Review Aruna & Lidahnya: Lebih dari Sekadar Parade Kuliner

Lantas bagaimanakah cerita dari film adaptasi novel karya Laksmi Pamuntjak ini bergulir?

via grid.id

Cerita bermula dari Aruna (Dian Sastrowardoyo) seorang ahli wabah yang ditugaskan untuk menginvestigasi kasus flu burung di empat lokasi; Surabaya, Pamekasan, Pontianak dan Singkawang. Di satu sisi, sahabatnya Chef Bono (Nicholas Saputra) mengajaknya untuk berkuliner di daerah-daerah tersebut. Chef Bono bahkan sudah membuat daftar tempat kuliner yang bisa mereka kunjungi.

Parade Kuliner Nusantara

Nusantara yang kita tinggali ini memang luas dan kaya akan keanekaragamannya, pun dengan kulinernya. Di sinilah Aruna & Lidahnya memanfaatkan kekayaan kuliner nusantara buat mengajak kita eksplorasi kuliner di empat lokasi tersebut. Mulai dari rawon khas Surabaya, campur lorjuk (Pamekasan), pengkang (Pontianak), dan choi pan (Singkawang). Penata kamera, Amalia TS, memperlihatkan kelihaiannya dalam membingkai makanan nusantara sehingga tampil begitu menggoda, walaupun kita hanya melihatnya lewat layar lebar.

Satu keunggulan lainnya, saat adegan parade makanan tersebut muncul, Aruna & Lidahnya tak perlu menghadirkan banyak kata dan dialog. Sejatinya parade hidangan itu lebih berfungsi sebagai latar untuk menyelami konflik antar karakter, yang justru lebih asyik dinikmati dibanding kulinernya itu sendiri.

Cinta itu (bukan) buta, tapi…..menerima!

Dalam perjalanan mereka, Aruna dan Bono ternyata nggak sendirian. Mereka pun ditemani dua karakter lain, yakni Nad (Hannah Al-Rashid), seorang pengulas makanan yang tinggal di luar negeri, dan Farish (Oka Antara), teman lama yang ditaksir Aruna sejak mereka sekantor bareng.

Spoiler dikit ya. Jadi, Bono itu diceritakan naksir sama Nad, tapi dia nggak berani ngungkapin. Begitu juga Aruna yang naksir Farish tapi kemudian urung karena Farish punya pacar baru.

Orang punya rahasia gak ya seperti aku? Kalau ada gimana solusinya?/ via youtube.com

Konflik dalam diri pribadi masing-masing inilah yang jadi salah satu daya tarik dari Aruna & Lidahnya. Perjalanan mereka pun akhirnya semakin membuka rahasia masing-masing karakter. Seperti kata-kata inspiratif yang sering kita temui di media sosial, cinta memang harus dibarengi dengan keterbukaan dan kejujuran. Seseorang butuh dua hal itu untuk membuktikan apakah cintanya itu cuma cinta buta atau suatu penerimaan diri.

Seakan mempertegas pesannya bagi penonton yang masih belum bisa lepas dari masa lalu, Aruna & Lidahnya langsung menyelipkan lagu lawas Aku Ini Punya Siapa dari suara indah Januari Christy begitu film dimulai. Seiring berjalannya durasi, film pun makin dipermanis lagi dengan lagu Tentang Aku milik Jingga yang dinyanyikan ulang Fe Utomo, dan Antara Kita versi Monita Tahalea yang dulu sempat dipopulerkan Rida Sita Dewi.

Empat Cast yang Natural

Kolaborasi Dian Sastrowardoyo, Oka Antara, Hannah Al-Rashid dan Nicholas Saputra adalah salah satu hal terbaik di tahun ini yang bisa kita lihat dalam dunia perfilm tanah air. Penampilan mereka berempat di Aruna & Lidahnya memang terlihat selayaknya teman. Mereka ngobrol dengan cara yang sangat natural, nggak ada sedikit pun kesan dibuat-buat. Penampilan merekalah yang seringkali bikin saya terhubung dengan obrolan-obrolan ringannya, mulai dari teori makanan hingga teori Big Bang.

