6 Kata-Kata Motivasi Ini Terdengar Bijak, Tapi Menurut Psikologis Justru Bisa Membahayakan Kamu

Kalau kamu termasuk orang yang senang mendengar kata-kata motivasi, gak ada salahnya kamu menelaah kembali semua motivasi yang kamu dengar sebelum menerapkannya. Beberapa psikologis pun menyarankan kamu melakukan itu. Soalnya, gak jarang kata-kata motivasi cuma dikasih efek ‘wow’ biar menarik perhatian orang, padahal kenyataannya susah banget buat diaplikasikan di dunia nyata.

Seperti dirangkum dari Brightside, sebaiknya kamu pikir-pikir dulu kalau sebelum menerapkan 6 macam motivasi ini, daripada nantinya kamu jadi terbebani.

1. “Bayangkan kalian punya apa pun yang kalian mau”

via globeair.com

Lewat kalimat ini, diharapkan kita membayangkan apa yang kita mau di setiap detik. Cara ini kalau diikutin mentah-mentah malah bisa merubah cita-cita kamu jadi obsesi yang gak sehat, lho. Percaya deh, ketimbang ngelamunin hal-hal yang kamu mau, mending kamu melakukan usaha yang nyata, sekecil apa pun usaha kamu, buat mendapat apa yang kamu pengen.

2. “Berbahagialah apa pun kondisi kehidupanmu”

via patheos.com

Berbahagia sama bersyukur itu beda lho, guys. Motivasi semacam ini salah-salah bisa bikin kamu jadi pribadi yang gak bisa terima kenyataan pahit. Merasakan berbagai emosi, mau itu senang, sedih, marah ataupun kecewa adalah hal yang harus kita alami sebagai manusia. Dengan kata lain, merasakan bermacam-macam emosi itu hal yang wajar.

Terus menerus merasa bahagia justru bakal bikin kita gak siap menghadapi hal-hal buruk yang gak bisa dihindarkan dari kehidupan kita. Dan lagi, terlalu sering menekan emosi itu justru bakal berefek buruk, lho.

3. “Kesuksesan itu bergantung pada diri masing-masing orang”

via anotherindian.com

Itu memang ada benarnya. Sebagai orang dewasa, atau yang beranjak dewasa, kita harus bertanggung jawab sama setiap tindakan dan keputusan yang kita ambil. Orang yang rajin tentu bakal lebih mudah meraih kesuksesan dibanding orang yang setiap menitnya selalu dihabiskan dengan tidur-tiduran.

Tapi, kita bukan satu-satunya manusia yang hidup di bumi. Jika keadaan atau kondisi nggak memungkinkan kita untuk maju, kita nggak mungkin maju. Ada banyak faktor luar yang bisa memengaruhi kesuksesan seseorang. Usaha dan niat saja nggak akan cukup, walaupun kedua hal itu punya peran penting dalam langkah kamu menggapai kesuksesan.

4. “Kelilingi dirimu dengan orang sukses”

via rd.com

Orang sukses cuma berteman sama orang sukses. Ah, masa iya? Membatasi diri dengan hanya bergaul sama orang sukses cuma bakal bikin kamu hidup di dunia fantasi. Bagaimanapun juga idealnya kamu perlu bertemu banyak orang dari berbagai latar belakang, supaya kamu bisa mendapat sudut pandang yang berbeda-beda dalam mencapai tujuan hidup.

5. “Keluarlah dari zona nyaman”

via i.ytimg.com

Ini nih yang paling gak masuk akal, kalau kita sudah nyaman di sebuah zona, ngapain mesti meninggalkan zona itu, sih? Kalau sekadar supaya bisa menaklukan tantangan baru, kita juga pasti bisa melakukan itu dari zona nyaman kita. Hal yang menentukan daya saing kita adalah niat dan usaha kita buat bersaing, dan itu bisa dilakukan bahkan dari zona nyaman yang kita punya.

Kamu bisa saja meninggalkan zona nyaman kamu, tapi jangan lupa untuk selalu pulang ke sana. Di mana lagi kita bisa merasa betul-betul nyaman jika bukan di zona nyaman?

6. “Kamu Terlahir Untuk Menaklukan Dunia”

via picdn.net

Inti dari penyampaian motivasi adalah buat menunjukkan kalau kita punya kemampuan yang gak terbatas di hidup kita. Sayangnya, kita pasti terlahir dengan memiliki kekurangan. Tapi kekurangan ini bukan suatu hal yang harus dianggap gak ada. Justru dengan mencari tahu cara memperbaiki kekurangan kita, kita bisa jadi orang yang lebih baik.

Jadi, masih muluk-muluk pengen menaklukan dunia? Cukup berusaha jadi pribadi yang lebih baik setiap hari juga sudah menunjukan kalau kamu adalah seorang manusia yang hebat.

Memotivasi diri dengan mendengar nasihat itu memang gak ada salahnya. Toh, kita juga pasti pernah dapat manfaat dari kata-kata mutiara yang merasuk ke telinga kita. Tapi, itu bukan berarti kita lantas menerima semuanya mentah-mentah, bukan?