Punya Cita-Cita Jadi Tentara? Simak Dulu Kisahnya dalam 5 Film Indonesia Ini

Mari sejenak kita kembali masa kecil waktu kita SD dulu. Pertanyaan di atas seringkali terlontar dari guru kita. Jujur, waktu itu kamu jawab apa tentang cita-cita kamu? Kalau boleh dikumpulin sih, jawaban dokter dan insinyur itu mungkin jadi jawaban yang paling sering terdengar. Waktu itu belum tentu kita mengerti tentang profesi tersebut.

Tapi… saya punya jawaban sendiri: “Saya ingin jadi ABRI”. Kalau ditanya alasannya kenapa, sama sih saya juga nggak ngerti. Rasanya senang saja, punya koleksi mulai mainan, jaket, sampai tas dengan ornamen berwarna hijau-hijau khas ABRI.

ABRI sendiri, yang harinya diperingati setiap tanggal 5 Oktober, kini dikenal dengan nama TNI (Tentara Nasional Indonesia) . Sebagai salah satu elemen penting yang dimiliki negara, sudah banyak sineas yang menceritakan kisah hidup para TNI di dalam medium layar lebar. Mulai dari kehidupan di asrama saat latihan, ketika harus bertugas ke medan perang, hingga dari sudut pandang kehidupan pribadi dan percintaannya.

Buat kamu yang dulunya punya cita-cita jadi tentara, tonton dulu deh 5 film Indonesia berikut ini. Siapa tahu bisa jadi bahan pembelajaran.

1. Doea Tanda Cinta (2015)

Film ini mengisahkan tentang dua orang pemuda, Bagus (Fedi Nuril) dan Mahesa (Rendy Kjaernett) yang awalnya berkarakter bandel, nakal, dan malas sampai bisa bertransformasi menjadi perwira berprestasi. Mereka mengikuti pendidikan militer di Akademi Militer dengan segala suka dukanya.

Salah satu dari mereka harus gugur di medan peran./ via youtube.com

Tak hanya bercerita tentang pendidikan militer, terkadang Doea Tanda Cinta pun diselingi kelucuan yang kerap terjadi karena ulah Mahesa si pemalas. Teman-teman satu peletonnya sering dibuat jengkel karena sering ikut-ikutan kena hukuman. Padahal yah, mereka nggak punya dosa apa pun.

Banyak menceritakan suka duka saat pendidikan militer, Doea Tanda Cinta tak lupa juga menambahkan konflik percintaan pada kehidupan para tokohnya.

Dikisahkan Bagus dan Mahesa sama-sama jatuh cinta pada seorang gadis bernama Laras, adik sepupunya Sermatutar Bram, senior dari Bagus dan Mahesa di Akmil. Mahesa yang lebih aktif mencoba mendekati Laras. Meskipun perkenalan mereka hanya sebentar, Mahesa langsung mencoba menyampaikan perasaanya pada Laras dengan Bagus sebagai saksinya. Bagus pun demi mempertahankan pertemanan mereka, dia rela mundur dan memendam perasaan cintanya kepada Laras.

Agak klise ‘kan, cinta segitiga yang terpendam?

2. Toba Dreams (2015)

Jika Doea Tanda Cinta mengambil sudut pandang kisah cinta segitiga antar perwira, Toba Dreams mengambil sudut pandang seorang ayah. Diceritakan Sersan Mayor Tebe (Mathias Muchus) yang mendidik anak-anaknya layaknya pasukan tempur karena cintanya yang luar biasa kepada mereka.

Penampilan emosional Mathias Muchus, membuatnya membawa pulang piala citra/ via youtube.com

Maka ketika Ronggur (Vino G. Bastian), anak sulungnya menjadi pemberontak dalam keluarga, terjadilah konflik mendalam antara ayah dan anak. Ronggur yang sesungguhnya mewarisi tabiat keras ayahnya menemukan cinta dalam diri Andini, seorang wanita asal Jawa yang berbeda agama.

