Kamu Mahasiswa yang Tertarik Jadi Freelance Writer? 5 Hal Ini Wajib Kamu Siapkan dari Sekarang

Kalau lagi nggak ada tugas, masa kuliah juga terhitung lebih nyantai daripada waktu SMA. Apalagi kalau kamu nggak ikutan UKM. Biarpun nggak lagi liburan, kamu punya banyak waktu buat nonton Game of Thrones dari season pertama.

Tapi, tunggu dulu! Apa kamu mau membuang waktu dengan nonton Game of Thrones dan main DotA sepanjang waktu? Itu terserah kamu sih. Tapi kalau-kalau kamu tertarik, sebenarnya masih ada banyak hal bermanfaat yang bisa kamu lakukan. Salah satunya dengan mencoba menulis sebagai penulis lepas/freelance writer (di Selipan dot com misalnya).

Menulis itu menyenangkan lho. Dan kenapa nunggu sampai lulus kuliah kalau bisa nulis mulai dari sekarang? Hitung-hitung semenjak jadi mahasiswa kamu bisa dapat pengalaman kerja dan (terutamanya) menimba duit tuh.

Meskipun begitu, merupakan hal yang salah jika kita anggap menulis itu gampang. Ada beberapa hal yang harus kamu persiapkan sebelum terjun jadi penulis.

1. Kreativitas dan imajinasi

via pixabay.com

Kemampuan ini penting banget untuk seorang penulis, terutama jika kamu berniat menggeluti bidang penulisan yang memakai teknik creative writing. Jika kamu miskin kreativitas dan imajinasi, itu berarti kemungkinan besar kamu akan kesulitan dapat ide yang bagus untuk dijadikan bahan tulisan. Kamu bahkan bakal kesulitan menulis caption yang lucu untuk suatu gambar/foto.

Tapi kreativitas itu bukanlah sesuatu yang begitu saja turun dari langit dan memasuki otak kamu. Sama halnya dengan kemampuan menulis, kreativitas itu bisa dan harusnya kamu latih. Coba deh sering-sering perhatikan keadaan sekeliling kamu. Daripada hanya sekadar melihat sesuatu tanpa berbuat apa pun, ada baiknya olah hasil pengamatan kamu atas fenomena yang terjadi di sekeliling jadi suatu topik untuk latihan menulis.

2. Kedisiplinan

via pexels.com

Biasanya ada dua tipe penulis yang sering bermasalah dengan kedisiplinan.

Pertama, penulis yang sering malas bekerja. Bayangkan saja jika kamu adalah seorang atasan yang setiap harinya berhadapan dengan bawahan pemalas. Saya yakin kamu bakalan lebih sering marahi bawahan kamu itu ketimbang kasih dia bonus atau pujian. Iya, ‘kan?

Kedua, penulis yang nggak sadar kalau dirinya kewalahan. Nggak sedikit lho freelancer yang ambil banyak pekerjaan dalam waktu bersamaan karena dia merasa dirinya sanggup. Tapi bukannya menghasilkan tulisan yang bagus dan memenuhi deadline, penulis macam ini malah sering menyerahkan hasil tulisan yang dibuat asal-asalan atau asal jadi.

Masalahnya, hasil tulisan kita itu akan dibaca oleh orang lain. Mana ada pembaca yang bakal senang kalau mereka disuguhi hasil tulisan yang dibuat asal jadi. Kamu juga pasti nggak mau makan hidangan yang dimasak asal-asalan sama kokinya.

3. Pengetahuan yang memadai

via pixabay.com

Jika kamu menulis berita atau artikel kesehatan, kamu harus punya pengetahuan yang mencukupi tentang topik yang bakal diulas. Itu mutlak. Dengan pengetahuan yang minim, Kamu bisa saja kasih informasi yang salah ke pembaca. Dan hal seperti itu adalah kesalahan fatal jika dilakukan oleh penulis.

