Punks Not Dead: Cerita Tentang Kehidupan Sid Vicious yang Berantakan

Jangan sekali-kali mengusik Vicious di atas panggung, sebab dia tak akan berpikir dua kali buat mengayunkan bassnya ke wajah kamu/via billboard.com

Sejujurnya tak banyak kontribusi yang bisa dia berikan saat musik punk di Inggris memasuki era kejayaannya. Tapi sosok Sid Vicious sudah kepalang jadi ikon punk; selalu dikenang lewat pose sangarnya di poster dan kover album Sex Pistols sampai sekarang.

Johnny Rotten dan Sid Vicious/via imgur.com

Lahir dengan nama John Simon Ritchie, masa-masa kecil Simon tak sewajar dan sebahagia anak-anak pada umumnya. Orangtuanya bercerai saat Simon masih kecil. Ibunya mesti mencari nafkah dengan berganti-ganti pekerjaan, dan salah satunya jadi pengedar narkoba. Simon dan ibunya pun sempat pindah ke Spanyol sebelum akhirnya kembali lagi ke Inggris, dan menetap di Hackney, London. Di sanalah Simon pertama kali bertemu dengan John Lydon alias Johnny Rotten, vokalis Sex Pistols.

Lydon kemudian menjalin pertemanan Simon. Menurut Lydon, Simon adalah pribadi yang agresif dan agak nyeleneh, meskipun dia mudah bergaul. Di tengah musim dingin Simon akan bertelanjang dada ke toko pakaian untuk membeli kaus yang bergambar band favoritnya. Dia tak mau memakai apapun selain kaus itu.

Lydon memberi Simon julukan Sid Vicious yang diambil dari nama hamster peliharaannya, Sid. Suatu hari Sid menggigit jari Ayah Lydon dan sang Ayah berkata, “Hamster ini kejam sekali (vicious)!”

Gerakan musik British punk di Inggris mulai muncul setelah Rotten (vokalis), Glen Matlock (bassis), Steve Jones (gitaris), dan Paul Cook (drummer) membentuk Sex Pistols. Penampilan mereka selalu dihadiri oleh manager Malcolm McLaren dan seorang teman yang nyentrik. Yup, Sid Vicious. Vicious selalu berjoget ‘pogo’ di atas panggung saat Sex Pistols tampil. Tak hanya itu, dia pun sering melompat berkali-kali ke arah penonton untuk membuat suasana konser semakin liar.

Sebelum bergabung dengan Sex Pistols, Sid Vicious sempat jadi personel sementara beberapa band punk. Dia juga pernah membentuk bandnya sendiri. Tapi sayangnya, Vicious lebih dikenal sebagai penonton yang anarkis ketimbang sebagai personel band.

Suatu ketika di kerumunan penonton Vicious mengayun-ayunkan rantai di atas kepalanya, membuat orang-orang di sekitarnya berlarian menghindar. Dia juga pernah ditangkap polisi karena melempar gelas ke arah The Damned yang lagi tampil di panggung. Gelas itu itu menghantam pilar, lalu pecahannya melukai muka pacar vokalis The Damned.

Tapi aksi brutal yang paling terkenal terjadi saat Vicious menganiaya jurnalis Nick Kent dengan rantai sepeda di konser Sex Pistols. Alasannya sepele, Vicious merasa tersinggung dengan kritikan Kent terhadap Sex Pistols di tulisannya. Padahal orang-orang yang menyaksikan kejadian itu tak tahu kritikan macam apa yang ditulis Nick Kent. Bisa jadi itu cuma akal-akalan Vicious saja untuk mendapat perhatian.

Ada berbagai cara untuk mendapat perhatian orang lain, tapi Vicious sepertinya lebih suka melakukannya dengan cara yang menyakitkan. Misalnya menggores tulisan ke badannya sendiri dengan pisau, atau mematikan puntung rokok di kulitnya. Sifat buruk itu tak lepas dari pengaruh kehidupan masa kecilnya dan narkoba, yang bisa dengan mudah dia dapat dari ibunya.

Waktu pertama kali datang ke Inggris, Dee Dee Ramone (bassis Ramones) bahkan sempat dibuat terkejut saat memergoki Vicious di toilet yang penuh dengan muntahan dan air kencing. “Dia memasukan narkoba ke dalam tabung, lalu mengisi tabung dengan muntahan di toilet, menusukkan jarum ke lengannya, dan pergi begitu saja.”

