Mari Kita Membahas 6 Keanehan yang Ada di Arwah Tumbal Nyai

Dan peringatan untuk kamu yang belum nonton. Membaca artikel ini barangkali akan mengurangi esensi keseruan saat kamu nonton Arwah, meskipun kayaknya kamu nggak bakal begitu terganggu dengan keterangan-keterangan yang bakal saya paparkan di sini.

Apa saja keanehan pada adegan-adegan di film Arwah? Langsung saja kita bahas.

1. Penggunaan bahasa Sunda yang nanggung

Awalnya saya mengira Arwah akan cukup banyak mengeksplorasi Jaipong dan kekayaan budaya Sunda, mengingat film dibuka dengan cukup menjanjikan. Penggunaan bahasa Sunda dan latar lagu Ayun Ambing jadi satu alasan kenapa saya berharap Arwah akan berbeda dengan film horor lain. Setidaknya materi yang dipunyai film ini punya potensi, karena dari cara menakuti-nakuti saya sudah tak pasang ekspektasi apa pun sejak awal.

Namun, penggunaan bahasa Sunda di film ini tak konsisten. Selain itu, paranormal pertama yang dibawa Lidia mengusir hantu dengan bahasa Sunda tanpa ada terjemahan lewat subtitle. Selepas komat-kamit beberapa menit, paranormal itu pun tak pernah terlihat lagi. Apa sebetulnya paranormal (Egy Fedly) adalah arwah?

2. Karakter Aki

Lain paranormal, lain lagi dengan karakter Aki (baca: kakek) yang melarang Syurkiani masuk ke rumah Nyi Imas. Dialah orang yang akhirnya memberi petunjuk, apa yang harus dilakukan Syurkiani, Lidia, dan Shakti agar teror tersebut berhenti. Dengan petunjuk sebuah tusuk konde, Aki bilang mereka harus mencari para penari jaipong yang dibunuh dan dijadikan tumbal, dan harus dimakamkan secara layak.

Si kakek dan rumahnya yang ternyata tidak ada./ via youtube.com

Lucunya, ternyata si aki ini senasib dengan si paranormal. Dia mendadak hilang. Dan rumah si aki yang awalnya bisa dilihat mata pun ternyata tidak ada.

Ketika tiga protagonis kita mengetahui fakta tersebut, mereka melihat satu warga lokal yang lewat. Lalu si Shakti bertanya, “Apa ada rumah di sini?”

Warga menjawab, “Saya lewat sini tiap hari, nggak ada rumah”.

Ini perkampungan macam apa. Tak ada warga dan hanya ada dua rumah saja, rumah Syurkiani dan rumah Nyi Imas.

3. Rahasia yang kurang diperlakukan seperti rahasia

Meskipun sosok Aki terlihat misterius, tetapi ketiga protagonis kita tetap nurut sama usulannya. Terdengar konyol? Ya, memang konyol. Kalau gitu akhirnya, ngapain si Aki dibuat jadi semacam hantu?

Tapi, mereka tetap kesulitan menemukan di mana jenazah para penari jaipong tersebut. Walhasil, mereka berusaha kembali menemukan petunjuk di dua tempat: kamar neneknya Syurkiyani dan rumah Nyi Imas. Anehnya, dengan begitu gampangnya mereka menemukan kotak rahasia tempat menyimpan video di kamar neneknya.

Akhirnya ada petunjuk/via youtube.com

Gini deh logikanya, jika kotak tersebut bersifat rahasia, mengapa tidak disembunyikan di tempat yang setidaknya butuh usaha untuk mencarinya. Ini kok malah disimpan di atas lantai, nggak ditutup apa-apa lagi.

“Kamu tahu di mana kuncinya?” tanya Shakti pada Syurkiani setelah mereka menemukan kotak rahasia itu dengan mudahnya.

“Nggak” jawab Syurkiani.

Melihat adegan tersebut saya sangat bersyukur sekali. Itu berarti si nenek orang yang pintar. Kotak rahasia disimpan di atas lantai, tapi kuncinya harus ditemukan. Tapi, aiih… ternyata akhirnya saya tetap dibikin kecewa. Hanya dengan tangan kosong, Shakti bisa membukanya. Itu kotak rahasia apa dus Indomie?

Naas, Syurkiani harus masuk rumah sakit. Lidia yang diam-diam riset menunjukkan klipping kepada Shakti yang bisa menjadi petunjuk. Itu lho, klipping kertas HVS yang ditempel potongan koran lama lalu dijilid biasa, bukan ring. Persis tugas SMA saya dahulu biar hemat bujet.

