Buat yang Sering Bolos Sekolah atau Kuliah, Nggak Malu Sama Adek Kecil Ini?

via boredpanda.com

Kalau kamu butuh tamparan, coba deh baca kisah Wang Fuman, bocah kecil berusia 8 tahun asal Tiongkok.

Ada apa dengan dia?

via boredpanda.com

Fuman selama ini tinggal dengan saudari dan neneknya. Nah, karena keterbatasan ekonomi, dia terpaksa harus berjalan sejauh 4,8 km dari rumahnya ke sekolah.

Jarak yang dia tempuh untuk pergi ke sekolah pun juga nggak main-main, bukan jalan yang biasa dilewati oleh orang pada umumnya, melainkan trek berbatu seperti ini.

via boredpanda.com

Waduh! Meski dengan perjalanan sejauh itu dan trek seunik itu, dedikasi dia untuk pergi belajar sungguh sangat amat tinggi sekali! Bahkan meski pada saat cuaca di sana minus 9 derajat Celcius, dia tetap berangkat ke sekolahnya.

via express.co.uk
via finance.yahoo.com

Alhasil, gara-gara menempuh perjalanan sejauh itu ditemani oleh udara dingin yang menusuk tulang, rambutnya pun sempat membeku. Ditambah lagi sekolah tersebut kekurangan dana sehingga tidak dapat menyediakan penghangat yang layak selama musim dingin tersebut.

via finance.yahoo.com

Kepala sekolah sekolah tersebut, Fu Heng, yang kaget dengan penampilan Fuman tersebut sempat menawarkan sarapan padanya dan mengambil gambar bocah malang tersebut. Yang mengejutkan tidak hanya sampai di sana, setelah memeriksa kondisi tubuh Fuman, ternyata Fu Heng menemukan sesuatu yang membuat hati kita miris. Karena keterbatasan ekonomi, dia terpaksa harus bekerja untuk membantu ekonomi keluarganya. Hal ini dapat dilihat dari tangan bocah mungil tersebut.

via express.co.uk

Tangan seperti itu bukanlah tangan anak kecil pada umumnya, tapi lebih mirip dengan tangan orang dewasa yang terbiasa melakukan pekerjaan berat dalam waktu yang lama.

Yah, bisa dibilang pekerjaan yang dia lakukan tidaklah mudah bagi sebagian orang yang membaca artikel ini. Meski sekolah tersebut juga dilanda keterbatasan, untungnya pihak sekolah tetap memperhatikan kondisi anak didiknya.

Setelah foto dari kepala sekolah ini viral, banyak warganet yang terharu dengan perjuangan bocah mungil ini dan mencoba menghubungi kepala sekolah untuk memberi bantuan yang layak bagi dia dan sekolah tersebut. Sumbangan yang diterima oleh sekolah mencapai lebih dari $15,000 (sekitar Rp 199 juta), 20 penghangat, dan 144 set baju hangat.

Fuman percaya, dengan tekun dan giat belajar, dia dapat mengubah nasibnya dan membantu keluarganya dengan lebih baik. Karena kalau bukan kita yang mengubah nasib kita, siapa lagi?

Nah, setelah membaca kisah Fuman di atas, apa kamu sudah cukup tertampar? Dengan kondisi ekonomi yang mencukupi dan didukung dengan fasilitas belajar yang memadai, apa alasanmu untuk malas-malasan? Kalau kamu punya cerita yang nggak kalah menyentuh, tulis di kolom komentar, ya.