Review Ant-Man and The Wasp (2018), Komedi Aksi untuk Melupakan Sejenak Tragedi Infinity War

Film ini bersetting dua tahun setelah insiden Civil War dan sebelum momen Infinity War. Jadi buat kamu yang bertanya-tanya dengan keberadaan si manusia semut ini karena absen di Infinity War, mungkin kamu bisa dapat jawabannya di film ini.

Mungkin ya… karena saya nggak mau kasih spoiler!

Soal sisi ceritanya, Ant-Man and The Wasp mengisahkan tentang Scott Lang (Paul Rudd) alias Ant-Man yang kini punya rekan baru dalam diri Hope van Dyne (Evangeline Lilly) alias The Wasp. Hope van Dyne ini merupakan anak dari Dr. Hank Pym (Michael Douglas). Mereka bertiga mempunyai misi untuk mengembalikan Janet (Michelle Pfeiffer) yang sebelumnya dinyatakan hilang karena menyusut ke alam kuantum.

via denofgeek.com

Ceritanya kedengaran sederhana. Tapi berhubung ini film superhero, pastinya usaha mereka bakal dipersulit oleh seorang penjahat dalam wujud Ava alias Ghost (Hannah John-Kamen) yang juga punya misi tersendiri. Iya lah, kalau nggak ada penjahat, ini film mungkin bisa selesai 15 menit.

Ant-Man and The Wasp (biar nggak kepanjangan, selanjutnya disingkat The Wasp) bisa dibilang menggunakan konsep alur maju-mundur. Walaupun begitu, eksekusi jalan ceritanya bisa tertata cukup rapi tanpa ada plot hole atau pertanyaan menggantung.

Jadi gimana nih filmnya? Well, kalau buat saya pribadi sih lumayan. Nggak jelek tapi juga nggak bagus-bagus amat. Seperti ciri khas Marvel dalam beberapa film terakhirnya, The Wasp dibuka dengan prolog singkat yang menjadi benang merah utama cerita. Nah, walaupun pembukanya langsung diisi adegan action, entah kenapa efeknya terasa kurang greget.

via digitalspy.com

Dengan durasi yang hampir dua jam, satu jam pertama dari film ini juga malah cenderung membosankan. Memang sih sempat ada aksi tambahan, apalagi pas The Wasp unjuk gigi untuk pertama kali dan bahkan langsung bertarung dengan si Ghost. Tapi selanjutnya terlalu banyak dialog, terutama ketika pembahasan teori alam kuantum yang penjelasannya nggak bisa dibilang simpel.

Untungnya setengah awal film ini diimbangi dengan porsi komedi yang pas tanpa kelewat berlebihan. Tim penulis naskah sepertinya sadar kalau franchise Ant-Man punya satu karakter ikonik dalam wujud Luis (Michael Peña) yang selalu sukses bikin ngakak dengan kelakuannya.

Lalu gimana dengan porsi Scott sebagai bintang utamanya? Nah ini justru yang saya sedikit sayangkan, karena karakterisasinya seperti terlalu berkiblat ke sisi komikal Star-Lord. The Wasp bahkan ikutan latah memasukkan beberapa lagu lawas di dalam latar adegan macam konsep Guardians of the Galaxy.

Tapi ganjalan terbesar terletak di karakter Ghost. Sebagai sosok penjahat, latar belakang si Ghost ini malah kurang bisa digali lebih dalam. Di sisi lain, dengan adanya sedikit informasi dalam adegan flashback, ditambah nasibnya di akhir film, saya sih curiga kalau karakternya mungkin bisa membantu lebih banyak di film Ant-Man selanjutnya. Kita tunggu saja prediksi pribadi saya ini.

via cbr.com

Setelah Infinity War berakhir dengan cukup kelam, mungkin kamu bisa sedikit tarik nafas untuk bisa tertawa sejenak sekaligus melupakan tragedi ‘lenyapnya’ para superhero lewat sajian yang ada di The Wasp. Bumbu drama, action, serta komedinya pun bisa berjalan dengan lancar tanpa terasa tumpang tindih ataupun dipaksakan. Meminjam ucapan Deadpool dalam Deadpool 2, The Wasp mungkin juga termasuk film keluarga.

Sedikit saran: kalau kamu nonton film ini di bioskop, mending langsung keluar dari studio pas kelar mid-credit scene. Soalnya bagian post-credit nggak penting sama sekali. Beneran deh. Prove yourself cause I really mean it.

Ant-Man and The Wasp merupakan film terakhir MCU yang dirilis di tahun 2018 sebelum berlanjut ke film Captain Marvel dan Infinity War bagian kedua yang bakal rilis 2019. Kamu sendiri puas nggak sama film terakhir MCU di tahun 2018 ini? Atau malah nggak sabar nunggu Infinity War bagian kedua?