Inilah 4 Alasan Kenapa Cinematic Universe Lain Masih Sulit Sukses Diterima Industri Film Saat Ini

Tapi, jika membandingkan tren film seri yang pernah dibuat satu dekade ke belakang, film seri yang dibuat saat ini punya banyak perbedaannya lho, salah satunya adalah pembuatan film berfokus pada cinematic universe.

Kamu pasti setuju ‘kan jika cinematic universe yang diprakarsai oleh Marvel bisa dianggap sebagai salah satu yang paling sukses saat ini? Bahkan setiap film yang mereka rilis selalu menjadi box-office. Kehebatan dari cinematic universe ini jelas bikin banyak studio film tergiur untuk menerapkan formula yang sama.

Meskipun begitu, fakta yang ada membuktikan bahwa penggunaan cinematic universe nggak selamanya menjadi tolak ukur kesuksesan sebuah franchise.

Tidak seperti Marvel, beberapa film yang mengusung ide ini justru nggak berhasil memenuhi ekspektasi dari pihak studio. Contohnya adalah film The Mummy yang mendapat banyak respon negatif. Hal ini jelas menimbulkan tanda tany: apakah ide cinematic universe mampu memberi pundi-pundi keuntungan bagi pihak studio?

Apa saja sih yang menyebabkan pihak studio nggak berhasil menerapkan ide ini? Berikut 4 faktor yang bikin cinematic universe sulit digunakan di industri perfilman saat ini.

1. Terlalu memaksakan jalan cerita dalam satu film

via hdqwalls.com

Masalah yang biasanya muncul dari penggarapan projek panjang seperti cinematic universe adalah pihak studio yang selalu menaruh ekspektasi yang tinggi pada salah satu film, khususnya film yang menjadi pembuka dari seri tersebut.

Yup, membuat kesan pertama yang sangat berarti memang perlu dilakukan pihak studio, apalagi jika mereka ingin memikat ingatan para penonton lewat film yang mereka buat. Tapi, jika pada akhirnya film yang menjadi cikal bakal terbentuk cinematic universe malah mendapat hasil yang berbeda 180 derajat, pihak studio seharusnya menyadari dampak pada film-film penerusnya.

Kita bisa ambil salah satu contohnya dari DC Extended Universe. Kamu pasti masih ingat ‘kan bagaimana respon penonton terhadap film Batman v Superman: Dawn of Justice? Berkat respon pada film tersebut, banyak penilaian skeptis diberikan oleh para kritik terhadap film lanjutannya, seperti Justice League, atau Suicide Squad (Wonder Woman masuk pengecualian ya!).

Situasi ini tentu perlu dicermati kembali oleh pihak studio dengan memperhatikan fokus sebuah film secara detail, tanpa harus membebankan keterikatan film tersebut dengan universe-nya. Lihat saja film Iron Man sebagai tolak ukurnya. Apa mereka mencantumkan hero lain seperti Captain America, Thor, atau Hulk di dalamnya?

 2. Singkatnya jeda waktu perilisan tiap film

via thealexlarkinadventures.wordpress.com

Jika pada tahun 2000-an film seri biasanya punya jeda waktu sekitar satu tahun untuk melanjutkan cerita dari film sebelumnya, kebanyakan film yang mengangkat ide cinematic universe memiliki waktu perilisan yang cukup singkat, bahkan tidak mencapai satu tahun untuk dua film.

Kalau kamu nggak percaya, lihat saja perilisan dari film MCU dan DCEU. MCU merilis sekitar 3 film setiap tahunnya, sedangkan DCEU dimulai dari tahun 2016, mereka juga mulai rajin membuat dua film setiap tahunnya.

Ada nilai positif sebetulnya yang bisa diambil dari jadwal perilisan ini, penonton yang antusias dengan film seri ini nggak harus menunggu lama untuk menyaksikan kelanjutannya. Meskipun tetap saja ada sisi negatif yang disebabkan dari hal ini, misalnya singkatnya waktu perilisan film yang bisa mengurangi antusiasme penonton terhadap kelanjutan film tersebut, apalagi hal ini terkadang mempengaruhi penilaian kita terhadap satu film dengan film selanjutnya.