Toba Dreams bukan saja menyelami mimpi seorang Sersan, tapi juga mampu menjalin suatu potret keluarga yang mungkin terjadi di keluarga tentara. Berbagai permasalahan muncul dan dirangkai oleh Benni Setiawan dengan sangat apik. Wajar jika Toba Dreams banyak meraih penghargaan di hampir seluruh ajang bergengsi festival tanah air saat itu.

Sebut saja Sutradara Terpuji Festival Film Bandung 2015, Pemeran Utama Pria Terpuji Festival Film Bandung 2015, Pemeran Pendukung Pria Terbaik Festival Film Indonesia 2015, dan Film Terfavorit Indonesian Movie Actor Awards 2016.

3. Pasukan Garuda: I Leave My Heart in Lebanon (2016)

Pergi diantar dengan haru, pulang membawa pilu./ via youtube.com

Film yang ini beda lagi sudut pandangnya. Film yang juga disutradarai Benni Setiawan ini menceritakan tentang kontingan Garuda yang dikirim ke Lebanon untuk misi perdamaian. Di film ini Benni lebih menyoroti konflik humanisme antara Kontingen Garuda dengan penduduk lokal. Sebagai bumbu drama ditambahkan cerita mengenai Kapten Satria (Rio Dewanto) yang bertemu dengan Rania (Jowy Qhoury), seorang guru sekolah dasar, saat Kontingen Garuda tengah berkunjung ke sekolah-sekolah guna memberikan pemeriksaan kesehatan dan informasi.

Film ini menunjukkan betapa Indonesia betul-betul menjaga salah satu semangat Undang-Undang Dasar mengenai perdamaian dunia. Beberapa cerita yang dimasukkan ke dalam film antara lain ketika Kontingen Garuda harus melerai pertikaian antara tentara Israel dengan tentara Lebanon, dan bagaimana Kapten Satria serta regunya berhasil membebaskan rekan prajurit Spanyol dari sandera pasukan Hizbullah.

Berhasil masuk nominasi Penulis Skenario Terpuji Festival Film Bandung 2016, Pasukan Garuda berakhir dengan ending yang pilu. Kalau kamu sudah nonton tentu masih ingat bagaimana adegan akhir ketika Rio Dewanto pulang ke Indonesia dan bertemu Revalina S. Temat, kekasihnya.

4. Merah Putih Memanggil (2017)

Berbeda dengan ketiga film yang sudah saya ulas di atas, Merah Putih Memanggil lebih fokus pada penceritaan tentang heroisme tentara. Film sendiri berkisah tentang operasi pembebasan sandera yang ditahan teroris. Secara garis besar, Merah Putih Memanggil adalah pertarungan tentara melawan teroris.

via MPM

Mengambil lokasi syuting di suatu tempat semacam hutan dan perbukitan, Merah Putih Memanggil berjalan dengan menegangkan. Adegan tembak-tembakan dengan tata suara yang mumpuni menjadi salah satu keunggulan Merah Putih Memanggil.

Dan untuk mengakomodir unsur dramatik, kehadiran singkat Prisia Nasution dan Happy Salma tetap mampu menguras emosi.

5. Jelita Sejuba (2018)

Ketika film lain menggunakan sudut pandang tentara sebagai poin utama cerita, Jelita Sejuba mengambil sudut pandang dari sisi kehidupan istri tentara. Jelita Sejuba mencoba menguak sisi psikologis Sarifah (Putri Marino) ketika suaminya yang seorang tentara tengah bertugas. Mulai dari kesulitan keuangan, menahan rindu, bahkan ketidakhadiran sang suami ketika ida melahirkan.

Ada apa ya dengan Sarifah?/via youtube.com

Sebuah sudut pandang baru yang dihadirkan di sinema Indonesia.

Itu dia 5 film Indonesia yang berbicara tentang tentara selama 3 tahun terakhir. Berapa film yang sudah kamu tonton?