Kisah Pria Menyelamatkan Pulau Yang Hampir Tenggelam Ini Bisa Bikin Kamu Terinspirasi Sekaligus Terharu

Sayangnya, karena dampak bencana tidak dirasakan secara langsung, kita tetap sibuk dengan rutinitas masing-masing. Tapi sekalinya rumah atau kampung halaman terancam bahaya bencana, barulah kita bertindak.

via boredomtherapy.com

Maka dari itulah kisah pria bernama Jadav Payeng di bawah ini patut jadi inpirasi buat kita semua.

Semua berawal sekitar 40 tahun yang lalu di pulau Majuli, India; pulau sungai tunggal terbesar di bumi dan rumah bagi 150.000 orang penduduknya.

Di sekeliling pulau tersebut ada Sungai Brahmaputra. Meskipun indah, nyatanya penduduk yang hidup di pinggiran sungai selalu dibuat tidak tenang. Sungai Brahmaputra sering kali meluap dan menyebabkan erosi yang mengikis pinggiran pulau.

via boredomtherapy.com

Data menunjukkan pada pertengahan abad ke-19, luas pulau Majuli mencapai 1.423 km persegi. Sedangkan sekarang luasnya hanya 350 km persegi saja. Faktanya, sudah tidak terhitung berapa jumlah penduduk lokal yang kehilangan tempat tinggal mereka.

via boredomtherapy.com

Dan ancaman akibat erosi pun tidak hanya sebatas itu.

Majuli sebenarnya kaya akan situs bersejarah peninggalan peradaban India kuno. Majuli juga merupakan tempat lahirnya budaya keagamaan Neo-Vaishnavite. Selama 600 tahun terakhir, para pemuja telah membangun biara yang disebut satras. Dulu terdapat 60 lebih satras di seluruh pulau; sedangkan sekarang hanya tersisa 30 akibat erosi.

Lebih buruknya lagi, para ilmuwan memprediksi Pulau Majuli akan lenyap dalam 20 tahun mendatang. Tidak ingin hal buruk semacam itu terjadi, Jadav Payeng turun tangan untuk menyelamatkan pulau beserta peninggalan budayanya.

via boredomtherapy.com

Waktu itu Jadav masih berumur 16 tahun ketika pertama kali memulai misinya di tahun 1979. Dan sejak saat itu pula ia terus berdedikasi terhadap tugasnya: menjadi aktivis yang berkomitmen memperkuat dataran pulau dengan menanam pohon sebanyak mungkin.

via boredomtherapy.com

Hampir 40 tahun kemudian, dedikasi Jadav akhirnya diketahui oleh dunia. Dia menjadi subjek dari film dokumenter pendek berjudul Forest Man di tahun 2013. Sekadar informasi, Forest Man sukses menyabet penghargaan Best Emerging Documentary di Festival Film Cannes 2014.

“Saya menanam semuanya sendiri,” kata Jadav saat diwawancarai di film dokumenter tersebut. “Awalnya, menanam bibit adalah pekerjaan yang menghabiskan waktu, tapi sekarang jauh lebih mudah sebab bibit bisa diperoleh dari pohonnya sendiri.”

Sudah pasti sulit bagi Jadav yang hampir seorang diri mengubah lanskap pulau, apalagi membuat hutan lebat dari yang tadinya tiada. Lebih buruk lagi, kini tantangan terbesarnya bukanlah erosi atau sungai, melainkan manusia.

via boredomtherapy.com

“Ketika pepohonan sudah besar, sulit bagi saya untuk melindunginya. Ancaman terbesar saya adalah manusia. Mereka bisa menghancurkan hutan saya untuk kepentingan ekonomi pribadi,” ujarnya.

Untungnya, sejauh ini misi Jadav terbilang sangat sukses. Sekarang Pulau Majuli memiliki banyak lahan hutan yang lebat. 40 tahun setelah Jadav muda pertama kali memulai misinya, ribuan pohon telah tumbuh.

Nah, untuk mengetahui seberapa kerennya usaha yang dilakukan Jadav, mari kita coba lakukan perbandingan. Kira-kira luas hutan yang diurus Jadav di Majuli mencapai 5,7 km persegi, sedangkan Central Park yang terkenal di New York City luasnya hanya 3,4 km persegi saja.

via boredomtherapy.com

Yup, hutannya Jadav lebih lebat dari pepohonan di Central Park. Apalagi dia membangun hutan itu seorang diri.

via boredomtherapy.com

Selain karena erosi, Jadav punya alasan lain di balik misinya, yaitu memulihkan kekayaan margasatwa di Majuli yang sempat hilang akibat masalah lingkungan. Yup, usaha pelestarian lingkungan yang dilakoni Jadav berperan penting dalam kehidupan margasatwa. Satwa lokal yang terancam punah seperti badak pun mulai kembali ke pulau Majuli. Wow.

via boredomtherapy.com

Hampir 100 kawanan gajah bergerak menuju pulau, dan mulai berkembang biak di sana. Ada juga kawanan Harimau bengal, dan satu spesies burung bangkai yang katanya telah menghilang dari pulau Majuli pada tahun 1970an.

via boredomtherapy.com

Setelah sekian lama, akhirnya pulau ini dihuni kembali oleh satwa yang pernah berkembang biak di sana. Namun, Jadav menganggap apa yang sudah dia bangun tidak akan pernah luput dari kerapuhan. “Tidak ada monster di alam ini, kecuali manusia,” kata Jadav. “Manusia mengonsumsi segala sesuatu sampai tidak ada yang tersisa,” sambungnya.

Jadav bahkan menyatakan kalau dirinya rela mengorbankan nyawa demi apa yang sudah ia bangun selama hidupnya.

“Langkahi dulu mayat saya sebelum Anda memotong pepohonan itu,” ujarnya.

Gak bisa disangkal lagi bahwa Jadav sudah melakukan pekerjaan yang luar biasa. Dia punya komitmen dan dedikasi yang kuat terhadap misi dan harapannya. Bahkan setelah semua hasil memuaskan yang ia raih, dia belum memutuskan untuk berhenti menanam pohon.

Buat kamu yang masih penasaran sama kisah Jadav Payeng, kamu bisa liat film dokumenternya berikut ini.

 Terinspirasi sama kisah Jadav? Jangan lupa share artikel ya, supaya makin banyak orang-orang yang terinspirasi kayak kamu, hehe. Sudah saatnya kita peduli sama bumi kita guysKita bisa mulai dari hal yang sederhana, misalnya menanam pohon di sekitar rumah kita, atau berhenti membuang sampah sembarangan.

Sumber: BoredomTherapy