Akan banyak adegan Dian Sastro menatap kamera yang bikin kita gregetan – Cewek yang makan mie ayam itu juga punya peran yang penting dalam film ini

Dian Sastro yang tak hanya berperan sebagai pemain, tapi juga sebagai narator yang berbicara langsung pada penonton, mampu menyajikan akting yaang bikin geregetan. Saya selalu dibuat senyum-senyum kecil oleh aksi Dian Sastro tatkala kamera menyorot wajahnya. Tak mudah lho akting hanya dengan eskpresi tanpa bantuan dialog. Sebagaimana film adalah bahasa gambar, Dian Sastro menyampaikan pesan film dengan eskpresi yang sangat memuaskan.

Sedangkan Nicholas Saputra? Dalam film ini dia dapat tantangan baru berperan sebagai chef. Namun jika saya perhatikan dari menit awal, hampir tidak ada adegan yang menunjukkan dia utuh sebagai seorang chef. Terkadang kamera hanya menyoroti setengah badan Nicholas dengan tangan yang memegang wajan, lalu kamera pindah ke wajan yang dipegang oleh Nicholas. Tak ada adegan utuh yang memperlihatkan Nicholas betul-betul sedang memasak dalam layar penuh.

Aksi memasak Chef Bono memang sedikit di awal durasi film. Dan hal itu juga membuat saya ingin menyaksikan kembali aksinya, sekedar untuk memperkuat praduga saya salah. Apalagi kalau saya mengingat adegan di akhir film, saat Chef Bono meminta izin pada penjual nasi goreng untuk memasak sendiri.

Mereka lebih cocok dipasangkan sebagai teman daripada sebagai pasangan/via youtube.com

Nah, silakan diperhatikan, lagi-lagi pola kameranya berulang. Adegan kembali tak menampilkan gambaran utuh yang memperlihatkan Nicholas jago masak. Saya jadi lebih percaya kemampuan Chef Rama (Koki-koki Cilik) dibanding Chef Bono dalam hal masak-memasak.

Ngalor ngidul yang penting bareng temen dan sambil makan

Jujur saja, Aruna & Lidahnya tak terlalu menggugah saya untuk mencoba satu persatu makanan yang ada di layar. Tapi… Aruna & Lidahnya bikin saya kangen setengah mati sama momen-momen ketika saya kulineran bareng teman diselingi ngobrol-ngobrol gak jelas. Punya teman yang punya hobi sama dan dan bisa diajak main bareng itu anugerah tak ternilai lho.

“Tapi, apa sih yang mereka obrolkan?”

Lupakan saja soal pembahasan flu burung, sebagaimana Farish yang menyangsikan keseriusan Aruna untuk menangani kasus flu burung yang jadi konflik awal dari film ini.

Salah satu scene terbaik di Aruna & Lidahnya. Obrolannya hangat dan mengalir/via Palari Films

Ada satu adegan yang sangat berkesan bagi saya, yakni ketika mereka berempat makan nasi cui di pelabuhan di Surabaya. Mereka berbincang-bincang mulai dari rasa makanan, vaksin halal, agama, hingga ngomongin temen yang mungkin sedang izin sebentar menerima telepon dari orang lain atau sekadar ke toilet. Dan coba lihat saja bagaimana Nad menuduh Farish sebagai orang ketiga dari rumah tangga orang lain, hanya dilihat dari gaya ia menerima telepon.

“Hidup itu seperti makanan, kalau dimakan sendiri-sendiri, lo bisa ngerasa seasin-asinnya atau sepahit-pahitnya. Tapi kalau dimakan bareng, ia akan mengeluarkan jati diri yang sesungguhnya”

Nah, coba ingat-ingat kembali, pernahkah kita kulineran bareng temen, tapi mesennya beda menu biar bisa saling icip?

Dari obrolan mereka, film yang naskahnya ditulis Titien Wattimena ini membawa saya pada arti sebuah perjalanan. Suatu perjalanan mungkin tak akan mengubah sesuatu hal, tapi ia menawarkan sebuah makna. Sejauh apa pun kita pergi, lidah kita akan tetap menganggap masakan terbaik adalah masakan ibu. Tempat terbaik adalah rumah, dan satu-satunya alasan kita pergi jauh adalah PULANG!

Terima kasih telah menyuguhkan satu tontonan yang menaril, Aruna & Lidahnya. Buat kamu sendiri, saya tunggu pendapat kamu tentang film ini nanti. Mulai Kamis, 27 September 2018, Aruna & Lidahnya tayang di bioskop!