7 Ilmuwan yang Pernah Melakukan Eksperimen Menjijikkan demi Perkembangan Dunia Medis

Namun penelitian dalam dunia medis ternyata pernah mengalami masa-masa sulit dikarenakan masih terbatasnya teknologi dan pengetahuan mengenai objek yang diteliti. Akibatnya, banyak ilmuwan zaman dulu yang terpaksa ‘berimprovisasi’ dalam mengembangkan ilmu kedokteran mereka. Beberapa bahkan tak segan melakukan hal yang cenderung menjijikan. Seperti 7 kisah tokoh berikut ini misalnya.

1. Stubbins Ffirth, menelan muntah pasien yellow fever (demam kuning)

via wellcomecollection.org

Tujuan: untuk membuktikan kalau demam kuning tak menular.

Stubbins Ffirth pernah menulis tesis tentang kesehatan pada 1802. Di dalam tesis tersebut ia berteori kalau demam kuning adalah penyakit yang tak menular. Sebaliknya, masyarakat Amerika yang kala itu sedang dilanda wabah demam kuning percaya kalau penyakit tersebut sangat menular. Kemudian untuk membuktikan teorinya, Ffirth melakukan serangkaian eksperimen yang berpotensi membahayakan dirinya.

Pertama, ia mengirup hembusan napas para pasien demam kuning yang sedang tertidur untuk mengetahui apakah ia bisa tertular atau tidak. Setelah gagal tertular, Ffirth melakukan hal yang lebih ekstrem lagi. Ia coba oleskan muntah pasien ke goresan luka di lengannya dan juga ke kedua matanya. Tapi tindakan itu pun tak membuat Ffirth tertular demam kuning.

Masih mencoba lagi, ia selanjutnya telan muntah pasien secara langsung, bahkan mengubah muntah menjadi pil yang kemudian ia telan. Semua tindakan menjijikan tersebut berbuah manis, Ffirth bisa membuktikan kalau teori demam kuningnya ternyata benar.

2. Jonas Kellgren dan Sir Thomas Lewis, melukai diri sendiri

via webfoe.deviantart.com

Tujuan: untuk memahami rasa sakit pada tulang.

Untuk memahami bagaimana rasa sakit tercipta, ternyata para dokter tempo dulu pernah melakukan berbagai eksperimen yang berbahaya. Jonas Kellgren dan Sir Thomas Lewis adalah dua dokter yang tercatat pernah menyakiti diri sendiri untuk kepentingan sains. Sepanjang tahun 1930 kedua dokter itu sudah berulang kali menyuntikan zat kimia (yang menyebabkan rasa sakit) ke beberapa bagian tubuh untuk meneliti bagaimana rasa sakit bekerja. Organ dalam yang dijadikan bahan percobaan meliputi otot, tendon, tulang rangu, dan tulang keras.

Namun setelah berbagai eksperimen yang dilakukan, dokter Kellgren nampaknya masih penasaran akan satu hal: seperti apa rasa sakit yang dihasilkan dari dalam tulang. Dengan menggunakan obat bius, ia mulai mengiris daging dan tulang keringnya menggunakan kawat baja.

Kellgren menyimpulkan kalau rasa sakit tak muncul di permukaan tulang. Tapi justru ketika kawat sudah sampai di bagian dalam, barulah rasa sakit mulai terasa. Hmm… untung nggak kenapa-kenapa ini dokter.

3. Santorio Santorii, membuat alat penimbang kotoran

via sciencesource.com

Tujuan: untuk menghitung berat kotorannya.

Santorio Santorii (1561-1636) adalah ilmuwan zaman Renaissance yang pernah mencoba mengungkap bagaimana sistem pencernaan bekerja. Dalam melakukan penelitian, Santorii membuat sebuah perangkat yang disebut ‘weighing chair.‘ Alat berbentuk kursi tersebut berfungsi sebagai pengukur berat makanan yang masuk ke tubuh Santoriidan sekaligus pengukur kotoran yang juga keluar dari tubuhnya.

Setiap hari Santorii mencatat berat makanan dan kotorannya. Dalam penelitian tersebut Santorii dibuat kebingungan sebab berat makanan yang masuk selalu lebih besar daripada kotorannya, sedangkan berat badannya tak bertambah.

Eksperimen santori memang tak terlalu terkesan menjijikan. Tapi fakta uniknya, Santorii menimbang kotorannya berturut-turut selama 30 tahun dengan kesimpulan yang tak pernah berubah. Kotoran Santorii tak pernah lebih berat dari apa yang telah ia makan.

4. James Nooth, menyuntikan kanker

via medicalnewstoday.com

Tujuan: membuktikan apakah kanker bisa menular.

Sejak dulu hingga kini para dokter berusaha meneliti dan mencari cara efektif untuk mengobati kanker. Dan ternyata, beberapa dokter pernah menguji potensi penularan kanker terhadap diri mereka. Salah satunya eksperimen yang pernah dilakukan dokter James Nooth di tahun 1700.

