Jangan Malu Kalau Punya Sifat Sensitif, Ini 5 Alasan Kamu Adalah Calon Pemimpin Yang Hebat

Padahal menurut penelitian terbaru yang lebih ilmiah yang dilakukan oleh Dr. Elaine Aron, sensitif justru bernilai sebaliknya lho. Sensitif berarti peka terhadap apa yang terjadi di lingkungan, lebih empati kepada sesama, punya kemampuan bertahan yang baik, dan bisa bersikap hati-hati sebelum bertindak.

Nah lo, jauh banget kan dari konotasinya? Jadi anggapan yang selama ini kita anut justru mengaburkan arti dari sensitivitas itu sendiri. Sebenernya ini logis karena sensitif juga diartikan sebagai ‘rasa’ yang berhubungan dengan ‘indra’ yang ditandai dengan ketenangan dan perilaku yang baik.

Atas sifat-sifat baik tersebut, orang yang memiliki sensitivitas tinggi justru berpotensi besar menjadi seorang pemimpin yang hebat. Dilansir dari Lifehack, ini 5 alasan kenapa orang sensitif adalah calon pemimpin yang baik.

1. Mereka jeli terhadap hubungan interpersonal

via cloudfront.net

Orang yang sensitif punya antena emosi yang kuat untuk mengetahui hubungan interpersonal yang terjadi di lingkungannya. Mereka tahu persis siapa orang-orang yang cocok satu sama lain dan orang-orang yang kurang cocok untuk menjalin kerjasama.

Ketika jadi pemimpin, mereka udah handal untuk membagi anggota dan timnya ke dalam kelompok-kelompok untuk menjalankan sebuah misi. Dan hebatnya, misi itu pasti berhasil lantaran mereka pintar dalam menggerakkan tim berkat sensitivitas yang ia miliki.

2. Mereka punya kemampuan mendengar yang baik

via relevantcoaching.com

Kamu pasti setuju kan kalau pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mau mendengar, baik mendengar saran dan kritik dari bawahan maupun keluh kesah dan curhatan dari anak buahnya. Dan ya, orang yang sensitif punya kemampuan di bidang ini.

Nggak heran kalau mereka adalah calon pimpinan yang hebat karena mau mendengarkan orang lain. Mereka nggak akan segan-segan mendengar apa pun dari bawahannya dan bersikap layaknya mentor yang siap memberi masukan jika dibutuhkan.

3. Mereka bisa mengkritik dengan positif

via funnyjunk.com

Mereka yang sensitif tahu betul dan bisa menempatkan diri bagaimana caranya mengkritik orang lain tapi tanpa meyakiti perasaannya. Jadi meski mereka sering memberi kritikan, tapi sebisa mungkin kritikan tersebut nggak bikin orang lain tersinggung. Orang sensitif akan mencoba mengandai-andai jika dia yang jadi orang yang dikritik itu.

Buat mereka, kritik harus diikuti dengan sikap positif agar orang yang dikritik nggak merasa bersalah dan justru malah jadi minder.

4. Mereka menghargai bawahan dengan memberi motivasi

via pixabay.com

Setiap bawahan selalu ingin mendapatkan perhatian dari atasan, dan orang-orang sensitif bisa memahami hal itu dengan baik. Bagaimana motivasi sederhana membuat kinerja bawahan jadi lebih produktif. Untuk itu orang sensitif tahu bagaimana memotivasi bawahannya agar mereka merasa lebih dihargai oleh atasan. Kesalahan pada pekerjaan nggak lagi jadi senjata untuk menjatuhkan, tapi lebih dijadikan alasan untuk memotivasi orang lain bahwa mereka bisa lebih baik dari hari ini.

5. Mereka menghargai pentingnya memberi semangat

via sutori.com

Dengan sensitifnya perasaan, tentu orang ini paling tahu apa yang membuat karyawan merasa malas atau lebih semangat. Jadi, kekuatan semangat bisa jadi andalan orang sensitif untuk membangun produktifitas karyawan. Orang sensitif pun nggak akan malu jika disemangati oleh karyawan lainnya; karena rasa semangat itu bisa menular.

So, punya sensitivitas yang tinggi juatru bernilai positif bukan?