Review Crazy Rich Asians: Kisah Cinta Terhalang Materi ala FTV dalam Kemasan Budaya Etnis

Premis ala FTV

via hollywoodreporter.com

Crazy Rich Asians menceritakan tentang Rachel (Constance Wu) yang berkunjung ke kampung halaman pacarnya, Nick (Henry Golding) di Singapura. Kedatangan mereka bukanlah untuk liburan, melainkan karena Nick diminta jadi pendamping di pernikahan sahabatnya, Colin (Chris Pang). Namun perjalanan yang seharusnya terlihat menyenangkan itu seketika berubah jadi mimpi buruk bagi Rachel. Kehadirannya di tengah keluarga besar Nick yang ternyata berasal dari keluarga tajir melintir dianggap sebagai ancaman.

Salah satu tentangan terbesar bagi hubungan Rachel dan Nick datang dari Eleanor (Michelle Yeoh), ibu dari Nick yang memandang sebelah mata Rachel karena dia bukan berasal dari keluarga berada. Dengan dibantu sahabatnya, Peik Lin (Awkwafina), Rachel pun mencoba memahami latar belakang keluarga Nick, sambil tetap bertahan menjalani hubungan atas nama cinta tanpa memandang kekayaan Nick semata.

Betul ‘kan? Premis ceritanya hampir-hampir mirip FTV?

Tipikal adaptasi dari novel yang mengalami perubahan dalam filmnya

via ew.com

Saya pribadi antusias banget saat nunggu kehadiran film yang diangkat dari novel best seller karangan Kevin Kwan ini. Penasaran juga melihat gimana sutradara Jon M. Chu dan timnya menyulap deretan kata-kata yang ada di tiap helai novel ke dalam bentuk visual. Untungnya gambaran setting dalam novel bisa diterjemahkan dengan baik di versi filmnya ini. Mulai dari rumah kediaman keluarga Goh, lokasi pesta bujang Colin dan Araminta, hingga rumah pusaka keluarga Nick yang disebut Tyersall Park benar-benar memanjakan mata saya sebagai pembaca novelnya.

Namun satu hal yang disayangkan. Sama seperti kebanyakan film adaptasi, eksplorasi karakter jadi satu hambatan bagi film ini. Ya, menuangkan kisah dalam lembaran novel yang terdiri dari kata-kata ke dalam bentuk visual memang bukan hal yang gampang.

Meski cerita utamanya mengisahkan Rachel dan Nick, Crazy Rich Asians sejatinya berisi banyak karakter yang saling berkaitan satu sama lain. Tapi akibat kendala durasi, karakter lain seperti Kitty Pong, Edison, hingga Astrid (sepupu terdekat Nick yang paling menyambut baik Rachel), kurang bisa dieksplorasi dalam film.

Sosok Astrid dalam film/via popsugar.com

Saya sedikit kecewa dengan kurangnya eksplorasi ini sih, mengingat ketiga karakter tersebut berulang kali disinggung di dalam buku, terutama Kitty dan Astrid yang nantinya bahkan mendominasi cerita dalam buku keduanya yang berjudul China Rich Girlfriend. Semoga saja sekuelnya nanti bisa mengulas mereka berdua. Itu juga kalau buku sekuelnya diangkat ke layar lebar.

Selain masalah eksplorasi, adaptasi dari buku juga seringkali mengalami perubahan cerita saat diangkat ke dalam layar lebar. Adegan ketika Eleanor mengungkap latar belakang Rachel misalnya, konflik yang ditampilkan di dalam film terasa kurang greget. Padahal dalam novelnya, momen pembongkaran fakta-fakta keluarga Rachel terasa lumayan intens. Saya bahkan menyayangkan bagian ending yang sebenarnya malah nggak ada sama sekali di bukunya. Meskipun kalau melihat dari segi dramatisasi, adegan filmnya berhasil menghadirkan penyelesaian konflik dengan cukup greget.

Editor’s Pick

  • 10 Set Film yang Dibuat dengan Sangat Detail, Pasti Bisa Bikin Kamu Terkesima Melihatnya
  • Nggak Cuma Dipakai Saat Syuting, 6 Insan Film Ini Malah Ketahuan Mencuri Properti Penting dari Set Filmnya!
  • Jangan Tonton 10 Anime Ini Kalau Sebelumnya Tak Menyiapkan Tisu, Ceritanya Sedih Soalnya!
  • Film Child’s Play Bakal Dibuat Ulang, tapi dengan Boneka Chucky yang Lebih Modern

Film dengan unsur etnis yang kental

Crazy Rich Asians bisa dibilang merupakan satu proyek ambisius di industri perfilman Hollywood. Kamu mungkin ingat gimana Black Panther bisa jadi salah satu film sukses dengan diisi oleh barisan aktor keturunan Afrika-Amerika. Crazy Rich Asians pun ikut menggunakan pola tersebut.

Bedanya, Crazy Rich Asians dibintangi oleh pemain keturunan Tionghoa. Dan jika Black Panther menggandeng banyak nama besar, barisan aktor Crazy Rich Asians didominasi oleh nama-nama yang cenderung kurang dikenal di kancah internasional.

via themarysue.com

Terlepas dari popularitas, toh setiap pemain dalam film ini berhasil membuat interpretasi atas karakter dalam novelnya lewat performa yang ciamik. Dua acungan jempol buat aktor-aktor Crazy Rich Asians.

Unsur budaya Tionghoa dalam film ini juga diperkuat dengan pemilihan lagu-lagu dalam latar adegannya. Saya sampai geleng-geleng sendiri ketika lagu Material Girl dari Madonna, Can’t Help Falling in Love dari Elvis, hingga Yellow dari Coldplay dinyanyikan ulang dengan mengganti liriknya ke dalam bahasa Mandarin. Satu-satunya lagu berbahasa Inggris yang muncul dalam film hanya Vote yang dinyanyikan oleh Miguel. Itu pun hadir saat credit title bergulir.

Crazy Rich Asians mungkin jadi film yang termasuk kategori ‘biasa saja’ bagi sebagian penonton terkait premis klise yang dihadirkan dalam ceritanya. Meskipun begitu sisi pesan moralnya terasa kental banget. Lewat hingar bingar kehidupan borjuis satu keluarga, penonton seolah diingatkan tak sepatutnya menghakimi apalagi memandang sebelah mata orang lain hanya karena orang itu bukan berasal dari keluarga kaya raya.

Sekadar catatan kecil, Crazy Rich Asians sukses jadi film nomor satu di box office selama tiga minggu berturut-turut. Tentunya cerita klise Crazy Rich Asians terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja, bukan? Siapa tahu setelah selesai nonton kamu jadi terinspirasi liburan ke Singapura seperti Rachel.