Editor’s Pick

  • 11 Grup Musik Terkenal yang Punya Kisah Konyol di Balik Nama Band Mereka
  • Mengungkap Misteri Kutukan Raja Tutankhamun Yang Sempat Menghebohkan Dunia
  • Siapa Sangka, Di Balik 7 Foto Ganjil Ini Ada Tragedi Yang Mengerikan
  • Percaya Nggak Percaya, 4 Perilaku Konyol Masyarakat Modern Ini Ternyata Sudah Eksis dari Zaman Dulu

Bergabung dengan Sex Pistols

via riotfst.org

Musim semi 1977, Sid Vicious diundang Rotten untuk menggantikan Glen Matlock yang pergi karena selalu ‘bentrok’ dengan Rotten. Lucunya, ibu Johnny Rotten tak menyetujui keputusan anaknya mendatangkan Vicious (yang tak bisa bermain bass). “Alasan terkutuk macam apa yang membuatmu mengajaknya bergabung?” Kira-kira begitulah kata Ibu Johnny Rotten waktu itu.

Tapi, apa yang dikatakan ibu Johnny Rotten ternyata ada benarnya juga.

via ranker.com

Saat konser tur Sex Pistols di Amerika Serikat, Vicious bikin serangkaian masalah. Pertama, dia berkelahi dengan fan lalu bermain bass meski hidung serta dadanya berlumuran darah. Kemudian di lain hari, Vicious makan dengan preman yang penasaran dengan ketangguhannya. Dia menjawab rasa penasaran preman itu dengan mengiris jarinya sendiri hingga berdarah, lalu menghabiskan makanan yang sudah tercampur darah.

Personel dan manajer Sex Pistols bahkan sempat kerepotan saat Vicious kabur dari konser untuk mencari heroin. Dia ditemukan di rumah sakit setelah mengukir kalimat “Give me a fix di dadanya dengan pisau. Di konser berikutnya, Vicious kabur lagi usai diimingi heroin oleh Tom Forcade, jurnalis yang ingin membuat film dokumenter tentang Sex Pistols. Tak heran setelah tur selesai Johnny Rotten merasa kesal dan seakan dikhianati oleh Vicious.

Misteri kematian Nancy Spungen

via imdb.com

Nancy Spungen adalah penggemar berat Sex Pistols yang terbang dari Amerika menuju London untuk bertemu idolanya. Sama dengan Vicious, Spungen adalah pecandu heroin yang punya masalah mental.

Kisah cinta mereka pun cukup membingungkan. Terkadang Vicious bersikap lemah lembut dan romantik pada Spungen. Tapi saat dilanda masalah, Vicious suka memukuli Nancy sampai babak belur. Anehnya, Spungen selalu rela berada di samping laki-laki agresif seperti Vicious. “Dia sedang menjadi orang lain,” begitulah curhatan Spungen pada ibunya setiap kali dianiaya oleh bassis Sex Pistols tersebut.

Petualangan Spungen dan Vicious di dunia narkoba akhirnya berakhir tragis. Saat menginap di hotel Chelsea (Manhattan, Amerika Serikat) sambil berpesta narkoba pada 12 Oktober 1978, Nancy ditemukan tewas di kamar mandi dengan luka tusukan di perutnya. Sebelumnya, sekitar dua pengedar narkoba sempat masuk ke kamar yang disewa Nancy dan Vicious.

Vicious ditahan atas tuduhan pembunuhan. Tapi beberapa hari kemudian dia dibebaskan (dengan jaminan) berkat bantuan mantan manajer Sex Pistols, Malcolm McLaren. Tak ada bukti yang bisa menjebloskan Vicious ke penjara. Dari keterangan Vicious, dia sedang tak berada di hotel saat Spungen dibunuh.

1 Februari 1979 di acara pesta, Vicious meninggal setelah berjam-jam mengonsumsi heroin. Orang-orang yang menghadiri pesta itu sempat berusaha membangunkannya, tapi percuma. Ibu Vicious, Anne Beverly, menemukan anaknya tewas di pagi hari.

Karier bermusik Sid Vicious tergolong singkat, hanya dua tahun. Karier dan kehidupannya terhenti di usia 21 tahun.

Beberapa jurnalis sempat menganggap kematian Vicious adalah simbol dari kematian punk itu sendiri. Ya, setidaknya mungkin itu yang dirasakan oleh penikmat punk era 70an. Bukan karena dia pemusik yang hebat, tapi karena dia menjalani kehidupan punk sejati yang liar dan menantang.