Inilah 7 Hal yang Akan Terjadi Jika Monas Dirombak Jadi Seperti Central Park di New York

Selain rakyat yang diuntungkan dengan wacana make over Monas tersebut, secara tidak langsung juga bisa menjadi suatu kebanggan bagi pejabat DKI Jakarta, khususnya bagi Sandiaga Uno dan Anies Baswedan.  Meski masih sebatas rencana, jika hal tersebut terjadi, tentu akan memberikan nilai lebih yang manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat Jakarta.

Bebas Injak Rumput dan Jadi Taman Bermain

Warga Jakarta yang sering mengunjungi kawasan Monas, tentu familiar dengan papan bertuliskan “Dilarang Menginjak Rumput. Toh, hal tersebut juga sering dilanggar oleh mereka. Oleh sebab itu, pemerintah DKI bakal menyulap areal di sekitar Monas seperti Central Park-nya New York, menjadi sebuah taman bermain, dimana masyarakat bisa beraktivitas di atas rumput. Jadi bebas diinjak.

Boleh diinjak kok rumputnya mblo [image source]

Berbeda dengan konsep “taman” dengan larangan menginjak rumput yang dianut oleh Monas, kawasan Central Park di New York justru membolehkan pengunjungnya melakukan beragam kegiatan positif di atas rumput. Hal ini dimungkinkan karena rumput tersebut senantiasa dirawat secara rutin oleh petugas khusus. Alhasil, strategi tersebut membuat pengunjung merasa betah nyaman berada di lokasi tersebut.

Setidaknya, Polusi Asap di Jakarta Bisa Berkurang

Semua masyarakat paham, bahwa Jakarta merupakan gudangnya macet dan polusi asap dari kendaraan bermotor. Hal ini diperparah dengan tingginya pertumbuhan kendaraan bermotor dari tahun ke tahun. Belum lagi kurangnya area ruang hijau di Jakarta, jadi tambah bikin frustasi.

Parahnya polusi udara Jakarta [image source]

Dengan perubahan kawasan Monas menjadi Central Park, tentu akan menjadi sebuah ruang hijau “raksasa” yang bisa mengurangi polusi asap tersebut. Di New York Sendiri, Central Park juga difungsikan sebagai “penyedot polusi raksasa” yang alami, di mana terdapat ratusan pohon yang rimbun ditanam untuk hal tersebut. Jadi, hawa udaranya pun terasa lebih segar dari sebelumnya.

Menyediakan Tempat Berjualan untuk Pedagang Kaki Lima

Di balik sebuah rencana pembangunan taman kota, pasti terselip unsur ekonomis di dalamnya. Tidak hanya di luar negeri, hal ini mungkin juga diterapkan di Indonesia. Ramainya pengunjung kawasan Monas, juga menjadi magnet tersendiri bagi pedagang kaki lima. Meski begitu, pemerintah Jakarta melarang untuk berjualan di tempat tersebut karena banyak pedagang yang tidak mematuhi larangan yang ada.

Jualan boleh, tertib harus [image source]

Jika rencana ini berjalan, tentu Monas akan segera berbenah, terutama bagaimana menyediakan tempat yang layak bagi pedagang untuk berjualan. Berkaca dari Central Park New York, di dalamnya terdapat pedagang yang menjual makanan dan minuman cepat saji dengan gerai portable. Meski begitu, kesadaran mereka tentang kebersihan cukup tinggi. Misalnya, mereka memasang sendiri tulisan “Keep The Park Clean”. Jika dibandingkan dengan pedagang di Monas, jangan dibayangin deh!

Sebagai Sarana untuk Berolahraga Santai

Luasnya areal Monas juga banyak dimanfaatkan untuk berolahraga. Misalnya, seperti lari-lari kecil, senam dan bahkan digunakan untuk berdemo. Jika perubahan Monas ke depannya mengikuti desain seperti Central Park, tentu pengunjung akan semakin tertarik untuk berolahraga di sana. Selain menikmati udara segar, mereka juga bisa berolahraga di atas rumput yang sebelumnya dilarang.

lokasi yang pas buat lari-lari [image source]

Hal ini juga berbanding lurus dengan pengunjung Central Park di New York. Banyak dari mereka memanfaatkan taman kota seluas 315 hektar tersebut sebagai tempat yang nyaman untuk berolahraga. Selain melepas lelah di bangku taman, banyak pengunjung yang bebas merebahkan tubuhnya di atas rumput jika merasa lelah setelah berolahraga.

