Fenomena Hikikomori di Jepang: Kenapa Mereka Bertahun-tahun Mengurung Diri di Dalam Kamar?

Tapi coba bayangkan jika kamu nggak pernah berinteraksi dengan orang lain dan mengurung diri di kamar untuk waktu yang lama. Kegiatanmu sehari-hari hanya seputar makan, baca buku, nonton TV, browsing internet, dan tidur. Kira-kira dengan pola hidup seperti itu, berapa lama kamu bakal bertahan sampai akhirnya merasa kesepian dan depresi? Kalau saya mungkin paling kuat satu minggu. Setelahnya saya bakal keluar kamar.

Fuminori Aoka (29), Hikikomori yang nggak pernah keluar rumah selama satu tahun/via nationalgeographic.com

Oleh sebab itu, saya nggak bisa ngebayangin gimana jadinya kalau mesti menjalani kehidupan seperti Hikikomori. Apa itu Hikikomori?

Di masyarakat Jepang, istilah hikikomori dipakai untuk menyebut mereka yang mengurung diri di kamar selama bertahun-tahun. Sebagian besar hikikomori merupakan laki-laki yang berasal dari keluarga kelas menengah, alias berkecukupan. Dengan mengasingkan diri di ruangan pribadi, para Hikikomori bisa menghindari musuh utama mereka: interaksi sosial.

Survey di tahun 2015 menyebut ada sekitar 541.000 penduduk Jepang, dengan rentang usia 15-39 yang menganut gaya hidup hikikomori. Jumlah hikikomori yang sebenarnya di hasil survey tersebut malah diperkirakan lebih besar lagi, mengingat sifat mereka yang tertutup (saat didata).

Hmm… setengah juta orang ya. Sekarang coba bayangkan kalau ada suatu kota dengan penduduk 500 ribu, dan semuanya ‘mengidap’ hikikomori. Bakal jadi kayak gimana itu kota? Jadi kota hantu? Entahlah, membayangkannya saja sulit. Intinya, hikikomori udah jadi semacam wabah penyakit sosial di Jepang yang mengancam kelangsungan ekonomi dan nasib generasi muda.

via fastjapan.com

Hmm… kira-kira apa yang mendorong seseorang buat menjalani hidup sebagai hikikomori?

Editor’s Pick

  • Banyak Penjelajah dan Sejarawan Zaman Dulu Percaya Kalau 7 Suku Teraneh Ini Benar-Benar Ada, Kamu Percaya?
  • Totalitas Tanpa Batas! 7 Aktris Cantik Ini Rela Latihan Keras Demi Peran Dalam Filmnya
  • Daftar 10 Profesi Terburuk Sepanjang Sejarah Manusia, Berminat Meniti Karier di Bidang Ini?
  • 8 Rekaman Audio Paling Mengerikan yang Pernah Ada, Kamu Berani Dengar?

Mungkin faktor budaya masyarakat jadi alasan utama mengapa banyak orang Jepang yang jadi hikikomori. Di Jepang, tuntutan sosial sudah bisa dirasakan semenjak usia dini. Misalnya, anak sekolah kerap dituntut orangtuanya supaya dapat nilai akademik yang maksimal. Alhasil, lingkungan sekolah pun semakin kompetitif dan menguras pikiran.

Tuntutan sosial terus berlanjut sampai ke ranah pekerjaan. Ya, masyarakat Jepang memang terkenal akan etos kerjanya yang baik ‘kan? Tapi ternyata hal itu tidak terlepas dari tuntutan sosial yang sedang kita bicarakan.

Tuntutan sosial seperti apa yang dimaksud?

Perlu kamu tahu, prestasi, jabatan, serta reputasi adalah aspek yang penting dan sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat Jepang. Imbasnya, mereka yang terpeleset menuju jurang kegagalan mungkin bakal merasa trauma meskipun hanya gagal sekali. Rasa malu dan putus asa, ditambah tekanan dari orang-orang terdekat, memicu mereka yang ‘gagal’ untuk menarik diri dari lingkungan sosial dan menjadi hikikomori.

Pergeseran budaya masyarakat Jepang ke arah individualisme juga bisa jadi penyebab lain munculnya hikikomori, terutama di kalangan generasi muda yang sedang mencari jati diri. Di kalangan remaja, keputusan jadi hikikomori biasanya berasal dari nilai jeblok yang berbanding terbalik dengan tuntutan orangtua. Bisa juga karena patah hati, atau dikucilkan oleh teman-teman.

via artforia.com

Sementara di kasus orang dewasa, kegagalan di tempat kerja jadi penyebab utama gaya hidup hikikomori.

Konon, seseorang disebut sebagai hikikomori setelah ‘mengunci diri’ di kamar selama 6 bulan berturut-turut. Orang normal kayak kamu pasti mikir…

“Kok bisa terus-terusan tinggal di kamar sampai 6 bulan gitu?”

Ya, seperti yang sudah dijelaskan, hal itu disebabkan karena mereka merasa nggak sanggup menanggung beban sosial. Mereka sudah merasa kehilangan rasa percaya diri serta kepercayaan terhadap orang-orang di sekitarnya. Dengan mengurung diri di di dalam kamar, hikikomori bakal lebih merasa aman dan damai.

Hal tersebut jelas nggak baik bagi kesehatan mental. “Semakin lama hikikomori menutup diri dari lingkungan sosial, semakin sadar pula mereka atas kegagalannya di kehidupan sosial.” jelas fotografer Maika Elan, fotografer National Geographic yang kebetulan pernah mengamati fenomena sosial itu di Jepang.

Oleh sebab itu, hikikomori seringkali merasa kesulitan buat kembali ke kehidupan nyata. Enam bulan mungkin bukan waktu yang sebentar, tapi sebagian hikikomori tercatat pernah mengurung diri dan menghindari komunikasi hingga tujuh tahun berturut-turut.

Di keseharian, hikikomori biasanya menjalani kehidupan nokturnal. Mereka tidur saat orang-orang sedang sibuk-sibuknya beraktivitas, lalu bangun di waktu petang atau malam hari. Waktu luang mereka biasanya dihabiskan dengan membaca buku atau manga, menonton televisi, berselancar di dunia maya, dan bermain video game.

Remaja hikikomori yang tinggal bersama orangtua seringkali dibuatkan makanan oleh ibu mereka, yang kemudian ditaruh di depan pintu kamar. Sementara bagi yang sudah dewasa dan tinggal sendiri, sesekali mereka membeli persediaan makanan yang banyak supaya nggak terlalu sering keluar rumah.

Berbagai usaha dari pemerintah dan masyarakat dilakukan untuk meredam fenomena hikikomori. Misalnya seperti program pendidikan online yang dikhususkan bagi remaja hikikomori. Ada pula sejumlah agensi dan relawan yang memberikan penyuluhan serta mengajak hikikomori buat kembali bergaul di tengah masyarakat.

Sebenarnya fenomena hikikomori nggak cuma terjadi di Jepang. Di Indonesia juga ada lho. Tapi mungkin di negeri kita fenomena ini lebih dikenal dengan sebutan ‘mager’ alias malas gerak. Oh, beda ya? Kirain sama. Boleh dong share artikel ini ke temen kamu yang nunjukkin gejala hikikomori.