Keinginan Kita untuk Membeli Barang Mewah Ternyata Dipengaruhi Tingkat Testosteron lho! Kok Bisa Ya?

Membeli barang mewah otomatis bisa meningkatkan status seseorang di mata dunia, bukan? Saya pun mungkin akan lebih bangga memakai celana Luis Vuitton yang agak kedodoran ketimbang Levi’s yang pas di pinggang saya. Tapi sayang, saya bukan tipe orang yang rela menghabiskan uang puluhan untuk satu pasang celana atau jenis pakaian lainnya.

Tapi nggak sedikit juga kaum pria yang menghabiskan uangnya untuk pakaian mewah nan berkelas seperti Lous Vuitton, Calvin Klein, atau Supreme. Dan orang-orang kategori ini kemungkinan besar punya tingkat testosteron yang tinggi.

Lho, memang apa hubungannya testosteron dengan merek pakaian? Ternyata ada hubungannya. Penelitian terbaru dari Universitas Teknologi California atau biasa disebut Caltech mengungkap semakin tinggi tingkat testosteron pada diri seorang lelaki, maka semakin tinggi pula hasrat untuk membeli barang-barang berkelas (baca: mahal banget).

via dmarge.com

Tujuannya: Untuk memelihara derajat sosial.

Gimana ceritanya kedua hal itu bisa saling berhubungan? Menurut ilmuwan Caltech Profesor Colin Camarer, testosteron pada dasarnya berfungsi untuk memicu hasrat pencarian dan perlindungan status di kehidupan. Tingginya tingkat testosteron pada hewan bisa mendorong mereka untuk bertindak agresif (dalam mencari pasangan atau melindungi teritori). Sementara pada manusia zaman sekarang, agresivitas tersebut beralih menjadi upaya konsumtif untuk memelihara status sosial.

Sekitar 243 pria berusia 18-55 tahun mengikuti penelitian yang digagas Caltech ini. Para partisipan itu lalu diberi 10 miligram cairan testosteron. Tapi nggak semua dari mereka diberi testosteron, karena ternyata sebagiannya hanyalah placebo doang.

Empat jam kemudian mereka diminta kembali ke laboratorium dan menilai daftar iklan produk yang mereka suka dengan skala 1 (buruk) sampai 10 (paling diminati). Penilaian dari partisipan sendiri didasarkan pada aspek kualitas, kemewahan, atau kekuatan dari produk.

Setelah menjalani tes tersebut, diketahui bahwa partisipan yang sudah menerima testosteron ternyata lebih memilih produk-produk mewah. Penelitian ini menjadi juga sekaligus jadi bukti adanya bentuk baru dari kaum pria untuk membangun dominasi di lingkungan masyarakat yang konsumtif.

Musa (kiri) dan Ali (kanan), kolektor produk Supreme asal Inggris/ via vice.com

“Dalam dunia hewan, pejantan menghabiskan banyak waktu dan energi untuk berjuang membangun dominasi di habitatnya. Kita pun sama, tapi simbol dominasi kita adalah apa yang kita kenakan, kemudikan, dan kita gunakan sehari-hari; bukan cakar, tinju, dan otot,” kata Profesor Camerer.

Sampai sini kamu mungkin mengingat-ingat berbagai produk yang pernah kamu beli, lalu menghubungkannya dengan hasil penelitian Caltech. Tapi kalau dilihat dari sudut pandang tren masa kini, kayaknya memang nggak sedikit orang yang terobsesi sama merek berkelas, seperti Supreme atau Luois Vuitton misalnya. Satu kaos Supreme harganya bisa mencapai jutaan. Belum lagi produk limited-edition-nya, bisa sampai puluhan atau mungkin ratusan juta. Karena harganya yang mahal itu, orang-orang yang membeli produk Supreme pasti akan dipandang berbeda oleh masyarakat; lebih berkelas dan mewah.

Terlepas dari adanya pengaruh testosteron atau nggak, membeli barang mewah mungkin memang mencerminkan dominasi di lingkungan sosial. Tapi itu pun harus dibarengi dengan daya beli yang tinggi pula. Jangan sampai dompet kamu jadi tipis karena ngotot ingin terlihat dominan di mata dunia dengan memakai kaos Supreme. Yang ada malah terkesan maksa dan nggak baik buat kehidupanmu nantinya. Mau testosteronmu tinggi atau rendah, kamu bakal sengsara kalau sampai nggak punya uang buat makan ‘kan?

Apa kamu termasuk orang yang suka belanja mewah? Nggak ada salahnya tuh ngecek kadar testosteron ke dokter. Kalau ditanya kenapa pengin cek testosteron, jawab saja “Akhir-akhir ini saya suka beli barang mewah, Dok.”