Review Deadpool 2 (2018), Formula Lama yang Kembali Diulang

Deadpool mungkin akan menjadi satu karakter superhero yang kadung merubah citra pahlawan super pada umumnya. Citra Deadpool digambarkan slengean dan lebih bertindak “semau gue” atas setiap tindakan yang dilakukan. Hal ini juga termasuk perilaku nyinyir yang selalu terselip dalam setiap ucapan yang dilontarkan olehnya.

via foxmovies.com

Siapa pun tentu masih akan mengingat bagaimana tingkah polah Deadpool dalam film pertamanya yang sukses menghadirkan sebuah film superhero yang keluar dari pakem ‘standar superhero’ pada umumnya. Kembali dibawakan dengan konsep narasi, setelah mendeklarasikan jika film pertamanya adalah sebuah film romantis, film keduanya ini sesumbar jika Deadpool 2 sebenarnya adalah sebuah film keluarga.

Dibuka dengan adegan konyol khas Deadpool, sajian pembukanya terhitung tampil cukup manis untuk sekedar menyunggingkan senyum lewat banyolan yang tetap mengalir tanpa beban. Narasi yang diucapkan Deadpool seakan menjadi candu tersendiri karena menggunakan teknik interaktif yang seolah mengajak penonton untuk tetap duduk dan menikmati setiap porsi adegan demi adegan. Malahan penonton tanpa sadar sudah langsung diberi spoiler filmnya sedari awal dimulai.

Tim penulis naskah seolah nggak kehabisan ide untuk mengangkat bahan candaan di dalam film ini. Mulai dari referensi film lawas seperti Robocop dan The Breakfast Club, sindiran kepada sesama film superhero baik dari studio sendiri maupun pesaing dengan terang-terangan, hingga film animasi sekelas Frozen pun nggak luput dari bahan candaan slapstik yang anehnya selalu berhasil memberikan gelak tawa. Gong terbaik mungkin terletak pada  tribut untuk film James Bond yang sukses bikin geleng-geleng kepala.

Tapi terlepas dari itu semua, Deadpool 2 sebenarnya kurang menghadirkan suatu hal yang baru. Semua formula yang dihadirkan sudah dibawakan dalam film pertamanya. Seolah nggak ada usaha yang cukup berarti untuk bisa tampil lebih percaya diri selain menggandakan usaha dari sektor yang sama, yaitu komedi, gimmick, dan slapstik. Cukup disayangkan. Layaknya sebuah sekuel besar, Deadpool 2 kelewat percaya diri dan berakhir menjadi sebuah penerus franchise yang kehilangan kharisma film pertamanya.

via screencrush.com

Mungkin karena kelewat fokus memberikan sisi komedi, penulis naskah seolah abai dalam memberikan detail terkait beberapa hal dan akhirnya malah dibiarkan menggantung. Dari awal sampai pertengahan durasi, alur film terasa bertele-tele untuk bisa masuk ke dalam inti benang merah cerita.

Sisi karakter pun masih kurang dieksplorasi lebih jauh. Membawa lawan Cable yang datang dari masa depan, latar belakang sosok villain ini malah kurang terinfokan dengan baik bagi para penonton yang bukan fanboy komiknya.  Ada pula karakter Domino yang meninggalkan pertanyaan cukup janggal lewat masa lalunya yang misterius.

Begitu pun dengan hadirnya banyak karakter baru khas film sekuel yang malah kurang mendapat porsi (atau lebih tepatnya disia-siakan). Potensi beberapa karakter yang awalnya dirasa akan membawa angin segar malah keburu dipangkas demi menghadirkan unsur komedi yang sebenarnya bisa direvisi ke arah yang lebih ‘manusiawi’. Penonton mungkin tidak akan begitu menyadari tim X-Force bentukan Wade. Penonton bahkan mungkin lupa dengan nama-nama mereka selain Domino yang memang diset untuk mencuri perhatian.

Meski demikian, penonton tetap diberikan pesona baru dalam bentuk Cable (Josh Brolin) sebagai sang antagonis utama, Domino (Zazie Beetz), dan terutama sosok Russell/Firefist (Julian Dennison) yang akan menjadi kejutan tersendiri. Yang cukup disayangkan justru tidak adanya pengembangan berarti pada karakter Negasonic Teenage Warhead (Brianna Hildebrand) dan Colossus (Stefan Kapičić) yang kurang mendapat panggung lebih seperti di film pertama. Hadirnya Yukio (Shioli Kutsuna) juga patut dipertanyakan terkait timeline karena karakter tersebut sudah pernah muncul dalam The Wolverine.

via foxmovies.com

Deadpool 2 memang terhitung berhasil dalam menghadirkan setiap unsur yang diinginkan oleh penonton yang mencari sajian hiburan: paket lengkap berupa drama-aksi-komedi-ledakan-adegan eksplosif-dan sebagainya. Namun sebagai sebuah film yang berdiri sebagai bagian dari sebuah franchise besar, Deadpool 2 berakhir menjadi sebuah usaha sia-sia untuk memanjangkan ‘universe’ guna mengeruk keuntungan semata.

Nah, sekarang bagaimana pendapat kamu soal Deadpool 2?