Editor’s Pick

  • Joker Mau Dibikin Filmnya? Ini 4 Alasan Kenapa Kita Gak Butuh Film Standalone tentang Joker
  • Bosan Sama Horor Yang Gitu-Gitu Aja? 9 Film Horor-Thriller Yang Kurang Terkenal Ini Nggak Akan Bikin Kamu Kecewa
  • Banyak Spoiler Film di YouTube? Ini 3 Trik biar Kamu Bisa Menghindari Spoiler

3. Banyak pihak yang terlibat

via reddit.com

Melanjutkan dari poin sebelumnya di mana kebanyakan film cinematic universe dirilis di waktu yang berdekatan, mustahil jika semua film tersebut dibuat oleh satu tim yang sama. Pihak studio tentu punya solusi untuk memecahkan masalah ini, salah satunya adalah dengan melibatkan banyak sineas di setiap film yang akan dibuat.

Jika film seri yang dibuat pada tahun 2000-an hanya melibatkan satu sutradara saja dalam setiap produksi, film serinya, film cinematic universe punya banyak sutradara untuk satu seri film tersebut lho. Bahkan DCEU saat ini sudah melibatkan 5 sutradara dalam film serinya. Wah… banyak sekali ya.

Hal ini memang menjadi win-win solution bagi kelancaran produksi film, yang memang diharapkan bagi pihak studio agar dapat merilis sebanyak-banyaknya film untuk meraup keuntungan. Namun bagi penonton seperti saya, kebijakan ini tentu mempunyai dampak yang cukup signifikan, apalagi jika menghubungkannya dengan kualitas dari suatu film.

Saya ambil contoh lainnya saja, apa kamu sadar jika di film Captain America yang dibuat oleh Joss Whedon memiliki karakteristik yang berbeda disbanding karakter yang sama dibuat oleh Russo Brothers? Bagi saya hasil arahan Joss Whedon itu tidak sekuat Russo Brothers. Kalau menurut kamu bagaimana?

4. Kurang sabar untuk menuai kesuksesan

via youtube.com

Salah satu faktor lain yang menjadi penyebab kegagalan sebuah cinematic universe adalah ketidaksabaran pihak studio untuk membangun cinematic universe itu sendiri.

Seperti yang kita bahas sebelumnya, tujuan dari cinematic universe dibuat oleh pihak studio adalah untuk meraup keuntungan sebesar mungkin dari semua film yang diproduksi. Namun beberapa film yang menjadi bagian dari salah satu cinematic universe nggak berhasil meraih kesuksesan yang diharapkan bagi pihak studio. Sebagai contohnya, Universal Pictures yang menjadi satu pihak studio yang gagal menciptakan kesuksesan lewat sebuah cinematic universe.

Film The Mummy yang dianggap mewakili nama besar Dark Universe yang dibuat Universal pada akhirnya harus mendapat respon kurang baik dari para kritik dan penontonnya. Hal ini pula yang mempengaruhi keputusan Universal untuk menunda produksi lanjutan dari film seri tersebut. Meskipun nama-nama tenar seperti Javier Bardem, Johnny Depp, Russell Crowe, dan Sofia Boutella sudah diumumkan bakal terlibat dalam penggarapan beberapa film dari Dark Universe, nampaknya hal tersebut nggak berpengaruh pada penilaian penonton yang lebih memilih mendapat keseruan dari segi cerita dari cinematic universe tersebut.

Meskipun cinematic universe pada saat ini dianggap sebagai projek yang cukup gagal digarap oleh beberapa pihak studio, jika mencermati faktor-faktor di atas, kita juga pasti menyadari jika kesalahan bukan berasal dari ide cinematic universe ini. Ternyata kegagalan tersebut muncul akibat ketidakmampuan pihak studio menerjemahkan minat dan keinginan penonton dari film cinematic universe itu sendiri.

Apa kamu setuju dengan tanggapan saya? Semua orang punya opini yang berbeda pastinya, apakah kamu punya opini lain terhadap fenomena ini? Kalau kamu berkenan, tolong tuliskan opini kamu di kolom komentar ya!