Enggano, Suku Asli Bengkulu yang Diabadikan dalam Relief Kuil Ratu Fira’un

Penguasa perempuan dari dinasti ke-18  tersebut merupakan keturunan ke-5 yang memimpin Mesir kuno pada tahun 1479 SM – 1458 SM. Walaupun belum dipastikan, namun kehidupan suku Enggano terlukis dalam relief di kuil Hatshepsut, yaitu Land of Punt. Untuk lebih lengkapnya, ini fakta yang berhasil Boombastis rangkum.

Sekilas tentang Land of Punt (Tanah Punt)

Kuil Ratu Firaun yang terdapat cerita mural Bangsa Punt [Image source]

Kuil Hatshepsut merupakan peninggalan sang ratu yang unik, mengapa unik? Di dalam kuil tersebut erdapat relief yang bercerita tentang Land of Punt atau Tanah Punt, yaitu satu daerah yang memiliki ciri kehidupan yang mirip masyarakat di wilayah Nusantara yang berada di Bengkulu Utara. Pulau yang dikenal dengan hutan yang lebat, pantai yang indah ini juga memiliki suku asli bernama Enggano. Suku Enggano inilah yang disebut sebagai suku yang pernah melakukan transaksi perdagangan langsung dengan para penguasa Mesir kuno. Adapaun barang yang berupa batu-batu besar ‘obelisk’ dari tambang batu  diangkut dengan sebuah kapal tongkang besar, sebagai transportasi untuk mengangkut material piramida.

Ratu Hatshepsut yang berinisiatif mengabadikan Suku Enggano dalam Relief Kuil

Ratu Hatshepsut [Image source]

Ratu ini memang namanya tidak setenar Cleopatra atau Ramses yang ditenggelamkan di laut merah. Tapi taukah kamu kalau sosok satu ini adalah pemimpin yang membawa Mesir menjadi salah satu negara paling jaya pada masanya. Hatsepsut adalah ratu mesir yang paling lama memerintah, membawa Mesir menjadi negara makmur dengan kekayaan berlimpah. Tak hanya itu, Hatsepsut masuk dalam jajaran wanita terkaya, Kuil Hatsepsut adalah salah satu bangunan yang dibuat pada masa kekuasaannya, yang di dalamnya terdapat relief Suku Enggano, Bengkulu.

Kemiripan Tanah Punt dengan Suku Enggano

Rumah Punt vs Suku Enggano [Image source]

Walaupun letak Tanah Punt tidak disebutkan di mana, namun ciri-ciri kehidupan seperti yang terlukis di relief kuil Hatshepsut sangat mewakili kehidupan Suku Enggano. Contohnya saja rumah, rumah yang digambarkan sebagai tempat tinggal bangsa Punt berbentuk seperti kubah dengan lantai datar yang berupa lingkaran, rumah ini adalah rumah panggung lengkap dengan tangga untuk menuju ke bawah. Rumah tradisional yang terbuat dari kayu dengan dinding daun rumbia ini persis sama seperti rumah Suku Enggano yang diabadikan dalam relief oleh Ratu Firaun. Apakah bangsa Punt yang dimaksud adalah Suku Enggano?

Kesamaan senjata dan hiasan kepala

Ikat Kepala suku Enggano [Image source]

Tak hanya rumah saja, hiasan kepala dan senjata yang dipakai oleh Suku Enggano adalah yang terpahat di relief. Di mural relief tresebut , penduduk bangsa Punt digambarkan sedang mengembala, ikat kepala tersebut memang ciri khas yang dipakai oleh Suku Enggano sebagai identitas mereka. Selain itu, di bagian relief lain terlihat sosok bangsa Punt dengan senjata yang diselipkan di pinggang, kebiasaan yang sama juga dilakukan oleh Suku Enggano di masa lampau ternyata.

Kemiripan Kosa kata Bahasa Rejang dengan Mesir kuno

Bahasa Punt vs Bahasa Rejang [Image source]

Jika mau ditinjau dari Bahasa, ada beberapa kosa kata Bengkulu Rejang yang juga digunakan oleh penduduk Mesir kuno pada zamannya. Kedua peradaban mungkin saja bisa memiliki cara berkomunikasi yang sama mengingat bangsa Punt di sini sebagai pihak yang menjual dagangan kepada Ratu Firaun, jadi Bahasa yang digunakan adalah satu Bahasa saja. Bahasa tersebut hampir seperti copi paste bukan? hanya saja dalam ejaan yang sedikit berbeda.

kata Enggano sendiri diambil dari Bahasa Portugis yang artinya ‘salah’ atau ‘kecewa’. Jumlah penduduk di Pulau Enggano hingga sekarang mencapai 1.600 jiwa, tersebar dalam 6 desa. Pulau ini terkenal dengan keunikan dari segi sektor pariwisata dan memiliki banyak terumbu karang. Mengenai jejak Ratu Fir’aun di negeri terluar Indonesia ini memang tidak mutlak dibenarkan, hanya mural yang ada di kuil sang Ratu punya kesamaan yang serupa denganfakta kehidupan Suku Enggano.