Coba bayangkan, Nooth sengaja memasukan jaringan otot pasien yang terkena kanker ke dalam lengannya sendiri. Lengan Nooth membengkak, tapi untungnya tak ada tanda-tanda penyebaran sel kanker setelah beberapa lama.

Dokter lain yang pernah melakukan hal serupa adalah Jean-Louise Alibert. Dengan menyuntikan cairan dari pasien penderita kanker payudara ke tubuhnya, Alibert pun menemukan kalau kanker tidak menular. Tapi efek sampingnya, dia sempat mengalami infeksi akibat eksperimen tersebut.

Editor’s Pick

  • Cuma Dikuasai Sedikit Orang, 5 Keahlian Paling Langka Ini Terancam Hilang Untuk Selamanya Lho
  • Saking Absurdnya, 6 Kejadian Yang Sempat Jadi Berita Ini Bisa Bikin Kamu Mengernyitkan Dahi
  • 7 Tokoh ini Meninggal Bersama Rahasia Besar yang Masih Belum Terungkap

5. Giovanni Grassi, memakan cacing dari usus mayat

via bigredworms.com

Tujuan: mencari tahu bagaimana parasit menyebar dalam tubuh.

Pada tahun 1878, Giovanni Grassi yang merupakan ahli parasitologi asal Italia sedang melakukan otopsi mayat. Grassi kemudian melihat usus mayat tersebut dipenuhi oleh telur cacing pita. Alih-alih membersihkannya, Grassi yang penasaran akan bagaimana cacing parasit menyebar kemudian memakan telur-telur tersebut.

Setahun penuh Grassi secara rutin memeriksa kotorannya dan tak menemukan adanya cacing. Jika berada di posisi Grassi saya pasti akan bersyukur dan menyesal telah berbuat bodoh. Tapi setelah itu Grassi memakan telur cacing lagi. Kali ini dari kotoran di dalam perut mayat. Sebulan kemudian ia merasa tak nyaman dengan ususnya dan menemukan cacing di kotorannya sendiri. Grassi pun akhirnya paham kalau ternyata cacing pita menular melalui telur di dalam kotoran.

6. Max Josef von Pettenkofer, meminum bakteri kolera

via sciencesource.com

Tujuan: eksperimen medis terhadap diri sendiri.

Akhir abad 19 adalah masa saat penyakit kolera merebak di Jerman. Seorang ahli higienis, Max Josef von Pettenkofer, berusaha mencari solusi untuk meminimalisir penyebaran kolera. Menurutnya, selain lingkungan dan sanitasi yang buruk, bakteri kolera akan masuk ke individu yang tak menjaga kebersihan. Dengan kata lain orang yang bersih tak akan terjangkit kolera.

Di tahun 1892, Pettenkofer kemudian membuktikan teorinya itu dengan meminum segelas air berisi bakteri kolera yang sebelumnya dia kumpulkan. Pattenkofer jatuh sakit, tapi untungnya dosis yang diminum cenderung rendah dan tak sampai membuat penyakitnya fatal.

Pelajaran yang bisa dipetik: jaga kebersihan dan minum air bersih. Jangan minum kolera!

7. Frederick Hoelzel, memakan kerikil, serbuk gergaji, dan benda tak lazim lainnya.

via mid-day.com

Tujuan: untuk lebih memahami sistem pencernaan.

Kira-kira butuh berapa lama usus kamu mencerna sesuatu selain makanan? Frederick Hoelzel mungkin bisa menjawab pertanyaan tersebut. Pada eksperimen di tahun 1902, Frederick sengaja ‘mengisi’ perutnya dengan kerikil, baja, dan berat lainnya. Misinya yaitu untuk mengetahui seberapa cepat ususnya dapat memproses benda-benda tersebut.

Dari situ Frederick mempelajari butuh waktu 52 jam bagi kerikil untuk sampai ke perutnya; bantalan bola baja 80 jam; peluru emas 22 hari. Yang paling singkat yaitu benang kusut dengan waktu 1,5 jam.

Sejak kecil Frederick memang gemar melakukan metode diet yang terkesan aneh. Makanan yang ia incar adalah benda-benda non-kalori seperti bonggol jagung, gabus, asbes, dan batang pohon pisang. Tak heran kalau kebiasaannya itu kemudian ia gunakan untuk kepentingan sains. Tapi karena tindakannya pula tubuh Frederick sangat kurus dan menderita malnutrisi.

Wah, orang-orang tempo dulu sampai sebegitunya ya buat lebih mememahami ilmu kedokteran. Beda banget sama kita yang tinggal cari informasi medis di Google sambil nyantai. Meskipun yang dilakukan 7 tokoh tadi terbilang bodoh atau gegabah, kita juga nggak bisa mengesampingkan sudut pandang mereka atau keadaan tempo dulu. Toh, pada dasarnya hasil eksperimen mereka sangat berguna bagi kita sekarang. Iya nggak?