Review Kafir (2018), Horor Berbalut Unsur Klenik yang Ternyata Cukup Mencekam

Penasaran sama film Kafir versi 2018 ini? Langsung aja kamu simak ulasannya di bawah.

Sinopsis

Ah, nooooo! Kumisnya yang rapi jadi ternodai oleh darah!/via cadaazz.com

Kehidupan satu keluarga harmonis mendadak dipenuhi teror. Semua itu bermulai ketika sang kepala keluarga (Teddy Syach), tiba-tiba meninggal dengan kondisi yang nggak wajar karena batuk darah yang dibarengi dengan keluarnya beling. Bukan, si bapak bukan keselek pas main kuda lumping, tapi disantet. Anyway, that’s a crazy way to die!

Sang ibu, Sri (Putri Ayudya) yang depresi malah ikut-ikutan dapat teror yang pelan-pelan ikut mengancam keselamatannya. Di saat yang sama, anak bungsunya, Dina (Nadya Arina) yang menyelidiki apa yang terjadi pada keluarganya mulai yakin kalau teror itu berasal dari gangguan klenik. Tapi sang kakak, Andi (Rangga Azof) nggak percaya sama hipotesis adiknya tersebut.

Bisakah keduanya menyelamatkan sang ibu dari teror gaib tersebut? Teror apa yang sebenarnya terjadi di dalam keluarga mereka? Lalu kenapa si Andi nggak percaya sama si Dina? Ayolah Andi, reaksi kamu itu terasa klise banget di film horor.

“Huh, hantu? Zaman gini masih percaya sama yang kayak gituan? Tidak! Saya hanya percaya sama sains!” Ughh… ayolah, Andi.

Mirip Pengabdi Setan? Jauh!

Kesuksesan Pengabdi Setan kayanya berdampak cukup besar ke industri perfilman Indonesia, khususnya dalam genre horor. Seperti yang bisa kita lihat, banyak rumah produksi ikutan latah dengan terus memproduksi film horor untuk dirilis di pasaran. Sisi positifnya sih sekarang nggak lagi banyak film horor berjudul aneh yang sekadar menjual sensualitas aktornya semata. Contoh: Suster Seksi Mantan Pemain Film Biru yang Suka Keramas di Tengah Malam Pakai Air Dingin. Nggak ada kerjaan nih suster…

Ya, sedikit berbeda dengan dulu. Kini lumayan banyak film horor dalam negeri yang digarap cukup serius dengan benar-benar mengedepankan aspek seram. Cukup deh basa-basinya, sekarang kita beralih ke pembasan tentang Kafir.

Kalau kamu nonton film Kafir ini, sebagian dari kamu mungkin akan menganggap kalau film ini menjiplak Pengabdi Setan. Hmm… bagi saya sih bukan menjiplak, tapi mungkin lebih ke arah terinspirasi.

Editor’s Pick

  • 5 Film Indonesia yang Paling Banjir Hujatan di Tahun 2018
  • Sssttt…6 Film Yang Berdasarkan Kisah Nyata Ini Ternyata Gak Setepat Kenyataannya!
  • Nggak Cuma Twilight, 4 Film Soal Vampir Ini Juga Bikin Baper
  • Ternyata 8 Film Disney Ini Punya Akhir Cerita Lain Yang Gak Kamu Duga Sebelumnya

Gimana enggak, beberapa elemen dalam Pengabdi Setan seolah ikut muncul di sini. Sebut saja nuansa vintage yang didukung dengan dialog, setting, dan pemilihan busana. Ditambah dengan tone warna muram beserta sinematografi yang juga mirip. Aspek lain seperti adanya unsur musik lawas lewat piringan hitam (ditambah penggunaan piano) turut mendukung kesamaan antara dua film tersebut. Penampilan Sri yang beberapa kali muncul dengan baju berwarna putih juga mirip dengan karakter Ibu dalam Pengabdi Setan.

via indeksnews.com

Eh, banyak juga ya ternyata kemiripannya.

