Review Liam dan Laila: Berusaha Mendobrak Adat Pernikahan di Minangkabau

Sering mendengar obrolan tetangga tentang seorang yang sudah dianggap cukup umur tapi belum menikah? Terlebih jika yang jadi bahan pembicaraan adalah perempuan. Tak peduli apakah perempuan tersebut punya pendidikan dan karier yang cemerlang, tetangga malah dibuat semakin semangat dalam bergunjing. Dianggap terlalu memilih lah, gak laku lah, padahal menikah bukan perkara siapa cepat dia dapat.

Mungkin fenomena itulah yang jadi dasar bagi karakter Laila (Nirina Zubir), seorang perempuan Minangkabau berusia 31 tahun yang masih betah sendiri. Beberapa laki-laki lokal pernah ditolak keluarga besarnya, karena mereka hanya tamatan SMA. “Mau makan apa kamu, kalau menikah sama dia?”.

Begitulah kiranya keadaan Laila, hingga datangnya seorang pria asing dari Prancis, Liam, yang sungguh-sungguh berniat ingin melamar Laila.

Bagaimana perjuangan Liam selanjutnya? Semua itu ada di film terbaru produksi Mahakarya Pictures, Liam dan Laila.

Bermula dari Facebook

Perkenalan Laila dan Liam bermula dari Facebook. Liam yang penasaran dengan aksi teror di Prancis yang mengatasnamakan Islam berusaha mencari jawaban. Dari situ, Liam terhubung dengan Laila. Laila pun menjelaskan dengan detail mengenai Islam yang membuat Liam justru tertarik; tertarik dengan Islam pun dengan Laila. Kesungguhan Liam juga dibuktikan dengan kedatangannya ke Minangkabau, Indonesia.

“Saya Alexander William,” begitulah kalimat perkenalannya pada orangtua dan paman Laila.

Jamil (David Chalik), paman Laila, yang semula keras tiba-tiba menjadi baik hati. Maksudnya sih baik, mungkin penyampaian intonasi, karakter dan mimik dari Jamil yang bisa membuat penonton salah interpretasi/ via youtube.com

Ternyata harapan tak semudah yang dibayangkan. Liam harus memperjuangkan kisah cinta dan keyakinan terhadap agama barunya dalam waktu 30 hari sebelum dideportasi.

Mempertahankan adat dan kritik birokrasi

“Kau boleh pendidikan tinggi, jabatan tinggi di pemerintahan, tapi di sini, saya yang memutuskan.”

Mak Tuo sebagai perempuan tertua di Rumah Gadang menjadi penentu keputusan setiap musyawarah yang dilakukan, termasuk masalah pernikahan Laila. Dalam budaya Minangkabau yang menganut sistem matrilineal, memang wanita memiliki peranan lebih penting.

Mak Tuo curigaan mulu. Terus apa yang membuat Mak Tuo yakin? Sunat!. / via youtube.com

Mak Tuo terlampau curiga terhadap Liam, yang disangkanya masuk ke Minangkabau untuk mempelajari kelemahan Islam. Kecurigaan Mak Tuo sebenarnya bisa menjadi bahan yang menarik, jika dikembangkan menjadi salah satu konflik. Sayangnya, poin-poin yang dilontarkan dalam film ini tak pernah betul-betul jadi kegelisahan si pembuat film.

Pilihan mempertahankan adat di paruh awal, membuat tokoh Liam harus dibenturkan dengan birokrasi. Liam tidak pernah tahu apa yang terjadi di Rumah Gadang, apa yang mereka musyawarahkan, dan segala hal yang terjadi di rumah tersebut.

Liam hanya diberikan konflik dengan ribetnya mengurus dokumen pernikahan. Ada-ada saja alasan yang digunakan pemerintah untuk menjegal Liam masuk Islam dan menikah dengan Laila. Pilihan tokoh Pak Rizal di KUA hingga paman Laila (David Chalik) yang marah, sama sekali tak berhasil menyampaikan kritik birokrasi yang terjadi di negeri ini. Alih-alih menyampaikan kritik, yang ada hanya segudang adegan tak berdasar.

Penggunaan Bahasa Minangkabau

Saya selalu mengapresiasi film-film yang berusaha mengangkat cita rasa lokal ke layar lebar. Begitu juga dengan Liam dan Laila yang sebagian besar menggunakan bahasa Minangkabau dengan subtitle bahasa Indonesia. Namun saya tak terganggu, mengingat bahasanya pun mudah dimengerti. Selain itu, para pemain pun tampak meyakinkan dalam melafalkan bahasa Minangkabau.

Nirina Zubir (memang berdarah Minang) pun harus belajar kembali bahasa Minangkabau lengkap dengan dialeknya. Kenapa? Ya karena tak semua orang yang memiliki keturunan suatu daerah pun bisa bahasa tersebut. Saya contohnya. Mengusung marga Lubis di belakang nama, tapi kadang saya malu karena tak bisa berbahasa Mandailing. Hehe

Meleleh abang, dek, disenyumin gitu/ via youtube.com

Selain berbahasa Minangkabau, tantangan lebih diberikan kepada Nirina untuk berbahasa asing seperti Inggris dan Mandarin, mengingat Nirina berperan sebagai pedagang online di film tersebut.

Dari deretan pemain yang ada, menurut hemat saya justru Liam (Jonatan Cerrada) yang paling bersinar di antara yang lain. Ia tak tertatih ketika harus menjelaskan alasannya masuk Islam dalam Bahasa Indonesia dan logat aslinya. Atau bagaimana ketika kamera menangkap ekspresi bahagianya selepas ia mengucap dua kalimat syahadat.

Membaik di akhir film

Berjalan dengan durasi sekitar 94 menit, saya agak kesulitan menangkap fokus karakter yang ingin ditonjolkan oleh Liam dan Laila. Perjuangan Liam yang ditemani Pian (Praz Teguh) lebih dominan diceritakan, sementara batin Laila tidak digali. Penceritaannya terlalu tumpang tindih antara satu adegan ke adegan lain tanpa pernah ada ikatan yang pasti.

Pian ini ya, lucu enggak, garing iya./ via youtube.com

Coba perhatikan saat Liam tiba-tiba harus dikejar satpam karena dituduh tidak mau membayar biaya sunat di rumah sakit? Atau kamera yang close up wajah seorang anak kecil di masjid? Apa maksudnya?

Namun… Arief Malinmundo selaku sutradara tidak sepenuhnya kehilangan gairah dalam bercerita. Pada paruh film ketika Liam dan Laila menikah, Arief justru mampu melalukan komposisi agar semua yang terlihat di layar menjadi bermakna. Coba perhatikan bagaimana Arief memposisikan tiga karakter kakaknya yang tidak ingin ambil bagian dalam pernikahan Laila. Menarik bukan?

Jika tak bisa bertemu dalam raga, mungkin kita akan berjumpa dalam doa. Beneran terharu pas adegan ini./ via youtube.com

Bahkan, hingga akhir film, penceritaan bergulir dengan baik. Momen Laila pamit terhadap ibunya adalah salah satu (kalau tak ingin dibilang satu-satunya) momen terbaik yang dimiliki Liam dan Laila.

Dengan ending Laila mengikuti suaminya, membuktikan Liam dan Laila sebetulnya tak hanya ingin memotret melainkan juga mendobrak adat. Tak selamanya perempuan harus tinggal di rumah Gadang selepas menikah. Sayangnya dengan penceritaan dan fokus yang kurang menggali budayanya itu sendiri, maksud baik film ini tak tersampaikan seutuhnya.