Menjelajahi Waktu ke 7 Era Paling Mengerikan di Berbagai Belahan Dunia

Whuuush!/via hardwarezone.com.sg

Nah, sebagai penjelajah waktu profesional, kamu dibebani misi untuk mendatangi beberapa era dalam sejarah, di mana kehidupan manusia begitu dekat dengan kematian. Terdengar menantang, bukan? Misi ini sangat berbahaya, ada kemungkinan kamu bisa mati dalam beberapa hari setibanya di era tujuan.

Oleh karena itu kamu butuh persiapan yang matang. Berbagai ancaman seperti wabah penyakit, cuaca ekstrem, dan lingkungan yang kejam siap menyambut kedatanganmu di masa lalu. Oh, kamu sudah siap? Kalau begitu yuk langsung saja kita berangkat menjelajahi waktu dan merasakan kejamnya kehidupan di berbagai belahan dunia di masa lalu.

1. London tahun 1660an

via wikimedia.commons.org

Selamat datang di London 1665! Maaf, saat ini memang kamu nggak bisa menikmati keindahan kota London zaman dulu dengan sempurna. Dan mungkin kamu nggak pernah menyangka pemandangan Ibukota negara penemu sepak bola ini pernah kacau balau seperti ini.

Biar saya perjelas, di masa ini London sedang dilanda The Great Plague (wabah besar) yang mematikan. Pertama kali muncul saat musim panas, wabah penyakit yang ditularkan oleh tikus ini sampai merenggut 31,159 nyawa, atau 15% dari jumlah populasi London.

Sekalinya tertular, rata-rata kesempatan untuk bertahan hidup hanya empat hari saja (mengingat belum adanya obat yang efektif buat menyembuhkan penyakit tersebut). Dan coba bayangkan, saking kewalahan menghadapi wabah, penduduk London sampai membakar seisi kota guna membunuh tikus-tikus yang jadi sumber penyakit. Peristiwa di tahun 1666 yang dikenal dengan sebutan The Great Fire of London itu mengakibatkan 80% isi kota terbakar.

2. Prancis, tahun 1709

via en.wikipedia.org

Udara dingin seketika menyambutmu di Italia tahun 1709. Pakai baju tebal yang sudah kamu siapkan! Dataran Eropa di tahun 1709 sedang dilanda Great Frost; musim dingin paling ekstrem dalam 500 tahun terakhir. Saking dinginnya, air sungai di Venesia sampai membeku, membuat pelabuhan tak bisa beroperasi.

Great Frost membuat suhu di Eropa menurun hingga -12 sampai -15 derajat celsius. Bencana tersebut mengakibatkan dataran Eropa membeku selama berbulan-bulan. Prancis jadi negara yang terkena dampak paling parah. Cuaca ekstrem membuat produksi bahan makanan berkurang. Akibatnya terjadi kelaparan yang memakan korban sebanyak 600,000 jiwa sampai akhir tahun 1710.

Kalau tinggal di Prancis saat Great Frost, rata-rata peluang untuk bertahan hidup hanya sekitar 1-2 bulan. Apalagi jika kamu memang nggak terbiasa dengan suhu dingin Eropa. Bisa-bisa kamu mati kedinginan tuh.

3. Amerika Utara tahun 1600an

via sciencemag.org

Saat ini kamu ada di benua Amerika Utara, dan tengah disambut oleh pribumi. Tapi sebentar lagi penjelajah Eropa akan datang dengan kapal layar mereka. Yup, ini adalah era di mana bangsa Eropa pertama kali datang ke benua Amerika dan berinteraksi dengan penduduk asli.

Tapi ternyata bangsa Eropa datang membawa tamu yang tak diharapkan: virus smallpox.

Smallpox belum sampai ke Amerika Utara sampai tahun 1600an. Sejak pribumi Amerika pertama kali terkena virus smallpox, hanya sekitar 5-10% dari keseluruhan penduduk yang selamat. Sementara itu di New England, populasi penduduk asli Amerika berkurang 70% akibat penyebaran smallpox di tahun 1633-1634. Penyakit menular smallpox membuat sekujur badan penderitanya dipenuhi cacar (tapi sangat sakit jika disentuh).

Smallpox begitu mematikan dan bisa membunuh korbannya hanya dalam waktu 12 hari saja. Beruntung di zaman ini para ilmuwan sudah berhasil memusnahkan virus smallpox seutuhnya.

4. Florence abad 14

via worldhistory.us

Selamat datang di era Renaissance Italia! Saat ini kamu berada di Kota Firenze (Florence), di mana banyak mayat bergelimpangan di jalan dan sudut kota. Bukan, mereka bukan mati karena peperangan. Penyebabnya adalah Black Death, wabah penyakit paling mematikan sepanjang sejarah.

Black Death merupakan penyakit yang dibawa oleh lalat tikus Asia yang mencapai Eropa melalui jalur perdagangan. Menurut perkiraan, dalam kurun waktu empat tahun saja (1347-1351), sekitar 75-200 juta penduduk Eurasia dan Eropa meninggal karena penyakit Black Death.

Sejarawan Italia, Agnolo di Tura mengisahkan kalau kuburan massal begitu banyak dan menggunung hingga tak tertutup tanah. Akibatnya anjing-anjing jalanan kerap memakan dan menggiring mayat yang bertebaran di sudut kota. Di Tura juga mengatakan “aku mengubur kelima anakku dengan tanganku sendiri.” Hmm… mengenaskan, ya.

