Petrus dan Catherine, Beauty and The Beast di Dunia Nyata yang Hidup Sengsara

Seperti yang sudah kamu tahui, jalan cerita Beauty and the Beast berakhir bahagia; The Beast akhirnya lepas dari kutukan yang membuatnya terlihat seperti hewan buas. Tapi peristiwa itu sama sekali tak terjadi pada Petrus Gonsalvus, sang ‘The Beast’ di kehidupan nyata. Justru semasa hidupnya, Petrus, Catherine, dan anak-anaknya kerap mendapatkan perlakuan yang kurang mengenakkan dari para bangsawan dan orang-orang di sekitar mereka. Bahkan mereka sempat dipaksa berkelana dari istana ke istana hanya demi menghibur para raja. Kehidupan si cantik dan si buruk rupa yang asli begitu suram, sangat berbeda dari apa yang kamu lihat di film Disney.

Petrus Gonsalvus/via supercuriuso.com

Sampai sini pasti kamu bertanya-tanya siapakah Petrus Gonsalvus dan bagaimana perjalanan hidupnya dengan Catherine. Simak terus kalau kamu penasaran.

Petrus Gonsalvus lahir di Canary Island (Spanyol) pada tahun 1537. Sejak kecil ia dipanggil ‘Beast’ (orang liar), meskipun ia sendiri tak suka dengan julukan itu. Julukan itu didapatnya karena ia punya kelainan yang menyebabkan bulu-bulu lebat tumbuh di sekujur tubuhnya. Ilmu pengetahuan zaman sekarang menyebutnya hypertrichosis; penyakit langka yang hanya diderita 50 orang sejak zaman pertengahan hingga kini.

Penyakit hypertrichosis yang diderita Petrus merupakan pertanda buruk bagi masa depan hidupnya. Sebab waktu itu, orang-orang dengan keanehan seperti Petrus kerap diperjualbelikan sebagai tontonan dan hiburan para bangsawan. Dan benar saja, pada usia 10 tahun Petrus akhirnya dikirim ke istana Raja Henry II di Prancis.

Di sana Petrus dikerumuni para bangsawan dan orang-orang kerajaan yang penasaran dengan keanehan yang ia miliki. Para penonton menyorakinya dengan kata “orang liar”, sembari menunggu ia menunjukkan kebuasannya. Atau setidaknya, menujukkan gigi-giginya seperti serigala.

Gonsalvus tetap dianggap orang liar di istana/ via commons.wikimedia.org

Tapi semua hal itu tak pernah terjadi. Petrus tetap diam. Setelah diselidiki, penonton akhirnya menyadari kalau Petrus tak lebih dari bocah 10 tahun biasa.

Raja Henry kemudian menjadikan Petrus sebagai peliharaannya. Raja mendandani Petrus dengan pakaian kerajaan, juga memberikan pendidikan yang berkualitas. Petrus menepis keyakinan para bangsawan kalau ia tidak bisa dididik. Berkat pendidikan yang dijalaninya, ia bisa menguasai tiga bahasa (termasuk Latin) dan memahami etika dengan baik. Raja pun menyukai Petrus dan menjadikannya salah satu anggota keluarga kerajaan.

Catherine de’Medici/ via reign.wiki.com

Meskipun demikian Petrus tetap mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari orang-orang di sekitarnya.

Setelah Raja Henry meninggal, untuk sementara kerajaan dipimpin oleh istrinya, Ratu Catherine de’Medici. Ia berniat menikahkan Petrus dengan seorang wanita. Tapi di balik niat tersebut, Ratu Catherine sebenarnya ingin melihat apakah anak Petrus akan memiliki kelainan pula.

Sambil merahasiakan kondisi fisik Petrus, Ratu Catherine mencarikan gadis yang kuat, yang sekiranya tidak takut dengan ‘orang liar’ seperti Petrus. Setelah mencari dan menimbang-nimbang, Ratu Catherine akhirnya memilih gadis yang juga memiliki nama Catherine, anak perempuan dari pelayan kerajaan.

Editor Pick’s

  • Percaya Nggak Percaya, 5 Barang Selundupan Ini Ternyata Dijual Di Pasar Gelap! Konyol Banget Deh
  • Kamu Punya Teman yang Mukanya Sering Terlihat Jutek? Menurut Ilmuwan, Ini nih Penyebabnya
  • Tragis, Ini 6 Kisah Tentang Mereka yang Kehilangan Nyawa Karena Berciuman
  • 5 Percobaan Gila yang Dilakukan Manusia demi Memperoleh Keabadian, Bukan untuk Ditiru!
  • 10 Teori ‘Gila’ Tentang Kehidupan Yang Dipercaya Orang-Orang Di Abad Pertengahan
Dua anak Petrus yang menderita Hipertrichosis/ via commons.wikimedia.org

Reaksi Catherine ketika pertama kali melihat suaminya tak tercatat dalam sejarah. Tapi menurut rumor, pada awalnya Catherine tak merasa senang dengan pernikahan tersebut. Ia terkejut dan sedih ketika mendapati bangsawan mempelai prianya berbulu lebat seperti binatang. Tapi lama-kelamaan, hati Catherine nampaknya luluh juga oleh kepribadian Petrus.

Beberapa tahun setelahnya, pernikahan Catherine dan Petrus dikaruniai dua anak. Keduanya tak dilahirkan dengan hypertrichosis seperti ayah mereka. Ratu Catherine tentunya kecewa mengetahui eksperimennya tak berjalan dengan baik. Tapi kemudian dua anak Petrus-Catherine berikutnya lahir dengan rambut menutupi seluruh tubuh mereka.

via en.wikipedia.org

Dari tujuh anak Catherine dan Petrus, empat di antaranya menderita hypertrichosis. Mengetahui hal ini kerajaan-kerajaan Eropa semakin tertarik dengan keluarga Petrus Gonsalvus. Mereka lalu diperintahkan untuk berkeliling Eropa demi ‘menghibur’ para bangsawan. Orang-orang terpukau dengan ‘keluarga liar’ tersebut, sedangkan para tabib mempelajari kondisi kelainan keluarga Petrus. Dan tahun 1580-an, keluarga Gonsalvus dilukis oleh seniman di beberapa istana.

Petrus dan Catherine akhirnya menetap di Parma, Italia, di mana Duke Ranuccio Farnese mempekerjakan mereka. Tapi di sana keluarga Gonsalvus masih saja dapat perlakuan kurang layak. Kondisi mereka terus dieksploitasi oleh para bangsawan yang ingin melihat keanehan alam. Lebih tragis lagi, Duke Ranuccio mengirim empat anak Petrus yang berbulu sebagai hadiah pada teman-teman bangsawannya. Anak-anak itu mengalami nasib sama seperti ayahnya; lebih dianggap sebagai hewan peliharaan daripada manusia.

Menjelang usia tua, Petrus dan Catherine hidup di area terpencil di Italia. Sampai sini tidak ada catatan sejarah mengenai kehidupan mereka selanjutnya. Petrus dan Catherine telah menikah selama 40 tahun, dan selama itu pula keluarga Gonsalvus dikucilkan oleh orang-orang kerajaan hampir di seluruh Eropa.

Kamu baru saja membaca cerita Beauty and the Beast… versi aslinya. Kehidupan Petrus dan Catherine tak menemui happy ending seperti ‘The Beast’ dan Putri Belle. Cerita seperti ini memang terlalu gelap untuk disajikan ke anak-anak, bukan?