Meski demikian, premis dan plot dari Pengabdi Setan dan Kafir jauh berbeda. Kafir lebih menitikberatkan jalan cerita lewat karakter sang ibu dan anak-anaknya, beserta Jarwo sang dukun. Beda dengan Pengabdi Setan yang hanya berfokus pada karakter anak-anaknya saja.

Nah, karakter dukun ini sebenernya tokoh sentral di dalam versi lawasnya. Tapi saya menyayangkan kenapa porsinya malah jadi sedikit di Kafir versi terbaru. Saya pikir bakal ada adegan macam versi terdahulunya dengan menampilkan si dukun duduk di atas bara api sambil menyeringai dan tertawa seram, tapi ternyata nggak ada. Tapi dengan Sujiwo Tejo, karakterisasi dukun ini nyatanya bisa hadir dengan sangat baik.

Dalam Kafir juga penonton semacam diberi unsur horor psikologis yang tampil minimal dalam memberikan jumpscare, lengkap dengan scoring menggelegar yang ditujukan untuk menakut-nakuti. Penonton seolah digiring untuk ikut merasakan teror yang menimpa keluarga tersebut dan ikut mencari tahu misteri apa yang sebenarnya terjadi di dalamnya.

Singkatnya sih, kalau kamu suka film horor yang minim jumpscare macam Hereditary, Kafir bisa jadi pilihan yang tepat. Soalnya Kafir bukan tipe film horor yang rajin menampilkan hantu sepanjang durasinya. Tapi ketika hantunya muncul, satu studio langsung geger.

Remake atau reboot? Toh hasilnya cukup bagus

Secara pribadi, saya cukup mengantisipasi film ini sejak materi promosinya disebarluaskan. Gimana nggak, Kafir versi tahun 2002 merupakan film horor pertama yang saya tonton sewaktu kecil. Saya ingat dulu maksa minta nonton Kafir, meski akhirnya saya menyesal. Ya, saya masih ingat betapa seramnya film tersebut ketika saya tonton sewaktu kecil. Padahal kalau ditonton ulang sekarang, nggak serem-serem amat sih sebenarnya.

via metrotv.com

Seperti yang saya bilang sebelumnya, sampai beres nonton pun saya masih bingung apa Kafir versi 2018 ini terhitung remake atau reboot. Benang merah yang sama dalam film versi lawas dan modern adalah keduanya sama-sama punya karakter dukun santet, yang secara kebetulan juga diperankan oleh orang yang sama, Sujiwo Tejo. Tapi dengan jalan cerita dan juga karakter yang berbeda jauh, mungkin versi 2018 ini lebih bisa dikategorikan sebagai reboot dibanding remake. Kalau dulu dukunnya bernama Kuntet sekarang namanya jadi Jarwo.

Kesimpulannya, Kafir bisa digolongkan dalam tontonan horor yang cukup memuaskan meski belum bisa dikatakan sempurna. Film ini terbilang digarap dengan cukup maksimal kalau mau dibandingkan dengan versi lawasnya. Mungkin karena perkembangan zaman juga yang membuat versi 2018 ini mengalami ‘modernisasi’ meski tampil dengan nuansa klasik.

Kekurangan Kafir salah satunya karena masih terdapat plot hole yang menggantung. Dengan durasi berkisar 1,5 jam, film ini berjalan dengan alur yang cepat tapi kurang tertata rapi dalam menyampaikan kejutan di akhir film. Jujur, twist di penghujung durasi malah sudah bisa saya tebak sejak pertama kali nonton trailer filmnya.

Tapi dengan tambahan twist lagi di bagian ending yang mengindikasikan kemungkinan sekuel, bukan nggak mungkin film ini juga bisa memiliki lanjutannya di masa yang akan datang. Meskipun yah… saya sendiri lebih pengin lihat prekuelnya yang lebih banyak mengulas karakter si dukunnya sih.

Apa kamu setuju dengan ulasan saya? Atau kamu punya pendapat lain tentang film Kafir ini? Saya pengin tahu pendapat kamu. Tulis saja di kolom komentar ya.