Review Buffalo Boys (2018), Kisah Koboy Dalam Melawan Penjajah di Tanah Jawa

Sinopsis

via liputan6.com

Buffalo Boys mengisahkan tentang kakak beradik Jamar (Ario Bayu) dan Suwo (Yoshi Sudarso) yang kembali ke Indonesia setelah diungsikan ke luar negeri, tepatnya California. Mereka kembali bersama pamannya, Arana (Tio Pakusadewo) ke kampung halamannya dan menyadari jika tanah kelahiran dikuasai oleh kolonial Belanda yang dipimpin Van Trach (Reinout Bussemaker). Mereka pun berusaha menuntut balas sambil menegakkan keadilan bagi masyarakat.

Banyak nama besar dengan karakter yang kurang membekas dan disia-siakan

Ekspektasi saya terhadap film ini mungkin terlalu ketinggian. Buffalo Boys (BB) berakhir menjadi film yang too overrated dengan limpahan pemain yang disia-siakan. Ya, BB bisa dibilang merupakan sebuah proyek besar dan ambisius. Hal ini bisa dilihat dari barisan nama pemain yang terhitung cukup besar dalam perfilman Indonesia. Tapi faktor ini malah jadi bumerang terbesar dalam film yang menjadi debut penyutradaraan seorang Mike Wiluan.

Poin paling dasar yaitu tentang eksplorasi karakter. Semua nama besar malah menjadi tumpang tindih hadir keroyokan untuk sekadar berbagi layar. Hal ini bahkan diperburuk dengan susahnya saya mengingat nama-nama mereka. Secara pribadi, jujur saya hanya bisa mengingat nama Jamar-Suwo-Arana karena mereka trio utamanya, serta Van Trach yang menjadi sosok antagonis. Karakter-karakter pendukung dan minor lain terlupakan oleh saya begitu saja. Well, enggak semuanya sih soalnya saya juga bisa mengingat nama Sri (Mikha Tambayong) dan Seruni (Happy Salma) karena mereka berdua cukup mencuri perhatian meski singkat, ditambah nama karakternya yang emang gampang diingat.

Editor’s Pick

  • Epic Banget! Yuk, Kenalan Dengan Phoenix Jones Sang Superhero Di Dunia Nyata!
  • Wow! Ternyata Adegan di 5 Film Ini Punya Versi Berbeda di Sejumlah Negara
  • Sssttt…6 Film Yang Berdasarkan Kisah Nyata Ini Ternyata Gak Setepat Kenyataannya!

Lalu, gimana dengan yang lain? Banyaknya nama besar yang bermain disini malah jadi terasa kurang ngena untuk sekedar bersimpati pada karakternya. Selain Tio Pakusadewo dan Happy Salma, BB diisi oleh nama sekelas El Manik dan Donny Damara dalam jajaran pemain senior. Nama-nama lain yang terhitung familiar diisi oleh Mike Lucock, Donny Alamsyah, Alex Abbad, Zack Lee, hingga Hannah Al Rashid berakhir menjadi macam tempelan belaka; bahkan pesona Pevita Pearce pun luntur.

Usaha Pevita dalam memerankan Kiona yang bisa dianggap jadi pemain wanita utama juga menurut saya tidak sebagus saat dia main Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.

Liatin apa sih? Kok serius banget/via kapanlagi.com

Selain itu, dari semua nama yang ada, saya benar-benar menyayangkan kehadiran seorang Sunny Pang yang bahkan enggak dapet kebagian jatah dialog sama sekali!

Semua nama ini menjadi tanda tanya besar bagi saya setelah beres nonton. Kok bisa ya saya lebih tertarik dengan karakter seorang wanita tua yang duduk di depan pintu bar? Akting si ibu sukses bikin mata saya berkaca-kaca meski hadir tanpa sepatah kata pun.

Kisah fantasi dalam durasi singkat beralur cepat

Film diawali dengan narasi teks yang seolah menekankan jika film ini murni fiksi. Bakal aneh juga sih kalau iya ada koboy masuk Indonesia dan bertarung melawan penjajah dengan bersenjatakan pistol. Tapi, jika film ini dibedah lebih lanjut, memang banyak hal ganjil yang muncul di dalamnya. Lagi-lagi yang menjadi isu adalah karakternya.

Penjajah Belanda yang fasih berbahasa Inggris/via hiburan.metrotvnews.com

Tanpa menyebut persis letak setting, intinya kisah BB berlatar di Tanah Jawa karena menampilkan bangunan Candi. Hal ini diperkuat dengan adanya warga yang berbicara dengan logat Bahasa Jawa. Yang bikin saya heran, kenapa Van Trach yang notabene orang Belanda malah berdialog dalam Bahasa Inggris alih-alih Bahasa Belanda? Dialog antar karakternya juga beberapa kali terdengar kaku karena kurang luwes berbicara menggunakan bahasa formal sesuai jamannya.

BB yang memiliki durasi 102 menit ini juga menjadi suatu kendala tersendiri. Durasi BB kehitung singkat apalagi film ini memiliki alur yang bergerak cukup cepat. Kesinambungan adegan juga terasa bertele-tele bahkan beberapa terasa dipaksakan kalau enggak mau dibilang gak masuk akal. Lah gimana ceritanya Suwo yang disuruh beli obat malah berakhir ngobrol dengan Kiona, berlanjut ke adegan berkelahi, lalu… lalu nonton sendiri aja ya daripada spoiler.

Editing dalam pergantian scene terhitung kurang smooth dan bikin kurang nyaman saat nonton. Hal ini juga diperburuk dengan lemahnya visual efek yang ditampilkan dalam film dengan kentara.

Editor’s Pick

  • Totalitas Tanpa Batas! 7 Aktris Cantik Ini Rela Latihan Keras Demi Peran Dalam Filmnya
  • 11 Momen saat Figuran dalam Film Lebih Mencuri Perhatian ketimbang Aktor Utama
  • 7 Fakta Tentang ‘Shaolin’ yang Jarang Diketahui Orang, Beda Banget Sama Filmnya!
via comicsverse.com

Walaupun demikian, seenggaknya BB bisa tampil cukup baik dari segi sinematografi dan scoring dalam membangun intensitas emosi. Kelebihan lain yang patut diapresiasi juga terkait production design yang udah milih banyak lokasi indah, lengkap dengan set bangunan khas tempo dulu.

Akhir kata

Di antara banyaknya film horror buatan Indonesia yang bergeliat kembali, Buffalo Boys emang bisa menjadi angin segar tersendiri dalam ranah perfilman Indonesia. Buat kamu yang suka film action lokal (dengan citarasa Hollywood) ala The Raid mungkin bisa terhibur meski dalam koridor aksi yang terbilang berbeda.

Yah, kapan lagi ngeliat koboy nyasar ke Indonesia untuk ngelawan penjajah?