Drama Remaja dengan Cara Penceritaan yang Unik, Itulah Something in Between

Kalau saya pernah. Ada kalanya suatu mimpi yang kita alami itu menggambarkan suatu masalah yang tak bisa kita selesaikan di dunia nyata. Tapi terkadang pula, kita bisa mendapat penyelesaian masalah itu lewat mimpi. Terdengar aneh memang. Mimpi itu datang tiba-tiba seperti suatu petunjuk untuk kita melakukan sesuatu.

Bermula dari mimpi aneh yang dialami Abi./ via youtube.com

Begitu juga dengan Abi (Jefri Nichol), seorang remaja Indonesia yang tengah tinggal di London. Selama di London, dia sering dihantui mimpi yang menggambarkan sepasang remaja SMA yang sedang kasmaran. Dalam mimpinya mereka sering mengulang kalimat, “Aku mau sama kamu selamanya, sampai maut memisahkan kita. Bahkan maut gak bisa memisahkan kita”. Kalimat inilah yang akhirnya membawa Abi untuk pulang ke Indonesia mencari jawaban.

Perjalanan Abi menemukan makna mimpinya ini selanjutnya terlukis dalam karya terbaru Screenplay Films, Something in Between.

Modal sketsa sekolah dan wajah yang tak pernah tuntas

Abi hanya bermodalkan sketsa sekolah dan wajah seorang perempuan dalam perjalanannya untuk menemukan makna dari mimpinya. Dia tak pernah tahu di mana sekolah itu berada dan siapa perempuan yang sketsanya tak pernah bisa dia selesaikan itu. Tapi selain sketsa, Abi juga dibantu sepupunya (Denira Wiraguna) untuk mencari jawaban atas mimpi-mimpinya.

Setelah melalui serangkaian proses pencarian, takdir membawa Abi pada satu sekolah yang mirip sekali dengan sketsa yang digambarnya. Bahkan ketika sepupunya meminta cek ulang antara sekolah yang didatangi dengan sketsa yang ada, Abi hanya berujar, “Setiap detail sketsa yang saya buat saya ingat”.

Siapakah wanita dalam sketsa ini?/ via youtube.com

Tapi….setelah Abi masuk ke sekolah tersebut, penjaga sekolah, Pak Maman (Yayu Unru) dan kepala sekolah, Pak Bagus (Slamet Rahardjo) malah dibuat terkejut. Ada apakah gerangan?

Fantasi yang Unik

Something in Between berbeda dengan film–film remaja Screenplay sebelumnya. Masih berkolaborasi dengan Legacy Pictures, Something in Between menambahkan elemen fantasi yang tentu membuat cerita remaja SMA menjadi lebih menarik untuk diikuti.

Salah satu adegan terlucu. Penasaran?/ via youtube.com

Naskah yang ditulis oleh Titien Wattimena dan Novia Faizal pun mampu membuat dialog-dialog yang lebih dekat dengan keseharian. Diksinya puitis tapi tidak terdengar geli. Namun, naskah yang dibuat dengan pendekatan seperti ini pun tak akan pernah berhasil dengan sempurna, andaikata para pemain kurang bisa menyampaikannya dengan baik.

Untuk bagian inilah rasanya saya perlu memuji peningkatan akting dua pemeran utama, Jefri Nichol dan Amanda Rawles. Mereka mampu melafalkan dialog dengan ikatan emosi yang pas. Ada saatnya saya dibuat tertawa, ada pula saatnya dibuat baper. Melihat mereka berinteraksi di layar lebar adalah salah satu momen termanis di perfilman Indonesia sepanjang tahun ini.

Aktor Senior yang Menambah Rasa

Chemistry yang baik dari dua tokoh utama, sudah cukup sebagai modal utama untuk sebuah film romansa percintaan. Namun nampaknya Something in Between tak puas hanya di tataran itu saja. Kehadiran Yayu Unru, Slamet Rahardjo, Djenar Maesa Ayu, dan Surya Saputra menghadirkan momen tersendiri yang membuat saya betul-betul merasa terikat dengan karakternya. Yayu Unru dan Slamet Rahardjo yang natural memberikan kesan bahagia. Sementara Surya Saputra dan Djenar Maesa Ayu ditantang untuk membuat air mata penonton keluar. Dan mereka semua berhasil menaklukannya.

Lucu juga nih Slamet Rahardjo jadi kepala sekolah./ via youtube.com

“Ini saya yang menguburkannya.” – Salah satu dialog yang pasti akan membuat kamu bercucuran air mata

Penempatan Soundtrack yang Tepat Guna

Sering nonton film India? Kalau pernah, coba perhatikan adegan ketika tiba-tiba muncul lagu. Lagu yang muncul pasti berkolerasi dengan adegan yang ada di layar, menjalin suatu cerita yang hendak disampaikan. Dengan kata lain, di film India lagu difungsikan sebagai medium bercerita.

Something in Between pun melakukan pendekatan seperti itu. Lagu Tlah Mencoba muncul untuk menggambarkan hubungan Gema & Maya yang sedang ‘istirahat’. Coba deh perhatikan liriknya.

“Saatnya aku memutuskan berhenti mencintai, saatnya kamu pun putuskan berhenti mencintai”

Setelah lagu selesai, scene langsung menggambarkan hubungan mereka yang sudah terbangun dari istirahatnya tanpa terasa ada yang janggal. Dengan demikian, Tlah Mencoba sukses memberi suatu gambaran kepada penonton apa yang terjadi pada mereka.

Satu lagu lagi yang digunakan Something in Between adalah Firefly yang juga dinyanyikan Rossa. Lagu ini dijadikan backsound di bagian ending untuk mendampingi pengungkapan latar belakang dari konflik yang terjadi di film ini. Atas hal itu, perlulah rasanya saya memuji Joseph S. Djafar yang mampu memanfaatkan soundtrack untuk tak jadi sekadar pemanis belaka.

Namun dengan segudang kelebihan yang ditawarkannya, ada satu kekurangan kecil yang saya catat dari film ini. Dalam perjalanannya Something in Between menggunakan pola pengungkapan flashback yang justru sedikit mereduksi konsep pencarian makna oleh Abi. Film tidak memberikan gambaran bagaimana Abi memercayai kisah cinta Gema & Maya. Sebaliknya, film malah lebih fokus menceritakan hubungan Gema & Maya, dengan seolah menghilangkan sosok Abi. Padahal Abi lah karakter yang membutuhkan kisah mereka.

Asep Kusdinar selaku sutradara sedikit luput dalam hal ini. Visinya seakan hilang ketika disuguhkan cerita yang menarik. Padahal di film Promise, yang notabene ceritanya biasa saja, Asep Kusdinar malah mampu bertutur dengan berbeda dan lebih dewasa.

Namun kekurangkuatan visi sutradara dalam Something in Between tak serta-merta menjadikan film ini berkurang kenikmatannya. Berkat skenario dan akting yang memukau, Something in Between tetaplah suguhan yang menyenangkan dan mengharukan. Salah satu drama remaja terbaik yang dimiliki Screenplay Films.

Kamu sudah nonton? Punya pendapat yang berbeda. Bagikan di kolom komentar ya.