Review Venom: Karakter yang Tampil Komikal, Cerita yang Membingungkan

Sebagai sebuah debut solo, penonton tentunya mengharapkan sebuah sajian yang bisa menjelaskan tentang asal usul Venom. Tapi apa yang ditampilkan dalam filmnya malah terasa berbelit dan kurang mendapatkan kejelasan berarti.

Debut solo Venom dengan fokus cerita yang membingungkan

via imdb.com

Film dibuka dengan prolog yang mengisahkan awal mula simbiot alien bisa masuk ke bumi karena terbawa pesawat luar angkasa. Dengan mengambil latar Malaysia sebagai tempat jatuhnya pesawat, setting film lalu berpindah ke California. Pun dengan jalan cerita yang kini beralih fokus mengisahkan Eddie Brock (Tom Hardy) sebagai karakter utama.

Dan di sinilah awal mula masalah film ini dimulai…

Porsi cerita simbiot dan Eddie terasa tumpang tindih karena adegan berulang kali berganti fokus. Kalau nggak menceritakan tentang satu simbiot yang lepas di Malaysia, film menyoroti kehidupan Eddie sebagai wartawan yang punya pacar bernama Anne Weying (Michelle Williams).

Oh iya, ngomong-ngomong ada empat simbiot yang diceritakan menyusup ke bumi. Kalau kamu bertanya kenapa simbiot yang lepas di Malaysia itu berulang kali mendapatkan porsi khusus di dalam film, jawabannya bisa kamu temukan menjelang penghujung film.

Tapi lupakan dulu soal simbiot. Hingga sekitar 40 menit selanjutnya, film terus berputar-putar menceritakan Eddie. Ya, film sudah menyentuh menit keempat puluh, dan Venom belum muncul sama sekali.

via holllywoodreporter.com

Konflik akhirnya baru mencuat ketika Eddie mencoba mengungkap satu kasus kriminalitas yang dilakukan Carlton (Riz Ahmed), orang yang diduga menjalankan percobaan misterius. Ketika Eddie berhasil menyusup ke laboratorium dengan bantuan Dr. Dora Skirth (Jenny Slate), di sanalah Eddie akhirnya ketempelan simbiot yang betah bersemayam dalam tubuhnya.

Apa film mulai berjalan seru? Nggak juga. Setelah simbiot Venom masuk ke dalam tubuhnya, Eddie  secara nggak langsung jadi punya kemampuan di atas manusia normal. Mulai dari memanjat gedung bertingkat, kejar-kejaran di jalanan, hingga menghabisi lawan sambil memakan kepala korban.

Namun di sini saya juga sedikit heran. Kalau memang si simbiot bisa mengendalikan inangnya dan melakukan banyak aksi di luar nalar, kenapa dua simbiot lain yang sudah menempel dengan inang nggak mampu melarikan diri dengan menghancurkan lapisan kaca pembatas di laboratorium?

Kalau bicara soal jalan cerita, plot dalam Venom terasa aneh dan membingungkan bagi saya pribadi. Venom seperti ingin memasukkan terlalu banyak hal. Mulai dari Eddie Brock, simbiot Venom itu sendiri, sampai ketiga simbiot lain yang sebenarnya juga punya cerita tersendiri kalau merujuk pada komiknya.

Editor’s Pick

  • Review Munafik 2 dan Karakter Abu Jar yang Jadi Sumber Banyaknya Pertanyaan Menggantung
  • Gemas! Seperti Ini Jadinya Ketika Evolusi Ikon Budaya Pop Dalam Film Dari Masa Ke Masa Ini Dibuat Jadi Chibi
  • Review The Nun: Film Terlemah dari Keseluruhan Conjuring Universe
  • Review Slender Man (2018), Teror Membingungkan yang Mengesampingkan Sosok Slender Man Itu Sendiri

Venom tampil sangar, tapi gemar melucu

Bagaimana dengan adegan aksinya?

via popsugar.com

Untuk ukuran film superhero (atau anti-hero), Venom seperti menggarapnya dengan setengah hati. Adegan kejar-kejaran di pertengahan durasi memang berjalan seru. Tapi sinematografi serta sudut pandang pergerakan kameranya nampak asal take shoot, yang penting ledakannya kelihatan. Hal itu ikut diperburuk dengan penggunaan CGI dan visual efek yang nampak cheesy. Kombinasi kedua hal tersebut akhirnya malah menjatuhkan adegan pertarungan puncak yang harusnya terlihat keren malah jadi kurang berkesan.

Venom sebenarnya punya kesempatan emas untuk tampil gahar seperti penampilannya. Tapi karena dibawakan dengan bumbu komedi, imej cadas Venom malah jadi berkurang. Sebagian jokes memang bisa bikin ketawa. Seperti saat Venom meledek Eddie yang memilih turun dengan eskalator dibanding loncat misalnya. Tapi banyak juga guyonan lain yang malah garing karena terkesan dipaksakan.

Belum lagi saat melihat kehadiran Venom seperti tak ubahnya seorang mentor yang menata kembali hidup Eddie ke arah lebih baik, mulai dari mengembalikan rasa percaya diri sampai berusaha menyatukan kembali hubungan Eddie dan Anne yang kandas.

Ini alien atau pakar asmara!?

She-Venom dalam komik/via pinterest.com

Tapi satu hal minor yang patut diperhatikan adalah hadirnya karakter Anne yang jadi semacam fan service bagi fanboy komiknya. Anne hadir bukan cuma sebatas sosok love interest dari Eddie; meski kemunculannya singkat, tapi dia juga berperan sebagai She-Venom.

Kamu sendiri termasuk yang suka atau malah kurang puas sama hasil dari proyek solo Venom ini?