Review Arwah Tumbal Nyai: Awal yang Buruk untuk Sebuah Trilogi

Dan di tahun 2018 ini, Raffi berhasil mengajak istrinya bermain dalam The Secret: Suster Ngesot Urband Legend. Tak sampai di situ, Raffi pun mampu mengkolaborasikan Tyas Mirasih dan Ayu Tingting dalam film Dimsum Martabak dengan mengusung bendera RA Pictures.

Saat menonton film Dimsum Martabak inilah saya disuguhkan trailer Arwah Tumbal Nyai yang melibatkan kembali Ayu Tingting, yang juga ditemani Dewi Persik dan Zaskia Gotik. Yang tak disangka, ternyata Arwah Tumbal Nyai adalah sebuah trilogi. Artinya, Raffi Ahmad sudah mempersiapkan dua film lagi.

via youtube.com

Sekadar menghabiskan rasa penasaran, maka saya beranikan nonton seri pertama dari trilogi ini yang mengusung judul Arwah Tumbal Nyai the Trilogy: Part Arwah.

Apakah Arwah mampu mengundang rasa penasaran untuk nonton 2 seri selanjutnya?

Cerita film ini bermula dari Syurkiani (Zaskia Gotix) yang ingin belajar menari jaipong, tapi selalu dilarang oleh neneknya (Minati Atmanegara). Syurkiani (yang merupakan nama asli Zaskia Gotix dengan sedikit modifikasi), pun diam-diam memutuskan belajar pada Nyi Imas (Dewi Gita), seorang penari jaipong di kampungnya. Awalnya Nyi Imas menolak mengajari Syurkiani, meskipun akhirnya hatinya luluh dengan syarat Syurkiani harus memukul gendang sebanyak tiga kali.

Tapi sebelum itu, ada satu dialog menarik di antara mereka. Jadi ceritanya, Nyi Imas bertanya ke Syurkiani, “Mau apa kamu ke sini?”

Syurkiani menjawab, “Nyi Imas, pasti tahu di mana mama saya berada.”

“Pergi kamu!” jawab Nyi Imas.

Tahu apa jawaban yang diberikan Syurkiani? Ini dia: “Kalau Nyi Imas, tidak tahu di mana mama saya, ajari saya menari jaipong.”

Ini baru permulaan film, tapi dialog awalnya saja sudah bikin kening saya berkernyit. Apa coba hubungannya menari jaipong dengan pencarian mamanya!? Apa!? Apalagi dari awal niat Syurkiani ini memang ingin latihan jaipong kan!?

Syurkiani akhirnya diajari menari Jaipong oleh Nyi Imas, setelah memukul gendang 4 kali/ via youtube.com

Ya sudahlah, saya coba untuk bersabar. Dialog tersebut saya coba ingat dalam memori. Siapa tahu di penghujung durasi film saya bisa dapat koherensinya. Adakah koherensinya? Dan memangnya mamanya Syurkiani itu menghilang kemana?

Awal Mula Teror

Ternyata Syurkiani tidak memukul gendang sebanyak tiga kali. Dia dapat bonus 1 kali pukulan. Itu dilakukan karena Syurkiani sudah diingatkan Bi Idah (Inggrid Widjanarko), jika bermain ke rumah Nyi Imas jangan memukul gendang tiga kali. Memukul gendang tiga kali itu akan memanggil hantu… katanya.

Tapi rupanya, neneknya tiba-tiba meninggal setelah Syurkiani memukul gendang empat kali. Setelah itu, teror pun mulai berdatangan pada diri Syurkiani. Siapa yang meneror?

Latihan dulu bahasa Indonesia yang baik ya/ via youtube.com

Dibantu kekasihnya, Shakti (Shakti Arora) dan sahabatnya Lidia (Lia Wa Ode) mereka berusaha mencari penyebab teror yang menimpa Syurkiani. Pemilihan Shakti, aktor India, jelas sesuatu yang harus dipertanyakan. Jangankan membantu Syurkiani atau menampilkan emosi khawatir akan kekasihnya, sekedar melafalkan dialog saja dia masih terbata-bata.

Dalam usaha mereka mencari penyebab teror, semakin terlihat pula kalau Arwah tak memiliki amunisi yang matang dan solid. Mereka harus bolak-balik ke rumah Nyi Imas untuk mengetahui penyebab dan mencari petunjuk. Sutradara Arie Azis (Ular Tangga, The Secret Suster Ngesot Urband Legend) terkesan gagal dalam menjaga kesinambungan antara adegan demi adegan.

Coba bayangkan saja, kadang mereka bertiga pergi ke rumah Nyi Imas, kadang berdua dengan formula yang beda-beda. Kadang Shakti dan Syurkiani, kadang Lidia dan Syurkiani yang pergi. Ampun dah, selama salah satu dari tiga karakter itu menghilang, ke mana coba mereka pergi? Padahal mereka masih ada dalam satu jalinan waktu. Dan hal ini terjadi sepanjang film.

Benda ini menjadi kunci dalam film/via youtube.com

Kontinuitas yang tak terjaga rapi juga terlihat dari cara kerja penata editing yang sering memotong adegan (melakukan transisi) dengan layar hitam. Seakan editornya sendiri kesulitan dalam membangun cerita yang ingin disampaikan. Seringkali saya lihat scene pindah ke sana kemari tanpa pernah ada satu hubungan yang jelas. Dan alih-alih menampilkan twist, hingga akhir film saya tak menemukan jawaban apa pun atas konsep editing yang seperti ini.

Teror yang hadir pun tak pernah tersusun dengan baik. Tak ada pembangunan emosi dalam terornya; yang ada hanya kemunculan hantu tak terduga yang dilengkapi tata musik mengagetkan olahan Tya Subiakto. Padahal di satu sisi, Tya begitu efektif ketika memasukan musik etnik Sunda di beberapa bagian.

Yah, begitulah Arwah. Sepanjang film saya tak benar-benar menemukan bagaimana jalinan kisah yang ingin disampaikan dalam film ini. Bahkan latar belakang penyebab teror pun hanya dijelaskan lewat narasi tanpa ada usaha lagi untuk menceritakannya secara adegan. Tapi ini masih lebih baik lah daripada ending Ruqyah, yang hanya diakhiri oleh sebuah poster.