Lalu darimana kamu bisa dapat pengetahuan?

Editor’s Pick

  • Nggak Sesuai Sama Fungsi Aslinya, Tapi 7 Benda Multifungsi Bikin Hidup Lebih Rapi
  • Udah Tahu Belum 3 Cara Mengukur Celana Jeans Tanpa Dicobain? Ada Caranya Di Sini
  • Simpel Banget! 12 ‘Bathroom Hacks’ Ini Memudahkan Kamu Dalam Merawat Tubuh

4. Kemauan untuk membaca dan research

via unsplash.com

Mau nggak mau, suka nggak suka, penulis yang baik itu harus banyak baca. Karena dari membacalah kita bisa dapat pengetahuan untuk menulis. Mau bukti?

Misalnya saja, suatu hari kamu membaca suatu artikel yang kasih kamu informasi yang bagus. Jangan sangka itu artikel ditulis begitu saja dan tanpa perencanaan lho. Artikel yang kita sebut bagus itu kemungkinan besar terlahir dari kombinasi antara research (pengumpulan informasi) dan daya pengamatan yang jeli.

Jadi bisa dibilang, penulis yang malas membaca nggak akan bisa menghasilkan tulisan bagus dan menarik.

Oh ya, dengan sering membaca kita juga bisa terus meningkatkan teknik dan gaya penulisan. Toh, kamu juga nggak akan tertarik membaca artikel yang dibawakan dengan gaya yang datar dan membosankan ‘kan?

5. Dan yang paling penting adalah kemampuan menulis dan menyunting

via pixabay.com

Nggak sedikit orang yang menganggap menulis itu kerjaan yang gampang. Saya bahkan pernah dengar ada orang yang bilang, “Ah, apa susahnya sih nulis. Tinggal ketik aja apa yang ada di pikiran.”

Well, pemikiran “Tinggal ketik apa yang ada di pikiran” memang nggak salah. Tapi menulis tentu nggak sesederhana itu. Selama ini saja saya masih sering menemukan hasil tulisan yang… katakanlah, kacau-balau. Saya sendiri nggak mengklaim diri sebagai penulis yang hebat, apalagi sempurna. Tapi saya masih bisa membedakan mana tulisan yang bagus dan mana yang jelek.

Dan karena saya sudah punya sedikit pengalaman, saya mau kasih sedikit tips nih buat kamu yang masih pemula. Saat kamu selesai menulis, coba tanyakan pada diri kamu sendiri:

“Apa kalimat-kalimat yang saya tulis ini sudah rapi? Apa ada kalimat yang nggak nyambung dengan kalimat selanjutnya?” – Saya sendiri sering menemukan penulis yang masih belum bisa membuat dan merangkai kalimat dengan benar.

“Apakah pemilihan diksi dalam tulisan saya sudah tidak ada masalah?” – Memilih kata yang tepat untuk disisipkan dalam kalimat itu penting, agar pesan yang pengin kamu sampaikan bisa diterima pembaca.

“Apa pendapat yang saya utarakan bisa dimengerti pembaca nantinya?” – Karena percuma jika kamu menulis, tapi yang ngerti tulisan kamu itu cuma kamu sendiri, sedangkan orang lain nggak ngerti.

 “Apa tujuan saya menulis? Apakah ingin memberi informasi, mengajak berdiskusi, menghibur pembaca, atau membuat mereka tertawa?” – Pastikan tujuan kamu itu terpenuhi.

“Apa ada kesalahan penulisan atau typo?” – Mengoreksi kesalahan penulisan adalah salah satu tugas editor. Tapi itu bukan berarti penulis bisa seenaknya memenuhi hasil tulisan dengan typo.

Hmm, poinnya lumayan banyak ya? Yaah, jadi penulis itu memang nggak gampang. Tapi itu bukan berarti minat kamu untuk jadi penulis berkurang ‘kan? Kamu sendiri tertarik nggak menulis untuk Selipan?