Review Christopher Robin, Adaptasi Live Action dengan Cerita yang Mengharu Biru

Sambil nunggu proyek Aladdin dan Mulan yang bakal dirilis tahun depan, kamu bisa nonton Christopher Robin dulu sekarang. Buat yang belum nyadar, Christopher Robin merupakan adaptasi dari buku cerita Winnie the Pooh karangan A. A. Milne dan E. H. Shepard. Meskipun ini jadi adaptasi live action pertama, Pooh dan kawan-kawan pernah juga diadaptasi ke dalam lima film animasi sebelumnya; The Many Adventures of Winnie the Pooh (1977), The Tigger Movie (2000), Piglet’s Big Movie (2003), Pooh’s Heffalump Movie (2003), dan Winnie the Pooh (2011).

Apakah film Christopher Robin bisa menghibur penonton dewasa yang ingin bernostalgia dengan kisah beruang berkaus merah yang senang makan madu ini?

Pendewasaan karakter dan cerita

Bukan Disney namanya kalau nggak bikin inovasi dalam filmnya. Christopher Robin juga nggak lepas dari inovasi terkait dengan penggambaran karakter Robin yang bukan anak-anak lagi seperti dalam bukunya. Kalau kamu ingat, konsep kayak gini pernah diangkat sih sebelumnya dalam Alice in Wonderland versi tahun 2010.

Tapi beda dengan Alice in Wonderland yang mungkin masih bisa dinikmati oleh anak-anak, Christopher Robin membawakan cerita yang lebih cocok dinikmati penonton dewasa. Hal ini bisa dianggap wajar kalau kita memandang film ini sebagai bahan nostalgia bagi pembaca bukunya dulu. Gimana nggak, kisah Winnie the Pooh pertama kali dirilis pada tahun 1926. Saya sendiri bahkan belum lahir di tahun tersebut.

Sesuai judulnya, film ini lebih menitikberatkan cerita pada karakter Christopher Robin (Ewan McGregor). Siapa sih Christopher Robin? Dia adalah anak laki-laki yang sering berkunjung ke Hutan Acre Woods untuk bermain bersama teman-temannya: Pooh, Piglet, Eeyore, Tigger, Owl, Rabit, Kanga, dan Roo.

via disney.wikia.com

Dibuka dengan prolog dalam bentuk animasi yang menceritakan persahabatan Robin dan teman-temannya di Hutan Acre Woods, di sini penonton diberi gambaran betapa bahagianya Robin sebagai seorang anak kecil yang hidupnya dengan penuh canda dan tawa tanpa harus memikirkan permasalahan hidup.

Namun Robin yang sejatinya seorang manusia akhirnya sadar kalau kehidupan terus bergerak maju. Dia harus bersekolah, menikah, mempunyai anak, dan bekerja. Robin yang awalnya digambarkan ceria jadi sering terlihat murung dan kaku, bahkan melupakan teman-temannya di Hutan Acre Woods.

Editor’s Pick

  • Seperti Ini Epiknya Winnie The Pooh Jika Ada Di Dunia Nyata, Bikin Speechless!
  • Totalitas Tanpa Batas! 7 Aktris Cantik Ini Rela Latihan Keras Demi Peran Dalam Filmnya
  • Sssttt…6 Film Yang Berdasarkan Kisah Nyata Ini Ternyata Gak Setepat Kenyataannya!
via gq.com

Saat Robin mencapai titik tersebut, dia secara nggak sengaja malah bertemu Pooh. Alih-alih bahagia, Robin malah terganggu dengan hadirnya Pooh yang membawanya kembali ke Hutan Acre Woods dan bertemu teman-temannya yang lain. Nasib siapa yang sangka. Justru pertemuan antara Robin dan teman-teman masa kecilnya inilah yang akhirnya membantu Robin untuk menemukan makna kebahagiaan dari hidup yang dia jalani.

Lebih ngena ditonton penonton dewasa

via imdb.com

Christopher Robin mungkin kurang cocok ditonton anak-anak terkait inti cerita yang diangkat di dalamnya. Tapi kalau kamu pengen bawa anak, adik, atau ponakan yang masih kecil, seenggaknya mereka masih bisa diajak ketawa lihat kelakuan Pooh dan kawan-kawan. Saya berulang kali dibikin ketawa kecil lihat kelakuan Pooh saat merajuk minta dibelikan balon. Atau ketika Pooh bermain ‘mengucapkan apa yang dilihat’ sepanjang perjalanan di dalam kereta.

Namun di balik kelucuan yang disajikan Pooh dan kawan-kawannya, Christopher Robin cenderung hadir sebagai adaptasi yang gloomy dibanding bahagia. Itu dilengkapi juga dengan suasana yang berwarna gelap cenderung abu.

via aftercredits.com

Kita sebagai penonton dewasa mungkin bakal ikut merasakan peliknya kehidupan dari sudut pandang Christopher Robin, paham dengan keadaan yang dialaminya. Ya, Christopher Robin sama dengan kita, orang dewasa yang punya banyak tanggung jawab daripada sekedar bersenang-senang di dalam imajinasinya. Seperti gimana susahnya menghadapi masalah di kantor atau rumah tangga, yang intinya menggambarkan bahwa kehidupan nyata nggak seindah seperti yang dibayangkan waktu kecil.

Christopher Robin merupakan film yang lebih dari sekadar bahan nostalgia masa kecil. Dengan melihat sosok dewasa Christopher Robin, kamu bisa diam sebentar untuk ikut merenungi apakah yang kamu lakukan sekarang bisa bikin diri sendiri dan orang di sekitar bahagia.

Sedangkan Pooh… dia merepresentasikan kalau manusia juga butuh waktu untuk diam sejenak menikmati kehidupan, tanpa memikirkan apa pun. Yup, doing nothing often leads to the very best kind of something.

Karena selalu fokus terhadap masalah hidup terkadang malah bikin kita lupa sama diri sendiri, iya ‘kan?