Tanpa penanganan medis, Black Death bisa membunuh korbannya dalam waktu 3 hari.

5. Amerika Tengah abad 14

via bbc.com

Inilah zaman di mana bangsa Aztec masih berjaya. Ya, kuil-kuil yang dibuat orang Aztec memang punya keunikan tersendiri dan jadi ciri khas peradaban Aztec di zaman modern. Dari banyaknya kuil yang bisa kamu temukan, mungkin kamu menyangka kalau bangsa Aztec punya peradaban yang religius dan bermoral. Tapi sayang, sebentar lagi kamu bakal menemukan fakta mengerikan di balik kemegahan kuil-kuil Aztec.

Kaum Aztec percaya bahwa setiap bencana yang terjadi disebabkan oleh dewa-dewa yang murka. Atas alasan itu, setiap tahun bangsa Aztec mengorbankan sekitar 20.000 nyawa untuk dipersembahkan pada Dewa mereka. Ritual pengorbanan dilakukan di setiap kuil yang tersebar di Amerika Tengah.

Masyarakat Aztec meyakini matahari akan berhenti bersinar jika tak ada darah laki-laki yang dikorbankan bagi dewa matahari, Huitzilopochtli. Tak hanya orang dewasa dan laki-laki saja, anak-anak pun kerap dikorbankan untuk menyenangkan hati dewa hujan dan air, Tlaloc. Sedangkan dewi pertanian Chicomecoatl lebih menyukai gadis yang dipenggal sebagai persembahannya.

Satu penelitian mengatakan pada saat kuil Huitzilopoctli baru selesai dibangun di tahun 1487, sekitar 80.400 orang dikorbankan dalam satu upacara persembahan. Tak heran kalau Aztec dianggap sebagai salah satu peradaban terkejam dalam sejarah.

Oh iya, satu dewa lagi belum disebut namanya. Dia adalah dewa malam hari Tezcatlipoca, yang gemar ‘meminum’ darah orang-orang yang tewas di peperangan. Jadi untuk menyenangkan hati Tezcatlipoca, bangsa Aztec tak segan untuk memulai pertumpahan darah (baca: peperangan) di antara mereka.

Kalau kamu hidup bersama bangsa Aztec, nggak menutup kemungkinan kamu bakal jadi ‘santapan’ dewa, bahkan saat masih anak-anak.

6. Tiongkok tahun 200 sebelum masehi

via mymodernmet.com

Sekitar tahun 200 sebelum masehi, Tiongkok masih dipimpin oleh kaisar pertamanya Qin Shi Huang. Di masa kekaisaran inilah Tembok Besar yang memisahkan Tiongkok dengan daerah utara mulai dibangun. Tapi pembangunan tembok terpanjang dalam sejarah itu bukan tanpa pengorbanan. Menurut perkiraan, sebanyak satu juta penduduk diperbudak oleh Sang Kaisar untuk membangun Tembok Besar. Sayangnya, hanya sekitar puluhan ribu dari mereka yang berhasil selamat.

Bahkan kabarnya, kematian di sekitar situs pembangunan adalah hal yang lumrah. Kelelahan dan kelaparan biasanya jadi penyebab utama. Tapi ada pula beberapa kemungkinan mengerikan lainnya yang bisa menghantui pekerja paksa Tembok Besar. Misalnya dianiaya oleh prajurit pengawas, atau jatuh dari atas tembok.

Obsesi Kaisar Qin nggak hanya sebatas membangun Tembok Besar saja. Dia juga memerintahkan 700.000 orang untuk membuat (sekitar) 8000 patung Terra cota. Tujuannya? Untuk menemani Sang Kaisar di tempat peristirahatan terakhirnya, alam kubur.

7. Selat Sunda akhir tahun 1883

via en.wikipedia.org

Di Selat Sunda bulan Mei tahun 1883, kamu bisa melihat asap vulkanik Krakatau yang mengepul tinggi ke langit. Ya, nampaknya itu pertanda buruk bagi orang-orang yang tinggal di sekitar Selat Sunda. Dan mungkin orang-orang yang hidup pada masa itu tak pernah menyangka jika Krakatau akan menorehkan catatan penting dalam sejarah manusia; letusan gunung berapi terdahsyat sepanjang sejarah.

Pukul 5:30 di tanggal 27 Agustus 1883, gunung Krakatau mulai meletus. Empat letusan besar terjadi secara beruntun. Salah satu letusannya begitu keras hingga bisa terdengar dalam radius 4.506 kilometer (mencapai Sri Lanka dan Australia). Letusan itu memicu gelombang laut yang menyebar ke beberapa penjuru dunia.

Tsunami, muntahan gunung berapi, dan abu panas Krakatau menewaskan lebih dari 36.000 penduduk Indonesia. Saking dahsyatnya letusan Krakatau, asap vulkanik yang ditimbulkannya mampu mengubah iklim di seluruh dunia selama beberapa tahun kemudian. Bahkan selama tiga hari daerah Jawa Barat dan Sumatra Selatan jadi gelap karena tebalnya asap.

Beruntung kamu hidup di masa berbeda dan nggak sempat melihat pemandangan langit di Indonesia saat Krakatau meletus.

Akhirnya kita sampai di ujung perjalanan. Kamu baru saja mengunjungi beberapa era di berbagai belahan dunia yang pastinya nggak ingin kamu tempati. Sekarang saatnya kita pulang, silakan naik ke mobil penjelajah waktu dan kembali ke zaman di mana kita bisa hidup lebih tenang.