Dapat Mencegah Datangnya Banjir Saat Musim Hujan

Ketika musim hujan tiba, Kebanyakan wilayah Jakarta pasti tergenang banjir. Dan Itu adalah sebuah fakta miris yang tak terbantahkan. Jika proyek “Monas Going To Central Park” ini resmi dilakukan, bukan tak mungkin pepohonan yang akan ditanam bisa menjadi semacam resapan alami, yang akan menampung derasnya air hujan agar tidak mengenangi Ibukota.

Segini amat ya pas banjir [image source]

Jika mengacu pada Central Park, kita bisa melihat seberapa sering kota New York tergenang banjir meski dilanda hujan yang cukup sering. Disinilah peran Central Park dibutuhkan. Kawasan yang difungsikan sebagai area hijau tersebut, juga berperan menjadi sebuah resapan air lewat deretan  pepohonan dan danau yang ada. Hal ini tentu dapat mengurangi debit air yang akan merendam Kota New York.

Menjadi Ikon Pariwisata Baru untuk Jakarta

Kawasan Central Park sendiri telah menjadi ikon bagi kota New York sebagai taman kota terluas di Amerika Serikat. Tentu saja, hal ini bisa menjadi daya tarik wisata bagi pengunjung di luar New York. Terbukti, taman kota yang dibangun pada 1857 tersebut justru didominasi oleh pelancong dari luar kota New York. Sisanya merupakan pengunjung dari warga lokal dan pekerja kantoran di sekitar Central Park.

Monas bakal jadi ikon dengan “wajah” baru [image source]

Dengan adanya perubahan pada kawasan Monas menjadi seperti Central Park, taman baru ini bisa menjadi ikon pariwisata sekaligus kebanggaan masyrarakt DKI Jakarta. Dengan Dengan konsep tampilan taman yang modern, udara yang segar dan terjaga kebersihannya, bisa menjadi senjata yang ampuh untuk menarik pelancong untuk berkunjung

Menambah Pemasukan Kas Daerah Bagi Pemerintah Kota

Bicara masalah pemasukan, tentu merupakan topik yang sangat menarik untuk dibicarakan. Terlebih, oleh pemerintah DKI Jakarta. Dengan dibangunnya kawasan Monas seperti Central Park, tentu akan semakin menarik minat warga Jakarta maupun non Jakarta untuk datang berkunjung. Idealnya, pemerintah bakal mendapatkan pemasukan dari retribusi parkir dan papan reklame yang mungkin ditempatkan pada areal taman tersebut. Toilet umum juga kali ya, kan bayar tuh!

Bakalan “menang” banyak nih pemerintah [image source]

Mungkin berbeda konsep dengan Monas, Central Park lebih banyak menggratiskan sarana publiknya agar masyarakat tertarik berkunjung ke tempat tersebut. Pengunjung yang datang pun tak perlu risau harus bayar karcis parkir dan bayar lagi ketika menggunakan toilet umum. Bisa jadi hanya pedagang makanan saja yang terkena pajak karena berjualan di areal Central Park tersebut.

Terlepas jadi atau tidaknya rencana perombakan kawsan Monas tersebut, pemerintah juga harus memperhatikan beberapa hal kecil. Seperti kebiasaan orang Indonesia yang kurang menjaga kebersihan dan kerapian, kemanan serta adanya pungli. Hal tersebut bisa saja terjadi pada saat acara pembukaan maupun pada momen hari besar maupun liburan. Memang tidak gampang untuk mengatasi hal tersebut. Meski begitu, jangan sampai rencana hebat tersebut hanya sebagai “kedok” belaka  untuk menguntungkan segelintir elite pemerintahan.