Review Sebelum Iblis Menjemput (2018), Mencekam tapi Kurang Original

Nggak tanggung-tanggung, Sebelum Iblis Menjemput menggandeng dua aktris cantik Chelsea Islan dan Pevita Pearce sebagai pemeran utamanya. Tapi seperti yang dibilang kakek saya dulu, “Film horor yang dibintangi artis cantik ya percuma saja kalau nggak ada serem-seremnya.”

Lantas, bisakah Sebelum Iblis Menjemput tampil dengan seram?

Sinopsis

Maya (Pevita Pearce) menghubungi saudara tirinya, Alfie (Chelsea Islan), setelah ayah mereka, Lesmana (Ray Sahetapy) jatuh sakit dan berada dalam kondisi koma. Alfie akhirnya pergi ke vila ayahnya demi mencari petunjuk mengenai sang ayah. Konon kabarnya, vila tersebut sering didatangi Lesmana sebelum dia dibuat tak berdaya karena penyakitnya.

via rariamedia.com

Di vila itulah kemudian dia bertemu Maya yang datang bersama ibunya, Laksmi (Karina Suwandi) serta dua saudara tirinya yang lain Ruben (Samo Rafael) dan Nala (Hadijah Shahab). Alih-alih menemukan petunjuk, kelimanya malah mengungkap satu hal yang sengaja ditutupi oleh Lesmana, sesuatu yang akhirnya mengancam nyawa mereka dengan teror yang mencekam.

Teror sepanjang film dengan esensi gore yang minimalis

Melihat barisan film yang pernah digarap oleh Timo Tjahjanto sebelumnya, elemen gore dan darah bermuncratan bukanlah sebuah kolaborasi yang aneh. Kedua elemen tersebut kembali hadir dalam Sebelum Iblis Menjemput, meski dalam taraf yang minimalis alias nggak sebanyak dalam Rumah Dara.

Meski mengurangi kadar penggunaan dua aspek andalannya tersebut, Timo Tjahjanto berhasil menggantinya dengan dua hal lain. Pertama, sisi artistik benar-benar didukung lewat pergerakan kamera dan sinematografi. Kedua, visualisasi yang dimaksimalkan lewat intensitas horor yang mencekam

via republika.com

Intensitas tersebut langsung dibangun sedari awal film dimulai. Mungkin hal ini dimaksudkan agar penonton bisa langsung memahami dengan apa yang akan terjadi kemudian, alih-alih memberikan kebingungan dari sudut pandang para karakter utamanya.

Meski terbilang singkat, prolog tersebut seolah ingin menunjukkan pada penonton jika bakal banyak teror yang lebih ekstrem nantinya. Dan nyatanya memang demikian. Satu per satu teror bermunculan sepanjang durasi hingga film berakhir. Sebagai penggemar horor, saya pribadi sangat menikmati keseruan sinematik ini karena terus dihibur dengan eksekusi gila yang hadir bertubi-tubi.

Kalau mau dibandingkan dengan Pengabdi Setan dan Kafir, Sebelum Iblis Menjemput (SIM) terhitung lebih jor-joran dalam hal menampilkan sosok hantu. Beberapa kali muka sang hantu muncul di satu layar penuh tanpa harus malu-malu kucing. Gokil!

Editor’s Pick

  • Review The Meg (2018), Pertunjukkan One Man Show ala Jason Statham
  • Lupakan Dulu MCU dan DCEU, Godzilla Cinematic Universe Bakalan Muncul Loh!
  • Ingat Empat Survivor di Film Zombieland? Mereka Akan Bergabung Kembali di Zombieland 2!

Sosok Laksmi yang mencuri perhatian dibanding dua karakter utamanya

Setiap pemain dalam film ini punya porsi yang pas untuk ikut menghidupkan film dengan baik. Pevita Pearce yang aktingnya terlihat kaku di awal durasi akhirnya bisa tampil lebih luwes, terutama menjelang film berakhir. Sedangkan Chelsea Islan…

Sama seperti Pevita Pearce, Sebelum Iblis Menjemput merupakan pengalaman pertamanya bermain dalam film horor. Bedanya, Chelsea Islan mampu tampil apik sejak menit pertama dia muncul, meski dalam beberap kesempatan mimik ketakutannya agak terllihat dipaksakan.

via idntimes.com

Tapi saya agak sedikit heran dengan karakterisasi Pevita dengan Chelsea. Mereka berdua memerankan karakter Maya dan Alfie yang notabene saudara tiri, dengan Alfie sebagai kakak tertuanya. Melihat fakta tersebut, sosok mereka berdua malah jadi keliatan seumuran tanpa nunjukin kesenjangan usia yang signifikan.

Sosok Nala sebagai satu-satunya karakter anak kecil terbilang nggak begitu penting, meski sedikit ‘membantu’ dalam hal penambahan karakter yang bisa mendapat teror. Tapi akan lebih baik jika Maya diceritakan hanya punya satu adik saja: Ruben. Jadinya karakter Ruben bisa dieksplorasi lebih dalam, bahkan bisa tampil lebih menonjol karena menjadi satu-satunya karakter pria di dalam film.

Karina Suwandi sebagai sosok Laksmi/via id.bookmyshow.com

Tapi dari semuanya, Karina Suwandi yang justru paling mencuri perhatian. Karakter Laksmi yang diperankannya tampil sangat hidup dan mencuri spotlight, terlebih saat dirinya mendapat teror dan mengalami kejadian ‘seperti itu’. Bisa dibilang sosok Laksmi-lah yang bakal saya terus ingat di dalam film ini meski porsi tampilnya terbilang sedikit.

Hadir dengan kurang original

Kalau mau dibandingkan dengan Rumah Dara yang terbilang bisa tampil fresh, SIM anehnya kurang menampilkan sesuatu hal yang baru. Eksekusi SIM bikin saya keingetan dengan beberapa film horor Hollywood yang menampilkan elemen serupa, bahkan dieksekusi dengan beberapa kemiripan yang sama.

Di paruh awal film misalnya, ada dua adegan yang sekilas menampilkan gambar subliminal macam yang ada dalam The Exorcist. Lalu saat teror di rumah mulai bermunculan, saya malah langsung teringat sama Evil Dead, lengkap dengan beberapa adegan yang eksekusinya mirip dengan film besutan Sam Raimi tersebut.

Jangan buka pintu yang sengaja dikunci/via tirto.id

Bagian akhir cerita pun bikin saya reflek nyengir sendiri, karena merasa bagian akhir itu mirip dengan adegan dalam Drag Me to Hell. Ngomong-ngomong, apa cuma perasaan saya saja yang merasa kalau background scoring-nya sekilas mirip Tubular Bells yang jadi anthem dari The Exorcist?

Yup, dengan semua kegilaan yang ditampilkan Sebelum Iblis Menjemput, entah kenapa ada sedikit ganjalan pas setelah saya beres nonton film ini. Berbeda ketika dulu saya bisa tersenyum puas setelah nonton Rumah Dara.

Tapi melihat eksekusi yang dilakukan dalam Sebelum Iblis Menjemput, kayaknya standar film horor Indonesia bener-bener naik dengan signifikan. Film horor Indonesia bakal butuh usaha lebih ke depannya untuk bisa menandingi kualitas yang diberikan Pengabdi Setan, Kafir, dan juga Sebelum Iblis Menjemput.