4. Menonton jaipong layaknya menonton film di bioskop

Rumah Nyi Imas/via youtube.com

Rumah Syurkiani begitu mewah dan megah, lengkap dengan segala perabotannya yang mentereng. Pun rumah Nyi Imas yang tampak luas sering diperlihatkan kamera dari arah depan secara menyeluruh. Tapi anehnya, tak ada orang lain lagi di kampung yang mereka tinggali. Tak pernah  juga diperlihatkan ada pertunjukkan jaipong di kampung. Jaipong yang merupakan salah satu inti dari film ini seolah dilupakan begitu saja.

Meskipun begitu, di akhir durasi ada satu adegan kilas balik pertunjukkan jaipong. Tapi alih-alih digambarkan sebagai pertunjukkan rakyat yang hanya menggunakan panggung sederhana, pertunjukkan jaipong dalam Arwah malah dibuat seperti pertunjukkan yang diadakan di panggung konser indoor. Kursinya juga terlihat senyaman kursi di bioskop.

Terus bagaimana penonton bisa nyawer? Entahlah

5. Penjahat di dalam video

Perhatikan ada pintu rak kebuka kan? Di situlah video terakhir disimpan/via youtube.com

Setelah mereka mendapat video rahasia tersebut, tentu mereka melanjutkan aktivitas dengan menonton bareng. Di video itulah mereka tahu siapa dalang di balik semua pembunuh penari jaipong itu.

Coba bayangkan, video itu berisikan dua pembunuh yang sedang berdialog supaya aksinya tidak ketahuan. Lokasi pengambilan gambarnya persis di atas tangga, disorot dari bawah dengan kemiringan sekitar 45 derajat.

Pertanyaannya, siapa yang merekam video? Mereka tidak terlihat sedang merekam diri mereka. Apa sebegitu jelinya mereka mempersiapkan tripod lalu merekam video percakapan mereka? Ah, ya Tuhan.

6. Klimaks pun datang

Paranormal ini niat nolong, tapi diusir Syurkiani/ via youtube.com

Di penghujung durasi, Syurkiani yang tengah berada dalam keadaan koma didatangi Lidia yang kini ditemani paranormal baru. Kali ini paranormalnya seorang perempuan, beda sama paranormal yang pertama.

Kalau diperhatikan, adegan ini sebenarnya difungsikan sebagai klimaks. Tapi alih-alih menampilkan pertarungan melawan setan, adegan terakhir cuman bikin saya geleng-geleng dada sambil mengelus-elus kepala. Ada ya film Indonesia kayak gini? Sekacau-kacaunya film horor Indonesia yang tayang tahun ini, biasanya diakhiri dengan pertarungan antara tokoh utama dengan setan. Lha ini?

Si paranormal cuman duduk-duduk manja sambil komat-kamit depan lilin. Lidia cuman duduk lesu sok sedih, dan si Shakti disuruh menemukan mayat di rumah Nyi Imas. Kalau Shakti tak berhasil, maka Syurkiani akan mati. Tidak perlu berharap ada adegan seram atau menegangkan, sejak awal film ini minim emosi.

Film ini masih punya kelebihan

Tapi saya tak memungkiri, setidaknya ada dua cara menakut-nakuti yang cukup seram di film ini. Pertama saat Syurkiani naik ke atas tangga dan diikuti hantu. Si hantu tak ditampakkan secara langsung, tapi melalui bayangan yang ada di dinding. Satu lagi, saat dia diserang hantu. Si hantu tak menampakkan diri, tapi kehadirannya ditunjukkan lewat jejak kaki yang semakin lama semakin dekat dengan Syurkiani.

Ka Me Ha Me Haaah!/ via youtube.com

Dua cara tersebut sudah mumpuni padahal dalam seni menakut-nakuti. Tak istimewa memang tapi lebih baik dari yang ada di keseluruhan film.

Wah ada beras dan minyak goreng gratis nih/via RA Pictures

Satu kelebihan lain dari film ini: kamu bisa mendapat minyak goreng! Bayangkan apakah ada film yang menawari penontonnya minyak goreng!?

Sekian dulu ulasan dari saya. Terimakasih atas perhatiannya!

Oh ya, bagi kamu yang sudah nonton, apa ada adegan lain yang layak masuk daftar ini?