karakter ini saat melakukan transformasi, biasanya: 1) ingin sekadar menunjukkan kalau dia memang cantik, dan 2) nggak jauh dari usaha memikat lawan jenis. Tapi bisa juga dia bertransformasi karena faktor tuntutan, seperti Anne Hathaway dalam The Princess Diaries (2001) misalnya.

4. Hopeless romantic

via nydailynews.com

Dia punya karier cemerlang, pintar, independen, bahkan berpenampilan fisik yang jadi body goals perempuan lain. Tapi dia selalu dingin dan jutek saat lawan jenis merayunya.  Si cewek tetap bergeming, padahal si cowok yang mendekatinya jadi incaran 717 perempuan lain.

Kok bisa?

Soalnya si cewek masih belum bisa move on dari mantan pacarnya yang brengsek. Di dalam film biasanya diselipin adegan si cewek bertemu sang mantan, bikin goyah untuk balikan, sampai akhirnya dia sadar kalau si mantan masih belum berubah. Dia pun akhirnya merasa sudah menyia-nyiakan para pengagumnya yang selalu dijauhi setengah mati. Stereotip kayak gini gampang ditemukan di  film drama romantis seperti 27 Dresses (2008).

5. Perempuan dari kalangan bawah yang disukai lawan jenis dari kalangan atas

Kamu pasti tahu apa film yang seringkali mengandalkan karakter perempuan seperti ini. Biasanya karakter perempuan dari kalangan bawah ini punya tampilan fisik yang terbilang cantik. Kadang-kadang mereka juga pakai makeup yang kelihatannya mahal. Dan setelah satu kejadian yang menentukan, biasanya bakal ada cowok ganteng dari kalangan atas yang jatuh cinta sama mereka.

Jujur saja, jika hal seperti itu terjadi di dunia nyata, dan ceweknya secantik, hmm… katakanlah Revalina S. Temat, saya juga bakal jatuh cinta sih.

Kejadian di mana ada cowok dari kalangan atas yang jatuh cinta dengan cewek dari kalangan bawah memang berpotensi juga terjadi di dunia nyata. Tapi frekuensinya mungkin nggak sesering (dan seabsurd) seperti yang ada di dalam film.

Bagaimana menurut kamu? Apa kamu sering melihat berbagai klise tersebut di dalam film? Apa menurut kamu berbagai klise tersebut sudah saatnya ditendang jauh-jauh? Atau justru berbagai klise tersebut masih tetap terlihat menarik buat kamu?

Atau kalau kamu tahu stereotip lain yang sering banget muncul dalam film, jangan lupa tulis di kolom komentar ya!